Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Pemerintah

65 Warga Binaan Lapas Kendari Ikuti Program Pendidikan, Kejar Paket B hingga Progam S1

65 Warga Binaan Lapas Kendari Ikuti Program Pendidikan, Kejar Paket B hingga Progam S1
Warga Binaan Lapas Kelas IIA Kendari saat menerima pembelajaran. Foto: Kendariinfo. (2/5/2025).

Kendari – Semangat mengejar pendidikan diperlihatkan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari. Meski memiliki keterbatasan gerak, 65 warga binaan yang terlibat masalah hukum tetap memilih menempuh pendidikan untuk masa depan.

Melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang diinisiasi oleh Lapas Kelas IIA Kendari, 65 narapidana itu dapat menempuh pendidikan meski di balik jeruji besi dengan mengambil program paket B dan C.

Kepala Lapas Kelas IIA Kendari, Herman Mulawarman mengatakan, program pendidikan tersebut tak terlepas dari hadirnya kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Kendari dan pihak terkait.

“Kami bekerja sama dengan memberikan pendidikan kesetaraan di dalam Lapas ini, di mana sudah berjalan kurun waktu empat bulan, dan alhamdulillah pengajar dari SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) dan warga binaan ikut berperan aktif di dalamnya,” ucap Herman kepada awak media, Jumat (2/5/2025).

Dalam kegiatan pendidikan kesetaraan itu, warga binaan yang mengambil program paket B berjumlah 25 orang dan paket C 40 orang. Namun, untuk keseluruhan program jumlahnya mencapai 88 orang, terhitung dengan periode sebelumnya.

Tak hanya program paket B dan C, Lapas Kelas IIA Kendari juga memberikan kesempatan kepada warga binaan yang hendak menyelesaikan studi S1.

“Seperti beberapa bulan lalu dari perguruan tinggi melaksanakan ujian skripsi di Lapas ini bagi warga binaan yang sudah akan menyelesaikan pendidikannya, karena terputus di luar, jadi mereka menjalani pidana dan mengikuti ujian di sini,” jelasnya.

Baca Juga:  Dari Pulau Jawa-Bali ke Bandara Haluoleo: Vaksin Tidak Lengkap, Wajib PCR

Sementara itu, Kepala SKB Kota Kendari, Sarjan mengungkapkan, kurikulum yang diberikan mengacu pada aturan pemerintah pusat. Namun, karakteristiknya berbeda karena pembelajaran nonformal.

“Muatan-muatan pembelajarannya itu sama, kurikulumnya juga yang kita gunakan sama, tetapi karakteristiknya itu berbeda, karena ini pembelajaran nonformal, sehingga di sini kita menggunakan pendekatan yang sangat persuasif sekali, terutama dengan warga binaan,” tegas Sarjan.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten