Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Intip Keindahan Pantai Kelapa Kuning Wawonii, Jadi Objek Wisata Baru di Konawe Kepulauan

Intip Keindahan Pantai Kelapa Kuning Wawonii, Jadi Objek Wisata Baru di Konawe Kepulauan
Ratusan kelapa yang tumbuh subur berjajar rapi menghiasi kawasan Pantai Kelapa Kuning di Konawe Kepulauan. Foto: Facebook Rahma Tya. (2022).

Konawe Kepulauan – Pantai bisa menjadi salah satu cara yang cocok untuk menyegarkan pikiran dan semangat kembali menghadapi segala rutinitas. Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk menghabiskan waktu liburan, terutama di akhir pekan. 

Merasakan deburan ombak dan angin yang bertiup semilir salah satu kenikmatan tersendiri yang dibutuhkan oleh wisatawan. Terlebih, jika tempat tersebut memiliki keunikan tersendiri dari yang lainnya. Di Kabupaten Konawe Kepulauan ada sebuah pantai yang memang cukup unik dari pantai lainnya di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Tentu pantai umumnya memiliki pasir yang bersih, tak terkecuali di tempat ini. Tetapi, kelebihan dan keunikannya ternyata ada di tanaman pohon kelapa yang tumbuh subur di atas pasir. Setidaknya ada 125 pohon kelapa kuning berjajar rapi di tepi pantai sepanjang 200 meter. Sehingga, nama tersebut diambil dari keunikan itu yakni Pantai Kelapa Kuning.

Orang tua mengawasi anak-anaknya sedang bermain air di Pantai Kelapa Kuning.
Orang tua mengawasi anak-anaknya sedang bermain air di Pantai Kelapa Kuning. Foto: Google Maps/Owan.

Pantai ini cukup bersih dan terawat. Memang fasilitas umum belum begitu mumpuni, tapi sudah bisa digunakan dengan baik. Salah satu penyebabnya karena kepemilikan objek wisata baru ini ternyata kepunyaan pribadi yang merupakan warga setempat. Tidak ada gelombang di Pantai Kelapa Kuning ini sehingga menjadi pilihan yang sangat cocok untuk semua umur untuk bermain air. Bahkan, kebanyakan wisatawan keluarga yang hendak menemani anaknya mandi di laut, pantai ini menjadi pilihan.

Semua kelapa yang ada di pantai ini sudah memiliki buah lebat. Tinggi batang kelapa rata-rata mencapai 50 cm hingga 1 meter. Saking pendeknya kelapa-kelapa yang tumbuh, buahnya yang lebat menjuntai ke bawah nyaris menyentuh pasir. Usia kelapa di pantai ini berkisar 6 tahun. Dari keterangan pemiliknya, kelapa-kelapa ini sudah mulai berbuah sejak umur 3 tahun hingga saat ini.

Wisatawan yang hendak mencicipi kelapa kuning hasil buah tangan si pemilik dan keluarganya diperbolehkan. Kelapa-kelapa ini pula dipatok dengan tarif yang sangat ramah di kantong.

Namun dibalik keindahan dan keunikan pantai yang menjadi objek wisata baru dan sempat viral di Wawonii Barat ini, ada sosok pensiunan guru yang berjuang pontang-panting di kawasan ini. Dialah Muhammad Harun R, seorang pensiunan guru SMP Negeri 5 Kendari. Harun memilih pulang ke kampung halamannya untuk mengelola tanah warisan keluarga sejak tahun 2013 silam.

Baca Juga:  BLK Kendari Bertaraf Internasional Bakal Dibangun Akhir Tahun Ini
Ratusan kelapa yang tumbuh subur berjajar rapi menghiasi kawasan Pantai Kelapa Kuning di Konawe Kepulauan.
Ratusan kelapa yang tumbuh subur berjajar rapi menghiasi kawasan Pantai Kelapa Kuning di Konawe Kepulauan. Foto: Google Maps/Teguh Adi.

“Saya dulu guru di SMP 5 Kendari dan setelah selesai mengabdi dan memasuki masa pensiun, saya mencoba menanam kelapa ini dengan keterbatasan ilmu soal pariwisata,” kata Harun kepada Kendariinfo, Rabu (18/1/2022).

Perjuangan Harun dalam melestarikan kelapa-kelapa ini bukan perkara yang mudah. Selain harus menunggu waktu hingga 3 tahun, Harun yang ditemani anak dan istrinya terus merawat kelapa-kelapa ini sejak kecil dengan kasih sayang. Bibit tanaman yang memiliki nama lain yakni Kelapa Gading ini dibelinya saat masa akhir berada di Kota Kendari sebelum kembali ke kampung halamannya.

Bibit kelapa ini lalu diboyong ke Wawonii Barat untuk dibudidayakan. Bibit kelapa yang dibeli melebihi jumlah yang sudah berkembang saat ini. Semua ongkos pengelolaannya menggunakan dana pribadi. Harun harus berjibaku melawan hama tanaman ini seperti binatang babi yang kerap merusak saat proses penanaman awal. Ia terpaksa harus mengganti kelapa yang rusak dengan yang baru. Alhasil kelapa yang ditanamnya ini sudah berusia 6 tahun dengan buah dan daun yang sangat lebat.

Ratusan kelapa yang tumbuh subur berjajar rapi menghiasi kawasan Pantai Kelapa Kuning di Konawe Kepulauan.
Ratusan kelapa yang tumbuh subur berjajar rapi menghiasi kawasan Pantai Kelapa Kuning di Konawe Kepulauan. Foto: Facebook Rahma Tya. (2022).

Harun mengaku inisiatif mengembangkan budidaya kelapa kuning ini karena ingin menjaga lahan warisan milik orang tuanya. Sebab, takutnya jika tanah dibiarkan terbengkalai tanpa terurus bisa berakibat dipatok orang-orang yang tak bertanggung jawab. Orang tuanya meninggalkan tanah seluas hampir 32 hektar. Sebagiannya berada di pesisir pantai.

“Ini adalah pantai pribadi. Karena berada di atas lahan milik warisan orang tua kami yang harus dijaga karena takut dikuasai orang-orang. Makanya saya tanamkan pohon. Sementara pohon Kelapa Kuning ini masih berada di pantai, rencananya saya akan tanamkan semua kelapa di lahan yang dari pantai hingga ke atas arah jalan. Alhamdulillah tanah warisan kami ini sudah bersertifikat,” bebernya.

Baca Juga:  Mahasiswa Kendari Dibacok di Depan UHO Usai Tegur Temannya agar Tak Ribut

Setelah selesai mengabdi menjadi seorang guru sekolah, Harun sempat bepergian ke tempat-tempat pariwisata yang terkenal seperti Pulau Bali dan bermimpi mengembangkan pariwisata di kampung halamannya. Mimpinya pun perlahan mulai menjadi kenyataan. Ia hanya berharap agar berguna bagi daerahnya setelah sekian lama mengabdi di tanah rantau.

ADVERTISEMENT

“Saya ini seorang guru, tidak punya basic atau ilmu di sektor pariwisata. Tapi dengan ini saya yakin sudah membantu membangun Wawonii di sektor pariwisatanya,” ungkap Harun.

Seorang wisatawan sedang menikmati panorama matahari terbenam di Pantai Kelapa Kuning.
Seorang wisatawan sedang menikmati panorama matahari terbenam di Pantai Kelapa Kuning. Foto: Google Maps/Karyono Kendari.

Untuk retribusi masuk, keluarga Harun memang mematok tarif untuk kategori anak-anak Rp2.000 dan dewasa Rp5.000. Retribusi dengan seikhlasnya pernah juga dicoba tetapi tidak berjalan dengan baik. Fasilitas umum sulit terbangun dengan baik dan cepat. Harun menjelaskan dengan retribusi itu, pemanfaatannya untuk membangun fasilitas umum sebagai penunjang pariwisata. 

“Saya kan proses membangun untuk lahan parkir, gazebo, hingga akses masuk, saya cobalah tapi tidak bisa membantu membangun fasilitas umum tadi. Makanya saya coba untuk memasang tarif agar bisa membantu saya melengkapi fasilitas yang mumpuni,” ungkapnya.

Walaupun belum terkenal luas, pantai ini cukup ramai dikunjungi saat akhir pekan atau libur nasional. Ia hanya berharap hadirnya objek wisata baru itu bisa membantu perekonomian keluarganya hingga bisa mewariskan ke anak-cucunya kelak dan membantu daerahnya dalam pengembangan pariwisata di Wawonii Barat.

Menikmati buah kelapa di pinggir pantai Kelapa Kuning Wawonii.
Menikmati buah kelapa di pinggir Pantai Kelapa Kuning Wawonii. Foto: Google Maps/Iskandar.

“Kalau paling ramai itu Sabtu-Minggu. Memang belum banyak pengunjung yang datang, salah satunya karena pantai ini masih sangat baru dibuka, ya kurang lebih mulai dilirik baru sejak 5 bulan lalu. Seperti tahun baru kemarin saya hitung pengunjung kurang lebih mencapai 900 orang,” ungkapnya.

Titik wisata pantai kelapa kuning ini masih dalam jalur dengan arah Pantai Kampa. Jika Pantai Kampa membutuhkan waktu hingga 30 menit, pantai ini hanya membutuhkan 10 menitan dari Pelabuhan Feri Langara.

Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten