Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Muna

KDMP di Wasolangka Muna Disegel, Warga Protes Bangunan Dikerjakan Serampangan

KDMP di Wasolangka Muna Disegel, Warga Protes Bangunan Dikerjakan Serampangan
Pembangunan Gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kelurahan Wasolangka, Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) disegel warga. Foto: Istimewa. (11/10/2026).

Muna – Proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kelurahan Wasolangka, Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) disegel warga, Minggu (11/10/2026). Penyegelan dilakukan sebagai bentuk protes atas pendirian KDMP yang diduga dikerjakan serampangan.

Warga Kelurahan Wasolangka, Haswin, menjelaskan proyek disegel lantaran fondasi utama sebagai dudukan struktur bangunan atau sloof dipasang menggunakan material bata ringan. Haswin menilai penggunaan bata ringan pada fondasi tidak sesuai standar dan prosedur pembangunan gedung.

“Fondasi sloof bangunan dari depan sampai belakang dipasang tidak menggunakan material batu, tetapi memakai bata ringan. Struktur ketahanan gedung kan tidak akan kuat kalau dikerjakan seperti ini,” kata Haswin kepada Kendariinfo, Senin (12/10).

Komando Distrik Militer (Kodim) 1416/Muna di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Komando Distrik Militer (Kodim) 1416/Muna di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: La Ode Muhamad Aslam/Kendariinfo. (13/10/2026).

Pembuatan tiang bangunan yang bergeser ke samping dan tidak berada tepat di tengah dudukan fondasi juga turut dipersoalkan warga. Selain itu, permukaan tanah lebih tinggi dibandingkan dengan letak bangunan.

Haswin mengungkapkan selama pengerjaan proyek, pelat duiker jalan dan lapangan sepak bola rusak akibat dilintasi truk saat membawa material. Meski pihak pelaksana telah memperbaikinya, Haswin menilai pembenahannya asal-asalan.

“Salah satu tiang gedung jauh bergeser. Selain itu struktur tanah lebih tinggi daripada letak gedung. Sementara perbaikan pelat duiker, besinya hanya ditempel dan langsung diisi campuran semen dan pasir. Perbaikannya dikerjakan asal-asalan,” ungkapnya.

Tak hanya soal bangunan, Haswin membeberkan aksi penyegelan juga didasari pemotongan upah pekerja warga Wasolangka. Berdasarkan kesepakatan awal, upah tukang ditetapkan sebesar Rp200 ribu. Namun, saat menerima gaji, para pekerja hanya dibayar Rp170 ribu.

“Awalnya yang mengerjakan proyek pekerja lokal di sini. Namun, mereka memutuskan untuk berhenti karena gaji yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian awal. Sekarang yang kerja proyek warga dari Kabupaten Buton Tengah,” ucapnya.

Saat warga melakukan penyegelan, Haswin mengaku didatangi pihak Komando Distrik Militer (Kodim) 1416/Muna. Dalam pertemuan, pihak Kodim 1416/Muna menyampaikan persoalan yang terjadi merupakan tanggung jawab pelaksana proyek bernama Marzuki.

Haswin bersama warga kemudian meminta penjelasan kepada Marzuki yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Kanapanapa, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah (Buteng). Namun, saat ditanya, Marzuki mengaku pekerjaan bangunan berada di bawah kendali Kodim 1416/Muna.

“Di lokasi pekerjaan, intel dari Kodim menemui kami dan menyampaikan akan melakukan mediasi secepatnya. Ia juga mengatakan terkait permasalahan yang ada merupakan tanggung jawab dari pihak ketiga. Sementara Marzuki bilang proyek itu ditangani Kodim semua,” ujarnya.

Pelaksana Proyek KDMP Wasolangka, Marzuki, sebelumnya berjanji akan mengirimkan klarifikasi soal penggunaan bata ringan pada fondasi bangunan melalui pesan WhatsApp. Namun, Marzuki belum mengirimkan pesan terkait persoalan itu hingga Selasa (13/10).

“Tanya saja, kalau soal itu nanti saya ketik dan kirimkan klarifikasinya, yah,” kata Marzuki kepada Kendariinfo, Minggu (11/10).

Sementara tentang letak tiang bangunan bergeser, kata Marzuki, akibat besi pada pilar berpindah posisi. Menurutnya, itu hal wajar dalam pengerjaan proyek.

Marzuki menyebut terkait pembayaran upah pekerja bukan menjadi kewenangannya, melainkan ditentukan Kodim 1416/Muna. Marzuki mengungkapkan mengenai pemotongan gaji pekerja merupakan arahan dari Komandan Kodim (Dandim) 1416/Muna Letkol Inf. Salman Habibu, yang disampaikan melalui Bintara Pembina Desa (Babinsa) Sertu Faidin.

“Biasalah proyek begitu, di mana-mana kalau salah ukuran pasti digeser sedikit besinya. Honor para pekerja itu yang berikan babinsa. Babinsa menyampaikan pemotongan honor merupakan arahan dari Dandim 1416/Muna. Terkait kerusakan pelat duiker dan lapangan sepak bola, itu sudah diperbaiki,” ujarnya.

Babinsa Kelurahan Wasolangka, Sertu Faidin, enggan memberikan penjelasan terkait pemotongan upah pekerja lokal dalam pembangunan KDMP di Kelurahan Wasolangka saat dihubungi Kendariinfo, Senin (12/10).

“Saya tidak bisa jawab apa-apa. Nanti datang saja ke kantor ketemu atasan saya,” ujar Faidin.

Penerangan Kodim (Pendim) 1416/Muna, Koptu Harmono, mengatakan belum bisa memberikan klarifikasi terkait penyegelan pembangunan KDMP Wasolangka dan pemotongan upah pekerja. Hal itu karena Kodim 1416/Muna saat ini tengah mengalami pergantian pimpinan.

“Saya tidak bisa berikan klarifikasi kalau soal itu, karena belum serah terima jabatan dandim,” singkat Harmono kepada Kendariinfo, Selasa (13/10).

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten