Kasus Pengupas Kelapa Tewas Mengenaskan di Konawe: Sejumlah Saksi Diperiksa, Motif Belum Terungkap

Konawe – Kepolisian Sektor (Polsek) Tongauna membeberkan sejumlah fakta terkait kasus pria berinisial BO yang ditemukan meninggal dunia dengan kondisi bersimbah darah di Kelurahan Sendang Mulya Sari, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Selasa (7/4/2026).
Kapolsek Tongauna, Ipda Fajar Sapan, mengatakan korban merupakan warga Desa Ambepulu, Kecamatan Tongauna. Korban disebut tidak memiliki pekerjaan tetap, namun kerap membantu warga sekitar memungut kelapa jatuh hingga mengupas kelapa.
“Semasa hidupnya, korban sering memungut kelapa jatuh. Ada juga yang mengajaknya untuk membantu mengupas kelapa,” kata Fajar kepada Kendariinfo, Selasa (21/4).

Menurut Fajar, korban ditemukan tewas di kawasan perkebunan dengan sejumlah luka pada bagian kepala dan wajah. Luka tersebut diduga merupakan bekas sayatan senjata tajam. Namun demikian, pihak kepolisian belum dapat memastikan penyebab pasti kematian korban.
Polisi masih mendalami apakah luka tersebut akibat tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan kematian atau kemungkinan lain, termasuk dilakukan oleh korban sendiri.
“Perkara ini masih kami selidiki. Kami belum bisa memastikan apakah ini penganiayaan atau dilakukan sendiri. Sejumlah saksi sudah kami periksa dan masih kami dalami keterangannya,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan awal, lanjut Fajar, korban diketahui tidak memiliki konflik dengan pihak mana pun. Meski demikian, korban kerap membawa senjata tajam yang biasa digunakan untuk mengupas kelapa, dan alat tersebut juga ditemukan di lokasi kejadian.
“Korban memang sering membawa senjata tajam itu untuk mengupas kelapa, dan itu juga yang ditemukan di tempat kejadian perkara,” jelasnya.
Terkait kondisi kejiwaan korban, Fajar menyebut pihaknya memperoleh informasi dari keluarga dan saksi bahwa korban memiliki sedikit gangguan mental. Namun, hal tersebut belum dapat dipastikan secara medis.
“Informasi yang kami dapat, korban ada sedikit gangguan mental. Tapi kami tidak bisa memastikan apakah masuk kategori ODGJ,” paparnya.
Fajar menegaskan, penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap secara pasti penyebab kematian korban.
“Nanti akan kami sampaikan perkembangan selanjutnya,” pungkasnya.





