Telepon Sambil Nangis Pukul 03.20 Wita, Polisi Gagalkan Aksi Nekat IRT di Kendari

Kendari – Tim Patroli Perintis Presisi Direktorat Samapta (Ditsamapta) Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) menggagalkan aksi nekat seorang ibu rumah tangga (IRT) yang hendak mengakhiri hidupnya di Jembatan Teluk Kendari, Jumat (14/8/2026) dini hari.
Peristiwa tersebut bermula saat polisi menerima panggilan melalui WhatsApp dari seorang wanita sekitar pukul 03.20 Wita. Dalam panggilan tersebut, wanita itu terdengar menangis dan meminta bantuan petugas untuk mengambil sepeda motornya kemudian mengantarkannya kepada sang suami.
Dantim Patroli Perintis Presisi Ditsamapta Polda Sultra, Boy Sagita, mengatakan wanita tersebut saat itu menyampaikan rencana untuk melakukan aksi nekat di Jembatan Teluk Kendari.
“Dia sambil menangis meminta kepada kami untuk mengambil motornya dan mengantarkannya kepada suaminya karena berencana melakukan aksi nekat di Jembatan Teluk Kendari,” kata Boy.
Mendapat informasi tersebut, petugas kemudian berupaya menenangkan wanita tersebut melalui sambungan WhatsApp. Polisi juga mengajaknya untuk bertemu hingga akhirnya disepakati pertemuan di depan Halte SMPN 1 Kendari.
Setelah bertemu, petugas yang didampingi polisi wanita (polwan) berusaha menenangkan wanita tersebut. Petugas kemudian mendengarkan cerita dan persoalan yang tengah dihadapinya.
“Sambil terisak-isak, wanita tersebut kemudian menceritakan persoalannya kepada kami,” ujarnya.
Boy menuturkan, petugas melakukan pendekatan selama sekitar satu jam. Wanita tersebut kemudian berhasil diyakinkan untuk kembali ke rumah dan bersedia persoalannya dibantu untuk dimediasi.
Setelah luluh, wanita tersebut akhirnya bersedia kembali ke rumah bersama petugas. Sekitar pukul 04.30 Wita, tim tiba di kediamannya dan disambut oleh sang suami.
Di rumah tersebut, petugas kemudian mempertemukan keduanya dan memberikan imbauan agar persoalan yang dihadapi keluarga tersebut dapat diselesaikan dengan baik.
Setelah situasi dinilai aman dan kondusif, petugas meninggalkan kediaman tersebut. Boy berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan persoalan keluarga dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik.
“Setelah clear, kami meninggalkan rumah tersebut. Mudah-mudahan kejadian tersebut tidak terulang lagi di kemudian hari,” pungkasnya.





