Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Muna

Dandim Muna Keluhkan Tarif Buruh Pelabuhan Raha, Sebut Lebih Mahal dari Sewa Mobil

Dandim Muna Keluhkan Tarif Buruh Pelabuhan Raha, Sebut Lebih Mahal dari Sewa Mobil
Komandan Kodim (Dandim) 1416/Muna, Letkol Inf. Salman Hasibu. Foto: La Ode Muhammad Ismail/Kendariinfo. (6/4/2026).

Muna – Komandan Kodim (Dandim) 1416 Muna, Letkol Inf. Salman Hasibu, mengeluhkan tingginya tarif buruh di Pelabuhan Nusantara Raha yang bahkan disebut lebih mahal dibandingkan biaya sewa mobil. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi menghambat minat investor untuk masuk dan menanamkan modal di wilayah Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Menurutnya, biaya operasional di pelabuhan merupakan komponen penting yang selalu diperhitungkan investor sebelum memutuskan masuk ke suatu daerah. Jika ongkos tenaga kerja bongkar muat dinilai terlalu tinggi dan tidak kompetitif dibanding daerah lain, maka hal itu akan memengaruhi perhitungan bisnis para pelaku usaha.

Salman mengatakan, harga buruh di Pelabuhan Nusantara Raha terbilang sangat tinggi dan penetapan tarifnya cenderung sesuai keinginan mereka.

“Kenapa transportasi laut itu agak susah masuk di daerah Kabupaten Muna terutama, karena kenapa, banyak keluhan-keluhan yang saya sendiri mengalami saat ini bahwa memang buruh kami itu terlalu tinggi bayarannya,” ujarnya kepada Kendariinfo saat ditemui di Rujab Bupati usai Musrenbang, Senin (6/4/2026).

Saat itu ia mengaku kaget ketika mendengar tarif buruh yang hendak mengangkut material untuk pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Pasalnya, biaya buruh tersebut disebut lebih mahal dibandingkan harga sewa mobil.

“Jumlah pembayarannya itu yang bikin saya keluhkan itu karena kami kan ada material yang masuk, bayangkan saja kami sewa mobil Rp700 ribu, tetapi saya harus mengeluarkan sampai Rp900 ribu hanya untuk buruhnya saja,” ungkapnya.

Baca Juga:  Melaju Cepat, Honda Brio Tabrak Mitsubishi Pajero di Kendari

Bahkan kata dia, biaya buruh di Pelabuhan Nusantara Raha disebut sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia. Menurutnya, hal ini disebabkan adanya beberapa faktor.

Seperti misalnya tidak adanya bantuan peralatan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna. Kemudian yang kedua karena belum terorganisir.

Salman juga menjelaskan, pelabuhan menjadi pintu utama keluar masuk barang. Ketika biaya di titik ini sudah tinggi, maka akan berdampak langsung pada daerah.

“Kenapa saya sampaikan seperti ini, supaya ke depan itu material-material atau barang-barang dari luar bisa masuk ke Kabupaten Muna,” katanya.

Kondisi ini, lanjutnya, perlu menjadi perhatian bersama, baik pemerintah daerah, pengelola pelabuhan, maupun pihak terkait lainnya. Ia menekankan perlunya komunikasi dan evaluasi agar tarif yang berlaku tetap memperhatikan kesejahteraan buruh, namun di sisi lain tidak memberatkan iklim investasi.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten