Disbunhorti Tetapkan 10 Komoditas Perkebunan Unggulan Sultra 2025, Ini Daftar dan Sebaran Wilayahnya

Kendari – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Perkebunan dan Hortikultura (Disbunhorti) menetapkan sepuluh komoditas unggulan hasil perkebunan yang akan menjadi fokus pengembangan pada tahun 2025. Komoditas-komoditas ini dinilai memiliki potensi ekonomi tinggi serta sebaran luas di berbagai kabupaten/kota di Sultra.
Kepala Disbunhorti Sultra, La Ode Muhammad Rusdin, menjelaskan bahwa penetapan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong ketahanan ekonomi daerah berbasis potensi lokal, sekaligus mendukung program hilirisasi yang terintegrasi antara pusat dan daerah.
Adapun sepuluh komoditas unggulan yang ditetapkan adalah jambu mete, kakao, kopi, kelapa, kelapa sawit, lada, pala, cengkih, tebu, dan sagu.
“Kesepuluh komoditas ini dipilih karena memiliki nilai ekonomi strategis dan tersebar luas di berbagai wilayah di Sulawesi Tenggara,” kata Rusdin di Kendari, Jumat (20/6/2025).
Ia mencontohkan, jambu mete menjadi salah satu komoditas dengan penyebaran paling luas, terutama di daerah kepulauan seperti Muna, Muna Barat, Buton Tengah, Bombana, dan Konawe Selatan. Komoditas ini juga telah masuk dalam rencana hilirisasi dengan target pembangunan pabrik pengolahan dan perluasan areal tanam.
Kakao, sebagai komoditas unggulan lainnya, banyak dibudidayakan di Kolaka Timur, Kolaka Utara, Kolaka, Konawe, Muna, dan Bombana. Kelapa menjadi andalan di Muna, Bombana, Kolaka, dan Konawe Selatan, sementara kelapa sawit telah dikembangkan di wilayah daratan Sultra.
Untuk komoditas rempah seperti lada dan pala, sentra budidayanya berada di Konawe, Konawe Selatan, Kolaka Timur, serta beberapa wilayah di daratan. Sedangkan cengkih tersebar di Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur.
Komoditas tebu dan sagu juga masuk dalam daftar unggulan karena potensinya yang terus berkembang, meski saat ini masih dalam tahap intensifikasi dan perluasan areal tanam.
Rusdin menambahkan, di luar sepuluh komoditas utama tersebut, masyarakat juga mengembangkan tanaman perkebunan lain seperti karet, kemiri, vanili, enau, asam jawa, pinang, jarak pagar, kapuk, dan nilam. Namun, komoditas-komoditas ini belum masuk dalam prioritas pengembangan utama tahun 2025.





