Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Cerita Mahasiswi Turki asal Kolaka, Jadi Tutor Online hingga Guide untuk Penuhi Kebutuhan di Eropa

Cerita Mahasiswi Turki asal Kolaka, Jadi Tutor Online hingga Guide untuk Penuhi Kebutuhan di Eropa
Nurul Ismi Ramadani mahasiswa yang berkuliah di Turki asal Kolaka. Foto: Istimewa.

Kolaka – Nurul Ismi Ramadani adalah seorang mahasiswi asal Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang kini menempuh pendidikan dokter di Turki. Sebagai seorang mahasiswa asing, dia membagikan pengalamannya untuk bertahan hidup di Eropa dengan cara menjadi tutor online hingga menjadi tour guide guna memenuhi kebutuhannya.

Alumni SMAN 1 Kolaka ini diterima di kampus bernama Bursa Uludağ Üniversitesi di Kota Bursa, Turki pada tahun 2021 lalu. Saat ini, wanita yang akrab disapa Ismi ini tercatat sebagai penerima beasiswa dari tanah kelahirannya meskipun hanya menutupi UKT-nya saja.

Mengingat hidup di negara orang, Ismi menyadari bahwa dia tidak mungkin harus terus berpangku tangan dengan menunggu uang kiriman dari orang tuanya apalagi biaya hidup di Turki yang cukup mahal.

Nurul Ismi Ramadani saat mengikuti kegiatan di Turki.
Nurul Ismi Ramadani saat mengikuti kegiatan di Turki. Foto: Istimewa.

Mahasiswa yang saat ini sedang menginjak semester dua itu mengakui bahwa saat tahun-tahun pertamanya di Turki, dirinya mengalami kesulitan terutama dari segi biaya hidup. Setiap bulannya dia hanya bisa mengandalkan uang dari orang tuanya.

“Saya bukan keluarga kelas atas, jadi saya hanya dapat kiriman untuk biaya tempat tinggal, tanpa uang jajan,” katanya kepada Kendariinfo, (14/3/2023).

“Saya hanya meminta uang senilai Rp2 juta per bulan, mungkin itu terdengar banyak di Indonesia, tapi di Turki hanya sekitar 3.000 Lira kemudian saya pakai untuk bayar tempat tinggal Rp1,2 juta dan sisanya saya pakai bertahan hidup selama sebulan,” lanjutnya.

Nasib baik memihak kepadanya, tahun 2022 lalu Turki mengalami inflasi yang cukup besar sehingga nilai tukar Rupiah di sana menguat, alhasil kiriman orang tua semakin besar nilainya saat ditukarkan.

“Syukur rasanya sebagai mahasiswa sebab kalau dapat kiriman dari orang tua nilainya lebih besar dan pastinya ada dapat keuntungan,” lanjutnya.

Ismi bertekad di tahun 2023 ini dia tidak boleh lagi meminta uang kepada orang tuanya, akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang pengajar online dengan mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak di Turki.

“Alhamdulillah sejak awal 2023 sudah tidak minta uang lagi ke orang tua, karena sekarang sudah ada kerjaan, saya ajar bahasa Inggris. Sekarang murid saya ada tiga orang,” bebernya.

Setiap bulannya, Ismi menerima sekitar Rp800 ribu per anak, dengan nominal uang seperti itu dirinya sudah merasa cukup bahkan sudah bisa membeli kebutuhan lainnya.

“Selain jadi tutor online, saya juga jadi tour guide kalau ada acara-acara penting dari Indonesia, lumayan lah ada uang jajan tambahan,” lanjutnya.

Perempuan berusia 19 tahun itu membeberkan bahwa kondisi ayahnya yang sedang sakit menjadi salah satu alasan untuk tidak ingin lagi membebani kedua orang tuanya.

“Ayahku yang lagi sakit jadi alasanku untuk kerja apapun sambil kuliah, karena kondisi itu pula saya bertekad untuk setop minta uang ke mereka,” tandasnya.

Menurut Ismi, bertahan hidup sembari menimba ilmu di Eropa khususnya di Turki tidak terlalu sulit, asalkan mau bekerja dan tidak gengsi serta bisa membagi waktu.

Cerita Mahasiswi asal Kolaka, Gagal di Daerah hingga Akhirnya Lulus Fakultas Kedokteran di Eropa

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten