Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Crime

Dituduh Rusak Kantor Pengacara, Begini Kata Kerabat Ahli Waris Pemilik Lahan Gedung Salsa Kendari

Dituduh Rusak Kantor Pengacara, Begini Kata Kerabat Ahli Waris Pemilik Lahan Gedung Salsa Kendari
Ahli waris lahan gedung salsa, Sitti Nurmah Paturusi (kanan) menunjukan surat putusan Mahkamah Agung. Foto: Istimewa.

Kendari – Ahli waris pemilik lahan Gedung Salsa di Jalan Malik Raya, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) bernama Sitti Nurmah Paturusi dituduh merusak Kantor Pengacara Herianto Halim.

Menanggapi hal itu, salah satu kerabat Sitti Nurmah Paturusi bernama Novan Saiman membantah hal tersebut. Ia mengatakan, kerabatnya hanya menjalankan putusan kasasi Mahkamah Agung.

Dalam putusan tersebut, berisikan perintah untuk mengosongkan lahan yang telah dimenangkan oleh ahli waris Paturusi bernama Sitti Nurmah Paturusi dan Burhanuddin Paturusi.

“Jadi itu aksi spontan kami bersama ahli waris tanah untuk mengosongkan lahan itu,” ujarnya melalui sambungan telepon seluler, Senin (28/11/2022).

Ia menyebut, kerabatnya yang bernama Sitti Nurmah Paturusi lah yang menjadi pemilik sah lahan yang ditempati oleh Gedung Salsa dan Kantor Pengacara Herianto Halim berdasarkan draf pertimbangan Mahkamah Agung nomor: 4318/318K/PDT/2007 tertanggal 23 Agustus.

Draf pertimbangan Mahkamah Agung itu menyatakan bahwa pemilik lahan yang telah berdiri Gedung Salsa adalah milik ahli waris Paturusi dan diperintahkan bagi yang menduduki lahan tersebut agar sesegera mungkin dikosongkan tanpa syarat apapun.

“Jadi, itu draf kasasi yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Kendari dan pengadilan tinggi sengketa antara Nursiah dan ahli waris Paturusi,” ungkapnya.

Ia menceritakan, pada 1967 lalu, Paturusi membeli lahan seluas 110 x 200 atau sekitar 3,8 hektare tersebut kepada warga setempat bernama Sapinah seharga Rp500 ribu.

Baca Juga:  Sempat Buron karena Tikam Pria di Poasia, Pemuda ini Ditangkap Polisi di Morowali

Namun, pada 1996, pemilik lahan sebelah Paturusi bernama Nursiah membuat sertifikat dan memasukkan lahan milik Paturusi ke dalamnya dengan sertifikat hak milik bernomor 2915/G.S nomor 2553/1996 tertanggal 3 Desember 1996.

Kemudian, pada 1997 lah terjadi sengketa lahan saat ahli waris Paturusi, Burhanuddin Paturusi dan istrinya Aminah Daud menggugat di Pengadilan Negeri Kendari.

“Namun, di Pengadilan Negeri Kendari hingga putusan Pengadilan Tinggi Kendari gugatan tersebut dimenangkan oleh Nursiah,” lanjutnya.

Proses sengketa tersebut terus berlanjut hingga ke tingkat kasasi di Mahkamah Agung dan keluarlah putusan pada 2007. Pertimbangan hakim dalam putusan tersebut, sertifikat hak milik Nursiah tidak mengikat secara hukum.

Sehingga diperintahkan kepada siapapun yang mengambil hak atas sertifikat tersebut agar segera dikembalikan dalam keadaan kosong.

ADVERTISEMENT

“Di tengah proses sengketa, sekira tahun 2006 Nursiah menjual lahan itu kepada almarhum Husein Awad,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, setelah pihaknya menerima draf pertimbangan hakim, ahli waris berupaya secara persuasif kepada Naguib Husein sebagai ahli waris dari Husein Awad untuk meminta hak lahan yang telah dibangun Gedung Salsa.

Menurutnya, ahli waris sah yaitu Sitti Nurmah Paturusi dan Burhanuddin Paturusi melalui pengacaranya telah melakukan somasi kepada Naguib Husein sebanyak tiga kali.

“Karena tidak diindahkan, kami lapor ke Polresta Kendari terkait penyerobotan, tapi laporan kami ditolak, tidak diproses,” jelasnya.

Tak sampai di situ, ahli waris sah kemudian mendirikan pagar di depan Gedung Salsa. Namun, pengacara Naguib Husein malah merusak pagar tersebut dan kembali dilaporkan di Polresta Kendari.

Baca Juga:  Dapat Info dari Masyarakat, Dua Pengedar Sabu di Kendari Ditangkap Polisi

Puncak permasalahan tersebut pada Senin (21/11), saat itu ahli waris dan kerabatnya berjumlah delapan orang mendatangi lahannya di Kantor Pengacara Herianto Halim, tepatnya di Gedung Salsa.

Ia menjelaskan, amukan ahli waris dan kerabatnya tersebut, membuat kerusakan barang-barang di Kantor Pengacara Herianto Halim.

“Kami minta alas haknya, di dalam gedung, kami dikurung, dia (Herianto Halim) melapor ke Polsek Mandonga. Datang aparat Polsek Mandonga dia tuduh kami curi uang Rp5 juta. Kalo memang kami mencuri, buka dompetnya, divideokan dibuka itu tas tidak ada uang,” pungkasnya.

Penulis
Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten