Ada Kelas Bahasa Isyarat di Kendari, 35 Warga Belajar Langsung dari Teman Tuli
Kendari – Sebanyak 35 warga mengikuti kelas bahasa isyarat yang dipandu langsung oleh teman tuli dalam kegiatan Komunitas Isyarat Tanpa Syarat (ITS) Kendari, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan itu menjadi ruang bagi teman dengar untuk mengenal bahasa isyarat sekaligus berinteraksi langsung dengan teman tuli. Peserta mempelajari abjad bahasa isyarat Indonesia (bisindo), perkenalan dasar, hingga kosakata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Kelas itu dipandu P. Graha L. Adhi, A. Jaya Saputra, dan Fajrin yang merupakan tim pengajar dari teman tuli. Peserta mengikuti materi dengan mempraktikkan langsung sejumlah isyarat yang diberikan pengajar.
Selain kelas bahasa isyarat, kegiatan tersebut menghadirkan materi pengenalan budaya tuli yang disampaikan Arman La Rawa. Ade Putri dan Rahmasari selaku pendamping komunitas juga memberikan materi tentang etika berkomunikasi dengan teman tuli.
Sekitar 100 orang terlibat dalam kegiatan. Mereka terdiri atas sekitar 50 teman tuli dari internal ITS Kendari yang juga menjadi panitia, belasan teman tuli dari luar komunitas, serta 35 peserta umum atau teman dengar.
Pendamping Komunitas ITS Kendari sekaligus Deaf Ally di Kendari, Ade Putri, mengatakan kegiatan bertujuan mengenalkan budaya tuli kepada masyarakat cum membuka ruang komunikasi antara teman tuli dan teman dengar.
“Saya pribadi berharap teman-teman dengar yang hadir bisa menjadi jembatan informasi kepada masyarakat luas terkait budaya tuli agar akses bagi teman tuli makin baik,” kata Ade kepada Kendariinfo, Senin (28/9/2026).
Ade mengatakan komunitas juga membutuhkan lebih banyak ruang inklusif di Kendari. Menurutnya, akses dan pembekalan sejak dini dapat membantu teman tuli mengembangkan kemampuan serta kepercayaan diri untuk berinteraksi di lingkungan masyarakat.
“Kepada pemerintah, semoga bisa makin peka terhadap hal-hal krusial yang dibutuhkan teman tuli. Bagi kami, tuli adalah identitas dan semua berhak memperoleh akses yang sama, semua setara,” ujarnya.
Ia menjelaskan kegiatan belajar di internal ITS Kendari berlangsung secara rutin, tidak hanya dilakukan saat peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional.
Dalam kegiatan sehari-hari, Ade bersama Rahmasari lebih berfokus mendampingi anggota komunitas dalam membangun kepercayaan diri untuk bersosialisasi serta memperbanyak kosakata bahasa Indonesia.
Sementara pembelajaran bahasa isyarat dipimpin langsung oleh teman tuli. Mereka menjadi pengajar karena menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa yang mereka gunakan dalam berkomunikasi.
