Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Akun Bergaya Gangster di Media Sosial Ancaman Nyata Warga Kendari

Akun Bergaya Gangster di Media Sosial Ancaman Nyata Warga Kendari
Unggahan berbau kekerasan pada akun Instagram @infoributkendari. Foto: Tangkapan layar.

Kendari – Kehadiran sejumlah akun media sosial yang menayangkan aksi kekerasan bergaya gangster mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Salah satunya adalah akun Instagram @infoributkendari.

Akun yang memiliki 5 ribu pengikut itu kerap mengunggah video pertikaian antarkelompok remaja, konvoi liar, hingga aksi perusakan, dikemas dengan narasi kebanggaan dan simbol kekuasaan jalanan.

Fenomena itu tidak hanya meresahkan, tetapi memicu kekhawatiran akan potensi meningkatnya kekerasan di dunia nyata. Pasalnya sebagian besar konten menampilkan remaja usia sekolah terlibat dalam aksi yang merugikan dan melanggar hukum.

Warga Kendari, Sari (37), mengaku khawatir dengan maraknya tayangan semacam itu. Ia menilai konten kekerasan disebar secara terbuka di media sosial dapat memengaruhi perilaku anak-anak dan remaja yang masih mudah terbawa arus tren.

“Anak-anak sekarang gampang meniru, apalagi kalau kontennya viral. Saya takut kalau ini dibiarkan mereka menganggap kekerasan itu keren,” katanya, Senin (26/5).

Akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari sekaligus pegiat media sosial, Aswan Zanynu, menyebut fenomena kemunculan akun-akun berbau gengster dinilai sebagai wadah untuk mencari perhatian publik. Menurutnya, jika tujuan akun-akun tersebut untuk aksi kriminal, pelaku tidak akan seterbuka itu, bahkan cenderung sembunyi-sembunyi.

“Kalau mereka ini adalah pelaku kriminal, pasti tidak ingin ketahuan. Namun, ketika mengunggah dan menunjukkan jati dirinya, maka saya lihat itu bertujuan untuk memperlihatkan bahwa mereka itu ada,” ujarnya kepada Kendariinfo, Senin (26/5).

Namun, dia tidak memungkiri akun-akun seperti itu membawa ancaman bagi masyarakat. Menurut Aswan, hal itu dilakukan sebagai wadah mencari pengakuan dengan mengunggah konten berbau kejahatan di media sosial.

“Hemat saya ini hanyalah gimmick saja untuk menarik perhatian. Jadi poinnya bukan pada melakukan kejahatan, tetapi pamer kejahatan sebagai usaha mereka mencari pengakuan,” lanjutnya.

Aswan menyebut tidak ada pihak yang bisa bertanggung jawab 100 persen terhadap fenomena itu. Dibutuhkan kerja sama lintas pihak, mulai keluarga, pemerintah, para pendidik, termasuk akademisi, karena hal tersebut adalah bagian kecil dari penyakit sosial.

“Kalau pihak-pihak ini bisa mencari akar masalah dari fenomena ini kemungkinan bisa ditemukan saluran-saluran produktif untuk mereka-mereka yang sebenarnya tidak tahu mau buat apa,” tutupnya.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten