Desa Namu Kembangkan Paket Wisata Mancanegara Lewat GCIP 2026

Konawe Selatan – Keberhasilan pelaksanaan Global Cultural Immersion Program (GCIP) 2026 di Desa Wisata Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), membuka peluang besar bagi pengembangan kegiatan tersebut menjadi event internasional berkelanjutan yang terintegrasi dengan paket wisata mancanegara.
Kegiatan hasil kolaborasi Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari bersama Pengelola dan Pemerintah Desa (Pemdes) Wisata Namu ini berlangsung selama dua hari, 22 – 23 April 2026. Program ini dihadiri sejumlah mahasiswa dari sembilan negara, di antaranya Tanzania, Pakistan, Rwanda, Cina, Thailand, Palestina, Kenya, Madagaskar, dan Filipina.
Seluruh rangkaian kegiatan dikemas dalam konsep pariwisata dan pendidikan yang akan dijadikan sebagai agenda tahunan di Desa Wisata Namu, dengan jumlah tamu yang diupayakan terus bertambah setiap tahun.

Direktur Direktorat Kerja Sama dan Internasionalisasi (DKI) UM Kendari, Titin Rahmiatin Rahim, menyampaikan kegiatan tersebut memang diusung dengan konsep sederhana, karena yang ingin ditonjolkan bukan seremonial semata, melainkan nilai eduwisata yang begitu kuat.
“Secara tampilan acaranya sederhana, karena memang tidak butuh seremonial megah. Namun, esensi konsep program eduwisata ini sangat dapat,” ujar Titin.
Titin menjelaskan seluruh mahasiswa dari berbagai negara yang mengikuti program tersebut mempelajari kearifan lokal dan aktif berbaur dengan masyarakat. Para peserta juga ikut terlibat dalam pengelolaan lingkungan serta pelestarian bibit karang.
“Para peserta dari semua negara yang hadir sangat puas. Ini pengalaman perdana mereka mengenal lebih dalam kearifan lokal dan pengelolaan pelestarian lingkungan di wilayah di tingkat desa. Mereka baru pertama merasakan kearifan lokal di Desa Namu bahkan berkesempatan untuk try dive langsung terlibat dalam kegiatan pelestarian bibit karang,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Pengelola Desa Wisata Namu, Ahmad Nizar, mengungkapkan bahwa program tersebut berpengaruh pada pengembangan inovasi produk wisata desa ini ke depannya. Ia menyebut pihaknya menyiapkan gebrakan paket wisata baru yang dinilai belum pernah ada di Sultra.
“Kegiatan ini kami anggap sebagai uji trip dan akan menjadi paket wisata berskala internasional baru dari desa wisata namu. Para partisipan dari semua negara yang terlibat memang sebagai wisatawan karena mereka masing-masing melakukan pembayaran paket di kegiatan ini,” tutur Ahmad.





