Cerita Harry Purwanto, Kembangkan Hobi Racik Parfum Jadi Ladang Bisnis

Kendari – Harry Purwanto, pria kelahiran di Jember, Jawa Timur pada 15 Mei 1975 ini merupakan salah satu dari sekian pengusaha yang terbilang sukses di Sulawesi Tenggara (Sultra). Usahanya bergerak dalam industri wewangian atau parfum.
Mencium berbagai harum parfum selama beberapa tahun membuat Harry tersadar, bahwa sebetulnya dirinya juga bisa membuat wewangian berdasarkan pengetahuannya itu.
“Dulu hobinya pake parfum, koleksi parfum lah. Menurut saya meracik parfum adalah salah satu seni,” ujarnya.
Usahanya itu ia rintis sejak tahun 2014 silam, awalnya ia membuka usahanya itu di Kalimantan. Namun, ia memutuskan pindah ke Kota Kendari untuk merintis kembali usahanya tersebut.
“Awalnya di Kalimantan, tapi sejak tahun 2014 kita pindahkan usaha di sini, salah satunya juga untuk membuka lapangan pekerjaan juga,” tuturnya.
Pria berusia 45 tahun itu mengungkapkan, dirinya telah membuka tujuh cabang ‘Harry Parfum’ yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sultra.
“Sejak awal buka di sini, kita juga buka cabang di Baubau, Konut, Kolaka, Konkep. Selanjutnya kita akan buka juga di Kolut,” ungkapnya.
Harry mengatakan, dalam sebulannya ia biasanya menghabiskan bibit parfum lebih dari 50 liter. Untuk bahan parfummnya sendiri, sebagian ia import dari berbagai negara seperti Paris, Swiss, Dubai dan India.
“Biasanya sebulannya kita membutuhkan 50 liter bibit parfum. Bibitnya rata-rata kita import dari luar negeri. Kemudian kita raciknya di sini,” ujarnya.
Awal membuka usahanya itu, ia hanya menyediakan sepuluh item varian wewangian. Namun, hingga saat ini ia mengeluarkan hampir ribuan varian dengan ragam wangi yang berbeda-beda.

“Kita terus berinovasi, kadang-kadang juga pelanggan mau diracikkan variannya yah kita racikkan. Sesuai keinginan pelanggan,” terangnya.
Baru-baru ini, ia kembali mengeluarkan dua varian aroma baru dinamakan Bond 9 dan Lv Umree Numade yang saat ini menjadi best seller di tokonya.
Harga parfumnya berkisar antara Rp15.000 – Rp350.000 per botol dengan ukuran yang berbeda-beda.
Saat memulai usahanya Harry bercerita menyiapkan dana yang tidak cukup banyak untuk modal. Dari modal yang ada, ia putar dengan menjual sedikit demi sedikit menyediakan parfum yang ia jual.
Kini dia menyatakan dalam sebulannya bisa menjual ratusan botol parfum dengan omzet rata-rata mencapai puluhan hingga ratusan juta per bulannya.
Terakhir, Harry mengatakan bersedia melatih orang-orang yang ingin belajar untuk membuka usaha sendiri dalam meracik sebuah wewangian.
“Mungkin ada yang mau belajar meracik parfum, kita ajari tanpa dipungut biaya. Nantinya bisa buka usaha sendiri,” pungkasnya.





