Faktor Lingkungan Jadi Penyebab Penyalahgunaan Narkotika di Kendari

Kendari – Faktor lingkungan menjadi penyebab penyalahgunaan narkotika di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Hal itu terungkap saat workshop Penguatan Kapasitas Kepada Insan Media untuk Mendukung Kota Tanggap Ancaman Narkoba (Kotan) yang diinisiasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kendari, Rabu (28/10/2021).
Pemateri workshop dari Kepolisian Resor (Polres) Kendari, Bripka Syamsul mengatakan, seseorang dapat mengalami ketergantungan narkotika karena disebabkan lingkungan yang bersentuhan langsung dengan pemakai barang haram tersebut.
“Ketergantungan narkoba bisa terjadi karena kita berkompromi. Misalnya bergaul dengan pemakai narkoba dan yakin bahwa kita tidak akan terpengaruh. Itu perlu kita antisipasi, karena yang awalnya coba-coba bisa jadi kebiasaan,” katanya.

Syamsul menjelaskan, selain faktor lingkungan, penyebab penyalahgunaan narkoba adalah diri sendiri, keluarga, dan kelompok atau sindikat. Sebenarnya ada lagi pemicu lain penyebab penyalahgunaan narkoba, tapi menurut Syamsul, empat hal itu menjadi yang paling berpengaruh.
“Penyebab penyalahgunaan narkoba adalah pribadi atau diri sendiri, lingkungan, keluarga, dan kelompok atau sindikat. Sesungguhnya banyak sekali faktornya, tapi kami rangkum menjadi empat faktor itu. Kemudian jenis narkoba yang paling banyak digunakan itu ganja, sabu-sabu dan ekstasi,” jelasnya.
Oleh karena itu, Kepala BNN Kota Kendari, Murniaty, mengajak media cetak maupun elektronik untuk ikut mengedukasi masyarakat tentang bahaya penggunaan narkoba melalui konten dan isi berita.
“Narkoba ini menjadi tugas utama kita dan insan pers untuk selalu mengedukasi masyarakat terkait keadaan jika menggunakan narkoba, melalui pembuatan konten, video, dan sebagainya,” katanya.
Senada dengan Murniaty, pemateri kedua workshop, Inong Saputra, meminta agar media jeli dan cerdas dalam mencari sudut pandang pemberitaan narkotika.
“Ya, artinya media di sini tidak hanya fokus pada berita penangkapan saja, tetapi ada hal lain yang menarik untuk dibaca. Yang perlu didesain oleh media, agar pemberitaan terlihat menarik, tidak hanya terkesan penangkapan-penangkapan saja,” pungkasnya.





