Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Entertainment

Fashion Designer asal Wakatobi Pamerkan Tenun Masalili dan Buton di Kota Paris

Fashion Designer asal Wakatobi Pamerkan Tenun Masalili dan Buton di Kota Paris
Fashion designer asal Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) bernama St. Rachmatia Hidayat (tengah) bersama dua orang model yang mengenakan kostum rancangannya pada Front Row Paris 2022 di Kota Paris, Prancis. Foto: Istimewa.

WakatobiFashion designer asal Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) bernama St. Rachmatia Hidayat memamerkan tenunan khas Masalili dan tenunan khas Buton pada sebuah ajang fashion di Kota Paris, Prancis.

Kegiatan fashion yang bertajuk Front Row Paris 2022 tersebut diselenggarakan oleh Indonesian Fashion Chamber di Bateau Chansonnier Port Debilly dan La Galerie Bourbon, Paris, Perancis, pada 3 – 4 September 2022 lalu.

Ajang tersebut diikuti oleh 23 fashion designer yang tersebar di seluruh nusantara. Para peserta menampilkan berbagai koleksi busana yang ada di bumi pertiwi kepada para penonton yang mayoritas merupakan masyarakat Eropa.

“Saya berkolaborasi dengan penenun bernama Wa Ode Obi, bawakan tenun Masalili dikombinasikan dengan aksen tenun Buton pada saat di Paris,” kata St. Rachmatia Hidayat kepada Kendariinfo, Rabu (14/9).

Pada saat street fashion, wanita yang akrab disapa Tia Hidayat ini memamerkan dua look busana dengan corak khas bernuansa hitam kombinasi tenunan Masalili dan tenunan khas Buton, Sultra.

“Ada 2 look busana dengan tema ‘Asmaraloka’ yang diperagakan oleh 2 model dari agency Paris. Tenun Masalili dari Kabupaten Muna saya kombinasikan dengan tenun Buton dari Kota Baubau,” tambahnya.

Tia Hidayat menjelaskan, ‘Asmaraloka’ memiliki arti Dunia Penuh Cinta. Dia menyebut, konsep busana tersebut terinspirasi dari style Androgini yang sudah ada sejak tahun 1960-an di Eropa.

Baca Juga:  Educamp Amanagappa Outdoor: Camping Seru dan Anti-Mainstream

“Dalam konsep ini terinspirasi dari era Yunani Romawi Kuno di Eropa, yang disebut dengan style Androgini. Androgini adalah style fashion yang marak di era 1960-an, konsep ini sudah ada sejak abad Romawi Kuno di Eropa. Androgini merupakan 2 kata yang diadaptasi dari bahasa Yunani yakni, andros yang berarti laki-laki dan gyne yang berarti perempuan,” jelasnya.

Banyak koleksi baju dari para desainer yang di-show kan langsung habis terjual karena diserbu pembeli. Dia pun sampai dikejar-kejar oleh pembeli namun ia enggan untuk menjual busananya.

“Beberapa teman-teman designer menjual baju mereka dan 80% laku terjual. Kalau saya tidak menjualnya karena belum ada niat untuk dijual,” bebernya.

Ia berharap dengan tampilnya tenun Masalili dan Buton di negara Prancis dapat memberikan motivasi kepada para penenun yang ada di Sultra. Selain itu, agar warga Sultra terus mau belajar dalam pengembangan motif dan kualitas tenun sehingga bisa berdaya saing dengan nilai jual tinggi.

“Semoga para ina-ina dan ibu-ibu penenun di Sultra semakin giat dan mau terus mengembangkan inovasi, tapi hal itu harus terus dapat dukungan juga dari pemerintah,” pungkasnya.

ADVERTISEMENT
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten