Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Kisah Siswa di Wakatobi Pasca-Kehilangan Orang Tua, Jualan Kelapa hingga Jalan Kaki 14 Kilometer Demi Tetap Sekolah

Kisah Siswa di Wakatobi Pasca-Kehilangan Orang Tua, Jualan Kelapa hingga Jalan Kaki 14 Kilometer Demi Tetap Sekolah
Leni, siswi kelas 10 SMU Negeri 1 Wangiwangi berada di ruang kelas. Foto: Herlis Ode Mainuru/Kendariinfo. (20/10/2023).

Wakatobi – Pasca-kehilangan kedua orang tuanya, siswi Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 1 Wangiwangi di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) rela menjadi penjual kelapa muda. Bahkan, untuk tetap melanjutkan pendidikan di bangku SMA, ia nekat berjalan kaki dan menempuh perjalanan sejauh 14 kilometer dalam sehari.

Siswi SMU tersebut bernama Leni (15). Ia tinggal di pedalaman Desa Wungka, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi. Saat ini, ia duduk di bangku kelas 10.

Saat ditemui Kendariinfo, Leni mengaku hidup bersama ayah, ibu, nenek, dan dua orang adiknya. Namun, kebahagian Leni untuk bercumbu bersama orang tuanya tak berlangsung lama. Pasalnya, ayah dan ibunya lebih dulu kembali ke pangkuan sang Khalik, beberapa tahun lalu dan kala itu, Leni masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Leni pun tinggal bersama nenek dan dua adiknya yang masih kecil.

Detik-detik siswi SMU Negeri 1 Wangiwangi bernama Leni saat berjalan kaki menuju sekolah.
Detik-detik siswi SMU Negeri 1 Wangiwangi bernama Leni saat berjalan kaki menuju sekolah. Foto: Herlis Ode Mainuru/Kendariinfo. (20/10/2023).

Harapan Leni untuk melanjutkan bangku sekolah nyaris sirna. Pasalnya, ia tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan. Apalagi, kedua adiknya juga masih sekolah, terlebih lagi kondisi si nenek yang telah lumpuh karena penyakit yang diderita.

Dengan model nekat dan di tengah-tengah moment pilu yang dialami, Leni ternyata membulatkan tekad untuk tetap melanjutkan sekolah dan ingin menyelesaikan studinya. Walhasil, Leni rela menjadi tukang panjat kelapa sekaligus menjual kelapa muda ke pasar-pasar yang ada di Wakatobi.

Baca Juga:  Pengamat Soroti Pernyataan Pihak Bendungan Ameroro Terkait Polemik Petani Sawah Terancam Gagal Tanam di Konawe

“Saya panjat kelapa kak, saya jual kelapa muda. Biasanya saya bawa 20 biji kelapa muda di pasar, sa jual Rp5 ribu perbiji. Itu uang yang saya pakai untuk makan sama adik-adik ku sekaligus bantu biayanya nenek ku yang sakit,” katanya, Jumat (20/10/2023).

Leni menambahkan, uang hasil menjual kelapa ternyata tak mampu menopang kehidupannya. Sehingga, adik laki-laki Leni bernama Juma memilih putus sekolah di bangku SD. Bahkan, Juma rela menjadi kuli bangunan untuk membantu biaya sekolah kakaknya (Leni) dan adiknya yang kecil bernama Dewi, yang juga duduk di bangku SD.

“Kalau adeku Juma, putus sekolah di SD. Dia jadi kuli bangunan untuk bantu sekolah ku, adikku sama nenek ku,” tambahnya.

Tak hanya itu, Leni menceritakan lika-liku yang ia mengalami untuk tetap sekolah. Jarak sekolah dan rumahnya jauh. Bahkan ia tak punya kendaraan. Untuk tetap sampai di sekolah, ia nekat jalan kaki sejauh 7 kilometer. Sehingga, dalam sehari itu, ia mampu menempuh jarak 14 kilometer dengan berjalan kaki dan melewati beberapa kawasan hutan yang sepi.

“Biasanya saya terlambat karna jauh rumahku. Sesekali kalau ada yang lihat saya di jalan, saya dibonceng,” paparnya.

Saat ini, Leni masih rutin dengan kebiasaannya. Berjalan kaki belasan kilometer hingga menjadi penjual kelapa demi tetap menyelesaikan masa putih abu-abu di SMU Negeri 2 Wangiwangi.

Baca Juga:  Polri Berhasil Ungkap Peredaran 2,5 Ton Sabu Jaringan Internasional, Satu Pelaku di Tembak Mati
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten