Angkat Potensi Sagu dan Daun Bakau, Mahasiswi UHO Kendari Sabet Juara 3 Kompetisi Bisnis Nasional

Kendari – Tiga mahasiswi lintas fakultas Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), meraih juara 3 dalam ajang National Business Plan Competition 2026. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kewirausahaan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Sabtu (13/6/2026).
Adapun tiga mahasiswi yang terlibat, yakni Ayumi Azzahra dari Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB), Diyna ‘Awliya ‘Aziyzah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), serta Azika Noor Faizah dari Fakultas Hukum (FH). Ketiganya didampingi dosen pembimbing sekaligus Pembina UKM Kewirausahaan UHO, Lade Sirjon.
Ketua Tim, Ayumi Azzahra, mengatakan timnya mengangkat judul “Sagro Chips: Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sagu dan Daun Bakau untuk Mendukung Konservasi Ekosistem Mangrove dan Pemanfaatan Pangan Lokal di Sulawesi Tenggara”.
Secara garis besar, proposal itu berisikan tawaran ide bisnis berupa produk camilan yang diberi nama Sagro Chips (berbahan dasar sagu dan daun bakau). Tak hanya bernilai jual, tetapi juga mengandung antioksidan alami. Melalui ide bisnis tersebut, sumber daya lokal yang mencakup masyarakat pesisir menjadi sasaran utama dalam proses pengembangannya.
Ayumi menuturkan Sagro Chips menjadi solusi komprehensif karena menyatukan aspek ekonomi, kesehatan, pemberdayaan sosial dan lingkungan dalam satu gagasan wirausaha. Meski harus bersaing ketat bersama berbagai perguruan tinggi ternama dari penjuru nusantara, timnya mampu bersinergi melakukan yang terbaik demi mengharumkan nama almamater.
“Kami menghadapi persaingan yang sangat ketat karena banyak peserta berasal dari perguruan tinggi ternama di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi kami untuk bekerja lebih keras dan menghasilkan proposal yang kompetitif,” ungkap Ayumi kepada Kendariinfo, Minggu (14/6).
Proses persiapannya pun terbilang cukup lama. Ketiganya berkutat selama kurang lebih dua bulan untuk membuat konsep, mengumpulkan data dan studi literatur, menyusun business model canvas (BMC), hingga mengembangkan proposal secara menyeluruh termasuk memastikan kelayakan implementasi.
“Kami juga melakukan berbagai diskusi tim untuk mematangkan ide, memperkuat aspek pemasaran dan keuangan, serta mempersiapkan presentasi untuk tahap final. Prosesnya tidak hanya berfokus pada penulisan proposal, tetapi juga memastikan yang kami tawarkan memiliki dasar kuat dan layak untuk diimplementasikan,” tutur Ayumi.





