Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Camilan Pisang Dempo, Hasil Pembinaan Bapas Kendari yang Tembus Pasar Nasional

Camilan Pisang Dempo, Hasil Pembinaan Bapas Kendari yang Tembus Pasar Nasional
Kepala Bapas Kelas II Kendari, R. Teja Iskandar saat meninjau langsung proses pembuatan camilan Pisang Dempo oleh warga binaan. Foto: Istimewa.

Kendari – Program pembinaan kemandirian yang dijalankan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Kendari mulai membuahkan hasil. Dari tangan para warga binaan di Kabupaten Bombana, lahirlah camilan renyah berbahan dasar pisang bernama Dempo, yang tak hanya dikenal di Sulawesi Tenggara (Sultra), tetapi juga telah menembus pasar luar daerah hingga Pulau Jawa.

Kepala Bapas Kelas II Kendari, R. Teja Iskandar, menuturkan produksi Pisang Dempo dimulai sekitar empat bulan lalu di Kecamatan Poleang. Kabupaten Bombana. Antusiasme masyarakat terhadap produk tersebut terus meningkat setelah sempat dipamerkan di berbagai kegiatan, termasuk ajang nasional.

“Dempo ini sudah berjalan sekitar empat bulan. Pernah kami pamerkan di Kota Kendari, lalu dibawa ke Jakarta untuk dipresentasikan dalam pameran. Hasilnya, pesanan cukup banyak. Pemasaran juga sudah masuk ke bandara,” ujar Teja, Selasa (4/11/2025).

Menurut Teja, kehadiran camilan Pisang Dempo bukan hanya soal menciptakan produk makanan ringan, tetapi juga bagian dari upaya Bapas Kelas II Kendari membantu para warga binaan membangun kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi setelah menjalani masa hukuman. Produk ini dikelola secara profesional, mulai dari pengurusan merek dagang hingga pengemasan higienis agar layak dipasarkan.

“Bapas Kelas II Kendari mulai terlibat saat pendaftaran hak merek dan pembungkusan agar lebih higienis. Intinya, kami berperan sebagai manajer sosial yang memastikan produk ini layak dan berkelanjutan,” katanya.

Baca Juga:  Kasus Perzinaan Stafsus Wali Kota Baubau, Berawal dari Curhat Masalah Rumah Tangga

Tak hanya dijual secara konvensional, Bapas Kendari juga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar. “Kami juga menitipkan produk itu kepada para tiktoker agar lebih dikenal luas,” ujarnya.

Dalam hitungan bulan, penjualan Pisang Dempo kini mencapai 30 hingga 40 bungkus per bulan. Warga binaan pembuatnya memperoleh penghasilan antara Rp400 ribu hingga Rp800 ribu per bulan.

“Kami buatkan PNPP dan buku tabungan untuk mereka. Jadi setiap klien tahu berapa penghasilan bersih yang bisa dibawa pulang,” jelas Teja.

Pisang Dempo kini menjadi simbol keberhasilan pembinaan berbasis ekonomi kreatif di bawah naungan Bapas Kelas II Kendari.

“Kami ingin warga binaan yang bebas bisa menjadi manusia berguna dan berkontribusi bagi negara, bukan lagi dibayangi stigma sebagai sampah masyarakat,” tutupnya.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten