Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Education

Dapat Tingkatkan Ekonomi Warga, Mahasiswa UHO Olah Daun Jambu Biji Jadi Jamu Berkhasiat

Dapat Tingkatkan Ekonomi Warga, Mahasiswa UHO Olah Daun Jambu Biji Jadi Jamu Berkhasiat
Mahasiswa KKN UHO, dosen pembimbing, dan masyarakat Desa Lambusa, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Istimewa.

Konawe Selatan – Mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2022 di Desa Lambusa, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) berhasil mengolah daun jambu biji menjadi produk jamu berkhasiat. Selain baik untuk kesehatan, olahan jamu tersebut dapat meningkatkan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Tematik UH0 2022 di Desa Lambusa, Muhammad Arba, mengatakan olahan tersebut dipraktikkan langsung oleh mahasiswa Fakultas Farmasi UHO dengan menggunakan bahan-bahan sederhana, seperti jambu biji, jahe, serai, dan gula aren. Menurut Arba, itu hanya salah satu dari banyak program yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN di Desa Lambusa.

“Ini hanya salah satu dari banyak kegiatan. Untuk di Desa Lambusa, ada mahasiswa farmasi dan pertanian,” kata Arba kepada Kendariinfo, Selasa (6/9/2022).

Produk Jambusa, olahan jamu instan karya mahasiswa KKN UHO di Desa Lambusa, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra).
Produk Jambusa, olahan jamu instan karya mahasiswa KKN UHO di Desa Lambusa, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Istimewa.

Sebelum menghasilkan produk jamu berkhasiat, para mahasiswa terlebih dulu menyortir daun jambu biji, jahe, dan serai. Setelah itu, bahan-bahan kemudian dirajang lalu dijemur di bawah sinar matahari langsung selama sehari penuh. Jika sudah dikeringkan, bahan-bahan tersebut lalu disortir kembali lalu disangrai.

“Habis disangrai, bahan-bahan itu lalu dihaluskan. Saat proses penghalusan, dia ditambahkan gula aren atau brown sugar. Setelah halus kemudian dikemas dalam aluminium foil dan jadilah jamu instan yang kami sebut Jambusa,” ujarnya.

Arba mengungkapkan, olahan Jambusa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, seperti antioksidan, mengobati rematik, diare, diabetes melitus, batuk, hipertensi, obesitas, dan kanker. Meski para mahasiswa hanya sebatas mendemonstrasikan olahan tersebut dengan membuat 10 kemasan Jambusa, Arba meyakini bahwa jamu itu dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat jika dipasarkan.

Baca Juga:  Oknum Guru Besar FKIP UHO Datangi Kediaman Korban Dugaan Pelecehan di Kendari untuk Minta Maaf

“Jadi alasan pembuatan Jambusa ini, masyarakat belum terlalu mengetahui bagaimana pemanfaatan tanaman herbal, baik untuk kesehatan maupun sisi ekonominya, misalnya untuk dijual,” ungkapnya.

Untuk menghasilkan nilai ekonomis, para mahasiswa juga mengajarkan masyarakat bagaimana proses pengemasan Jambusa agar tidak cepat rusak. Hal itu pun menurut Arba membuat masyarakat memberi respons yang baik untuk olahan Jambusa.

“Bermanfaat bagi mereka baik dari segi kesehatan maupun ekonomi. Terutama bagaimana mengemas jamu ini, karena mereka belum terlalu tahu kenapa dikemas dari bahan yang kedap udara, misalnya untuk memperlama durasi bahan aktifnya itu. Kalau tidak kedap udara, bisa teroksidasi jadi gampang rusak. Sangat bagus respons masyarakatnya,” jelasnya.

Dia menyebut, pengabdian kepada masyarakat di Desa Lambusa dilaksanakan selama 30 hari, mulai 2 Agustus sampai 2 September 2022. KKN tersebut diikuti 17 mahasiswa dari Fakultas Farmasi dan Fakultas Pertanian yang masing-masing bernama Alda Inka Pratiwi, Filda Nur Azizah, Ferti Nurhawaliah, A. Mutiara Dewi, Runi Hariyani, Srialawiah, Leni Fitriani Hamdu, Anre S. Moch. Kasim, Jamindra, Laode Muhammad Akbar, Mawar Safitri, Muhammad Amrullah Ali Bay, Nur sabana, Qaefa Yuhajirin, Rani Ayuni, Wa Hemi, dan Wa Ode Tuti Alwia.

Selama melakukan KKN, para mahasiswa dibimbing langsung oleh dosen farmasi dan pertanian, yaitu La Ode Santiaji Bande, Muhammad Arba, Putu Arimbawa, Mursalim, Weka Gusmiarty Abdullah, dan Indriyani Nur.

Baca Juga:  Berusia 28 Tahun, Guru asal Konut Raih Doktor Termuda di UNNES

“Jadi terkait olahan tadi, adik-adik mahasiswa mengangkat tema pemanfaatan daun jambu biji (Psidium guajava), serai (Cymbop ogon citratus), dan tanaman jahe (Zingiber officinale) sebagai jamu instan Jambusa untuk pengobatan tradisional dalam peningkatan kesehatan dan perekonomian masyarakat Desa Lambusa di era new normal,” pungkasnya.

ADVERTISEMENT
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten