Harvest Moon Terlihat di Langit Kendari Malam Ini, Puncaknya 23.43 Wita

Kendari – Fenomena harvest moon atau bulan panen dapat disaksikan dari Kota Kendari dan wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Sabtu (26/9/2026) malam dengan mata telanjang. Bulan mulai terbit sekitar pukul 17.45 Wita dan akan tampak lebih jelas setelah langit gelap sekitar pukul 19.30 Wita.
PMG Madya Stasiun Geofisika Kendari, Imanuela Indah Pertiwi, mengatakan masyarakat dapat mengamati fenomena tersebut selama kondisi cuaca cerah dan langit tidak berawan.
“Pada hari Sabtu, 26 September 2026, bulan terbit mulai pukul 17.45 Wita, namun fenomena harvest moon lebih bagus terlihat saat langit sudah sangat gelap sekitar pukul 19.30 Wita dan puncaknya pada pukul 23.43 Wita,” kata Imanuela kepada Kendariinfo, Sabtu (26/9).
Menurutnya, harvest moon tidak memiliki bentuk yang berbeda dari bulan purnama pada umumnya. Sebutan tersebut muncul karena waktu terjadinya berdekatan dengan fenomena ekuinoks pada 23 September 2026.
“Fenomena harvest moon dapat dilihat dengan mata telanjang jika langit cerah dan tidak berawan, karena ketampakan bulan saat itu merupakan bulan purnama seperti biasanya, hanya saja waktu terjadinya berdekatan dengan fenomena equinox tanggal 23 September, sehingga disebut sebagai harvest moon,” ujarnya.
Waktu kemunculan harvest moon di wilayah Sultra hampir sama, meski terdapat perbedaan beberapa menit pada waktu terbit dan puncaknya di setiap daerah.
Mengutip laman BMKG, Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu menjelaskan harvest moon merupakan sebutan tradisional untuk bulan purnama yang waktunya paling dekat dengan ekuinoks musim gugur di belahan bumi utara.
“Ekuinoks terjadi ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Fenomena tersebut membuat durasi siang dan malam di hampir seluruh wilayah bumi berlangsung relatif sama, yakni sekitar 12 jam,” katanya, Jumat (25/9).
Istilah Harvest Moon berasal dari kebiasaan petani di Eropa dan Amerika Utara sebelum listrik digunakan secara luas. Cahaya bulan purnama yang terang membantu petani memperpanjang waktu memanen hasil pertanian hingga malam hari.
BMKG juga mengingatkan masyarakat di wilayah pesisir untuk memperhatikan kondisi pasang air laut. Posisi bulan, matahari, dan bumi yang hampir segaris dapat memperkuat gaya gravitasi dan memicu pasang purnama.
Kondisi itu dapat menyebabkan permukaan air laut mengalami pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dibandingkan keadaan normal.





