Pemprov Sultra Siapkan Intervensi untuk Petani Nilam, Dorong Hilirisasi agar Tak Hanya Dijual Mentah

Kendari – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) akan memberikan intervensi khusus bagi petani nilam yang telah disusun dalam road map Pemprov Sultra pada periode 2026 – 2030. Langkah ini bertujuan agar komoditas unggulan tersebut tidak lagi hanya dijual dalam bentuk minyak mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah.
Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, Laode Muhammad Rusdin Jaya, mengatakan kebijakan untuk petani nilam selama ini masih minim. Karena itu, pihaknya akan memperkuat dukungan kebijakan selama lima tahun ke depan agar industri hilir nilam bisa berkembang di daerah.
“Selama ini kebijakan untuk petani nilam masih minim. Ke depan, melalui kepemimpinan Bapak Gubernur Sultra, kita akan intervensi untuk pengembangan nilam agar tidak hanya dijual dalam bentuk minyak mentah hasil sulingan,” kata Rusdin, Rabu (17/9/2025).
Ia mengeklaim, Sultra merupakan penghasil nilam terbesar secara nasional sehingga memiliki peluang besar untuk meningkatkan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian. Untuk itu, hilirisasi akan didorong dalam skala kecil hingga besar di sentra-sentra produksi.
Selain hilirisasi, Pemprov Sultra akan mendorong penetapan harga acuan nilam oleh pemerintah pusat. “Kita akan jaga harga supaya petani menanam nilam dengan kepastian. Jangan sampai bulan ini harga Rp2 juta, bulan depan turun Rp500 ribu. Harus ada harga patokan agar petani tidak dirugikan,” jelasnya.
Rusdin menegaskan, pencapaian program akan dievaluasi setiap tahun berdasarkan Nilai Tukar Petani (NTP) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). “Bantuan yang kita berikan seperti benih dan pupuk harus berdampak pada peningkatan NTP. Itu indikator utama yang akan kita jaga dari 2026 hingga 2030,” tegasnya.
Ia berharap, intervensi ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga melahirkan pelaku UMKM baru yang mengolah produk turunan nilam. “Kita ingin ada hilirisasi yang membuka lapangan kerja, mendorong pertanian modern, dan menciptakan pengusaha muda berbasis perkebunan,” pungkasnya.





