Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Banjir di Sultra Sebabkan 77 Hektare Sawah Gagal Panen

0
0
Areal persawahan yang terendam banjir di Kawasan Amohalo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (12/5/2026).

Kendari – Banjir yang melanda sejumlah daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Mei 2026 menyebabkan puluhan hektare sawah dipastikan gagal panen atau puso. Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sultra mencatat luas lahan yang tidak bisa diselamatkan mencapai 77 hektare.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Distanak Sultra, Muhammad Taufik, mengatakan sawah yang sudah berstatus puso terpaksa harus ditanami kembali karena tanaman padi rusak total akibat terendam banjir.

“Kalau sudah puso memang tidak bisa dipulihkan lagi, sehingga harus dilakukan penanaman ulang,” katanya, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan, tidak semua sawah terdampak banjir mengalami gagal panen. Tanaman padi yang masih dalam kondisi berdiri atau standing crop masih memiliki peluang untuk pulih setelah air surut dan curah hujan menurun.

Namun, untuk lahan yang mengalami kerusakan parah, pemerintah kini memprioritaskan bantuan benih agar petani bisa segera kembali menanam.

Data Distanak Sultra menunjukkan total sawah terdampak banjir di Sultra mencapai 2.336 hektare dari sekitar 10.600 hektare area tanam. Wilayah paling parah berada di Kabupaten Konawe dengan luas terdampak mencapai 1.096 hektare.

Selain Konawe, banjir juga merendam sawah di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) seluas 639 hektare, Konawe Selatan (Konsel) 288 hektare, Kota Kendari 151 hektare, Kolaka 112 hektare, dan Kota Baubau 50 hektare.

Untuk mengantisipasi penurunan produksi pangan akibat puso, Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI) menyalurkan bantuan sekitar 50 ton benih. Bantuan itu diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan penanaman ulang hingga 2.000 hektare lahan pertanian.

Menurut Taufik, bantuan benih akan difokuskan lebih dulu kepada petani yang sawahnya mengalami gagal panen total.

“Prioritas utama memang untuk lahan puso karena petani harus mulai tanam dari awal lagi,” pungkasnya.

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: