Merasakan Sensasi Berenang Bersama Ubur-Ubur di Danau Lohia, Muna

Muna – Ingin berenang bersama ubur-ubur dengan bebas? Atau belum pernah melihat hewan cantik ini secara langsung? Yaps kali ini Kendariinfo bersama traveler kece Arvan Muliawan (@arvanmuliawan) akan mengajak Anda merasakan sensasi bermain bersama ubur-ubur di sebuah danau yang terletak di Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Umumnya, hewan cantik ini merupakan momok yang menakutkan bagi orang-orang yang berwisata ke laut karena akan mengeluarkan sengatan yang cukup ekstrem, bahkan bisa menyebabkan nyawa melayang.
Namun, berbeda dengan ubur-ubur di danau ini. Mereka tidak menyengat sama sekali sehingga wisatawan yang ingin berinteraksi langsung bisa berenang bersama mereka.

Bagi Anda pencinta olahraga selam dan snorkling bisa menjadi satu list catatan perjalanan. Walaupun tempat ini jarang dikunjungi wisatawan lokal, namun para traveler-traveler kece yang menyukai tantangan dan sederet selebritas tanah air sudah pernah mengunjunginya.
Danau tersebut cukup tersembunyi dari balik keindahan Danau Napabale. Namun objek wisata yang cukup jarang diekspos wisatawan luas ini ternyata menawarkan keindahan dan eksotisme yang memukau mata.
“Danau ubur-ubur ini menawarkan suasana yang nyaman, adem, dan menggugah hati. Kemungkinan ada ratusan ribu ubur-ubur yang bersahabat dengan wisatawan,” kata Arvan Muliawan seorang traveler Sultra kepada Kendariinfo, beberapa waktu lalu.
Menurut Arvan, terdapat 7 danau ubur-ubur di Indonesia yang dikenal luas dan menjadi buruan para traveler. Dari jumlah itu, Pulau Sulawesi menyumbang 3 tempat yakni Kabupaten Banggai Laut dan Togean Sulawesi Tengah dan Muna Sultra. Di Lohia ini sebenarnya ada 2 danau ubur-ubur, namun satu di antaranya jarang terekspos karena kondisi airnya yang kurang bagus.
“Kalau di Indonesia itu kurang lebih ada 7 lokasi danau ubur-ubur. Untuk di Sulawesi sendiri itu ada 3 seperti Togean dan Banggai Laut Sulawesi Tengah, di Sultra ada di Lohia, Kabupaten Muna. Di Lohia ini sebenarnya ada dua tapi yang paling terekspos itu hanya satu yang tempat ini,” ujarnya.
Ubur-ubur yang mendiami danau ini dominan berwarna kuning dengan ukuran yang bervariasi. Mulai dari ukuran kecil sebesar kuku hingga kepalan tangan orang dewasa.
“Saya kurang tahu juga berapa jumlah ubur-ubur di sana tapi prediksi itu ratusan ribu ekor lah. Ubur-ubur yang mendiami tempat ini berwarna kuning orange. Ukurannya bervariasi paling besar itu seukuran kepalan tangan orang dewasa sampai yang kecil mungil. Karena indukan beranak terus pasti ada yang kecilnya,” pungkasnya.
Arvan mengungkapkan ubur-ubur yang mendiami tempat ini dipastikan jauh dari bahaya. Sehingga aman untuk didekati, bahkan disentuh sekalipun. Namun saran yang baik tidak perlu menyentuh ubur-ubur karena memiliki kerentanan tubuh yang rawan.
“Sebenarnya kenapa ubur-ubur ini tidak menyengat karena dia terperangkap di dalam danau, otomatis terhindar dari predator yang memangsanya. Jadi alat penyengatnya tidak terpakai, walaupun ada wisatawan di sekitarnya tapi tidak tiap saat. Mungkin itu alasan simpelnya,” ungkap Arvan.

Ada beberapa larangan bagi wisatawan yang hendak berenang dan bermain bersama ubur-ubur di danau ini. Larangan itu diperuntukkan guna menjaga ubur-ubur agar tetap nyaman dan tidak mati.
“Di sana dilarang melompat langsung dari tebing dan berenang menggunakan alat renang Fin atau kaki bebek. Karena kalau kita pakai Fin itu bisa merusak ubur-ubur dan akhirnya bisa mati,” papar dia.
Akses Cukup Ekstrem
Arvan mengungkapkan satu alasan tempat ini cukup jarang dikunjungi karena akses menuju danau terbilang cukup ekstrem. Karena untuk menikmati keindahan berenang bersama ubur-ubur ini wisatawan lebih dulu harus melewati bukit-bukit batu karst dan hutan yang rimbun. Tak hanya itu, titian jalur bukit tersebut memiliki kemiringan ekstrem dengan kanan kiri tebing yang curam.
“Danau ubur-ubur ini jarang dikunjungi wisatawan karena aksesnya cukup sulit. Kalau mau ke sana ya harus berani tracking karena tidak datang memarkirkan motor di sisi danau ubur-ubur tapi harus naik turun bukit batu karst bercampur tanah. Agak susah memang, terjal dan jalur kemiringan ekstrem,” ujarnya.
Bagi Anda yang memiliki jiwa tantangan, mungkin cocok menggunakan jalur ini. Tapi tenang saja, ada jalur yang masih bisa sedikit ditoleransi dengan menggunakan kapal. Kapal akan memutari bukit-bukit batu karts hingga tiba di jalur pendakian danau ubur-ubur. Jika menggunakan jalur kapal ini, Anda tetap dihadapkan dengan jalur ekstrem, tapi tidak separah jalur sebelumnya.
“Kalau ke sana itu memang ada dua jalur. Kendaraan semua disimpan di kawasan parkiran Danau Napabale setelah itu tinggal pilih, ada jalur langsung menggunakan kapal memutar dan ada yang naik langsung tracking. Kemarin saya pilih yang tracking karena sudah niat ke sana dari dulu,” bebernya.

Arvan menuturkan wisatawan harus mengeluarkan budget lebih dari jalur yang ekstrem tadi. Sekali jalan, wisatawan harus merogoh kocek mencapai Rp300 ribu sekali trip.
“Kalau dari Danau Napabale kita naik kapal itu ongkosnya Rp300 ribu memutar sampai di wilayah tracking-nya. Setelah itu tracking melewati bukit karst itu kurang lebih setengah jam. Tapi kalau tracking dari Napabale itu 1,5 jam sampai di pantai sebelah. Terus naik kapal Rp100 ribu untuk 5 orang. Lalu tracking setengah jam lagi,” ungkap Arvan.
Arvan menyarankan waktu yang tepat untuk bisa menikmati air danau yang jernih dan bisa mengamati ubur-ubur dengan jelas itu bisa dilakukan dalam rentan bulan September hingga Desember.
“Waktu saya datang antara musim hujan dan kemarau. Kalau musim hujan itu ubur-uburnya banyak karena indukan itu sedang masa-masa bertelur jadi banyak. Tapi itu lagi, aksesnya akan lebih sulit kalau musim hujan dan juga airnya agak keruh,” ungkap dia.




