Kemnaker Siapkan Innovation Hub di Kendari, Penyandang Disabilitas Didorong Jadi Pelaku Usaha

Kendari – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Republik Indonesia (RI) mulai menyiapkan konsep innovation hub atau pusat pengembangan inovasi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai upaya membuka lapangan kerja baru, termasuk bagi penyandang disabilitas dan pengusaha UMKM.
Program tersebut diperkenalkan dalam kegiatan Layanan Kewirausahaan dan Sosialisasi Penempatan serta Pemberdayaan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas yang digelar Balai Perluasan Kesempatan Kerja (BPKK) Kendari di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kendari, Sabtu (23/5/2026).
Staf Khusus (Stafsus) Kemnaker RI, Sukro Muhab, mengatakan innovation hub akan menjadi ruang kolaborasi antara dunia usaha, pelaku industri, dan masyarakat untuk melahirkan berbagai inovasi baru yang bisa menciptakan peluang kerja.
Menurutnya, forum itu nantinya difungsikan sebagai tempat merancang model bisnis, pola pelatihan kerja, hingga pengembangan solusi usaha yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
“Konsepnya bukan hanya pelatihan biasa, tetapi membangun ekosistem inovasi dan produktivitas agar masyarakat bisa menciptakan pekerjaan, bukan sekadar mencari kerja,” katanya.
Ia menjelaskan, program tersebut juga akan dikembangkan menjadi klinik produktivitas yang melibatkan praktisi usaha dan pelaku industri berpengalaman untuk membimbing peserta dalam meningkatkan kualitas bisnis dan daya saing usaha.
Peserta nantinya akan mendapat pembekalan mengenai pengembangan usaha, inovasi bisnis, hingga tata kelola usaha yang baik sebelum diterjunkan mendampingi UMKM dan usaha kecil menengah.
Sementara itu, Kepala BPKK Kendari, Mashur, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memperbesar akses kerja bagi penyandang disabilitas melalui pelatihan, pemberdayaan, hingga penempatan kerja sesuai kemampuan masing-masing.
Ia menyebut program itu juga menjadi langkah untuk mengurangi stigma terhadap tenaga kerja disabilitas sekaligus membangun lingkungan kerja yang lebih inklusif.
“Kami ingin menciptakan ruang yang setara bagi semua kelompok masyarakat untuk berkembang, termasuk penyandang disabilitas, perempuan, dan pemuda di wilayah marginal,” ujar Mashur.
Mashur menjelaskan, konsep Talent and Innovation Hub (TIH) yang dibangun tidak hanya berfokus pada pelatihan keterampilan, tetapi juga mengintegrasikan inkubasi bisnis hingga proses komersialisasi usaha.
Dalam sistem itu, peserta didorong memiliki kemampuan menyelesaikan masalah, membangun pola pikir kewirausahaan, serta menciptakan inovasi yang bisa diterapkan di dunia usaha.
Kegiatan tersebut diikuti 250 peserta yang terdiri dari 110 penyandang disabilitas dan 140 masyarakat umum yang telah memiliki usaha rintisan. Selain itu, sebanyak 23 perwakilan perusahaan turut hadir dalam sosialisasi penempatan dan pemberdayaan tenaga kerja disabilitas.





