Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Opini

Ada Apa dengan Minyak Goreng?

Tulisan dari tidak mewakili pandangan dari redaksi kendariinfo
Ada Apa dengan Minyak Goreng?
Minyak goreng yang dijual di pasar murah Kantor Wilayah Perum Bulog Sultra. Foto: Nasrun Katingka/Kendariinfo.

Di mana gerangan kau, minyak goreng (Migor)? Siapa yang begitu genit menimbun migor? Mereka mo pake mandikah itu? Ih, apakah itu kerjaannya pemerintah? Ya, Allah kita mo jual berapami ini gorengan? begitu jejeritan masyarakat utamanya ibu-ibu kurleb sebulan ini. Efek dari kelangkaan minyak goreng, rumah tangga dan UMKM sontak lemes bak sakit tulang belakang.

Ke mana perginya itu migor? Antrean yang mengular di pasar murah Kantor Wilayah Bulog Sultra nyaris membuat kaum ibu histeris. Tak terbayangkan sulitnya berdiri berjam-jam hanya untuk mengantre 1 – 2 liter migor. Penderitaan masyarakat bertambah setelah terkabar beberapa swalayan secara sadis dan tanpa perasaan, timbul idenya memberi syarat membeli harus pula beli barang di toko tersebut minimal Rp50 ribu – Rp75 ribu barang lainnya. Masyaallah, sungguh kejamnya kekasih. Mana harganya juga tetap tidak murah. Hingga hari ini harga 1 liter migor tembus Rp30 ribu yang tadinya hanya berkisar Rp12 ribu – Rp14 ribu per liter. Sudah mahal langka lagi. Sadis.

Penyebab kelangkaan apa? Konon kata beberapa pakar begini: pertama CPO (crude palm oil) merupakan salah satu minyak nabati yang paling banyak diminati. CPO ini di luar negeri mengalami kenaikan harga dari 110 dolar AS menjadi 1340 dollar AS , akibatnya produsen minyak goreng lebih banyak menjual minyak gorengnya ke luar negeri, mereka tentu untung banyak kalau jual ke luar negeri. Kedua di beberapa negara yang mengalami gelombang ketiga Pandemi Covid -19 juga membutuhkan CPO lebih banyak, kenaikan permintaan luar negeri menyebabkan ekspor lebih banyak. berikutnya penyebab ketiga logistic, shipping atau perkapalan naik menyebabkan harga minyak goreng melambung karena biaya distribusi membengkak, walaupun tidak semua daerah mengalami kenaikan.

Baca Juga:  Minyak Goreng Langka, DPRD dan Disperindag Kendari Sidak Distributor

Bagaimana respons pemerintah? Pertama di Kota Kendari, Kantor Wilayah Perum Bulog Sultra menggelar pasar murah kerjas ama dengan Disperindag Sultra, pasar murah ini menjual minyak goreng dengan harga bersahabat tapi untuk mendapatkannya jauh dari bersahabat. Harus antre berjam-jam untuk mendapatkan 1 – 2 liter. Akibatnya viral di media sosial (medsos) para mak-mak yang lelah mengantre merengsek masuk dengan horor karena tidak mendapatkan minyak goreng setelah antre berjam-jam.

Respons berikutnya kita masyarakat banyak disuruh bikin sendiri saja, demikian wawancara dengan salah satu pejabat. Duhai kekasih, kami ini kaum ibu tak semuanya wonder women, pigi parut-parut kelapa baru kita jongkok-jongkok masak santan selama 2 – 3 jam dan hanya hasilkan botol minum tengah mineral, ayolaahhh hidup tak sebecanda itu Rudolfo.

Coba pikir, dulu harga cabai melambung kau suruh kami nanam cabai, sekarang minyak goreng melambung kami kau suruh bikin minyak goreng orisinal. Bantulah kami dengan cara elegan. Tangkaplah penimbun minyak goreng. Berilah kami no ponsel yang aktif untuk kami laporkan penjual-penjual sadis yang menjual minyak goreng melambung jauh. Agar respons pemerintah juga cepat mengatasinya. Teruslah melakukan survei dan monitoring, agar pelaku mafia migor berhenti menjual dengan harga tinggi.

Minggu ini, tragedi kelangkaan minyak goreng masih berlanjut dan kita menunggu respons pemerintah untuk menyelesaikannya. Mudah-mudahan cepat teratasi. Selamat menikmati minggu ke dua Maret yang garing tanpa minyak. Hmmmmm.

Baca Juga:  Politik Kehadiran dan 79 Tahun Indonesia Merdeka
Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten