Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Education

Mahasiswa KKN FH UHO Edukasi Masyarakat di Kelurahan Mokoau

Mahasiswa KKN FH UHO Edukasi Masyarakat di Kelurahan Mokoau
Edukasi hukum mahasiswa KKN Tematik FH UHO yang diikuti masyarakat serta RT dan RW di Kantor Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari. Foto: La Ode Risman Hermawan/Kendariinfo. (2/9/2022).

Kendari – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Fakultas Hukum (FH), Universitas Halu Oleo (UHO) tahun 2022 memberi edukasi terkait kebijakan kriminal dalam upaya pemulihan ekonomi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Edukasi itu disampaikan kepada masyarakat di Kantor Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Sultra, Jumat (2/9/2022) sekitar pukul 10.00 WITA.

Mahasiswa KKN Tematik FH UHO yang berjumlah 16 orang itu masing-masing bernama Resky Eka Racmad Amiruddin, Muh. Risqi Fadilah Mahmud, Virly Anggraeni, N., Ander, Tritamia Anikzah Natalia, Laode Muh. Arif Rahman Ma’ruf, Titin, Ridwan, Reza Budi Astuti, Andi Mulya, Aryo, Samsul Bahri, Nuansyah Saleh, Ld. Muh. Anjas Saputra, Melan Cindy Claudia, dan Mirzad Hadiansyah.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Tematik FH UHO bersama pemerintah kecamatan setempat serta Bhabinkamtibmas dan Babinsa saat edukasi hukum di Kantor Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN Tematik FH UHO bersama pemerintah kecamatan setempat serta Bhabinkamtibmas dan Babinsa saat edukasi hukum di Kantor Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari. Foto: La Ode Risman Hermawan/Kendariinfo. (2/9/2022).

Sebelum memberikan edukasi, para mahasiswa terlebih dulu mengidentifikasi kejahatan yang paling sering terjadi di lokasi KKN mereka dengan melakukan survei. Setelah itu, mereka lalu mengklasifikasikan tingkat kejahatan yang terjadi di tengah masyarakat.

Dari pengklasifikasian tersebut, mahasiswa KKN selanjutnya melakukan kampanye dan edukasi terkait kebijakan-kebijakan yang harus diambil untuk mencegah tindakan kriminal.

Koordinator mahasiswa KKN Tematik FH UHO Kelurahan Mokoau, Resky Eka Racmad Amiruddin mengatakan, tindak kriminal yang paling sering terjadi di daerah penempatannya adalah kasus pencurian ayam, motor, dan pesta minuman keras (miras). Dari tiga kasus kriminal yang diidentifikasi tersebut, para mahasiswa akan berkoordinasi dengan lurah setempat dan seluruh jajaran di bawahnya untuk mengambil kebijakan kriminal.

“Selain berkoordinasi dengan pemerintah setempat, kami juga melakukan kampanye di media sosial untuk mencegah atau setidaknya mengurangi tingkat kriminalitas di Kelurahan Mokoau,” kata Resky.

Baca Juga:  Sempat Mangkir, Guru Besar FKIP UHO Prof B Datangi Polresta Kendari untuk Diperiksa

Menanggapi hasil survei mahasiswa KKN Tematik FH UHO, Sekretaris Kelurahan Mokoau, Aswan mengaku akan mengambil langkah tegas. Bahkan langkah tegas itu disampaikan langsung oleh Aswan kepada Bhabinkamtibmas dan Babinsa serta jajaran di bawahnya yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

“Kalau miras tadi seperti yang disampaikan adik-adik mahasiswa, mudah-mudahan ini bisa kami berantas paling tidak kami minimalisir lagi supaya tidak ada lagi miras-miras di Kelurahan Mokoau ini,” ujar Aswan.

Selama proses identifikasi sampai edukasi dan sosialisasi kebijakan kriminal tersebut, para mahasiswa didampingi langsung oleh akademisi FH UHO, yaitu Herman sebagai Ketua Tim Dosen Pembimbing Lapangan serta Muhammad Jufri, Guasman Tatawu, Ali Rizky, dan La Ode M. Sulihin sebagai anggota.

Muhammad Jufri yang juga merupakan Guru Besar Hukum Tata Negara FH UHO mengungkapkan, tingginya tingkat kriminalitas di suatu wilayah akan berdampak pada seluruh aspek kehidupan masyarakat, baik ekonomi, sosial, dan budaya.

“Misalnya teror busur atau begal sering terjadi di suatu daerah, orang akan malas keluar. Bahkan, pelaku-pelaku UMKM misalnya, tidak lagi berjualan karena ketakutan. Itu contoh tingkat kriminalitas memengaruhi ekonomi masyarakat,” ungkapnya Jufri.

Menurut Jufri, pengambilan kebijakan kriminal memang tidak mudah karena harus melakukan riset mendalam untuk mengetahui faktor kondusif seseorang berbuat tindak pidana. Selain itu, faktor kondusif setiap orang dan upaya pencegahannya akan berbeda-beda. Bahkan wilayah satu dengan yang lain pasti tidak akan sama persis faktor kondusifnya.

ADVERTISEMENT
Baca Juga:  Polres Baubau Luncurkan K-POLISI, Layanan Pertama Kolaborasi Polisi-Ojol di Indonesia

Namun, Jufri percaya bahwa tindakan kriminal dapat dicegah dengan pengendalian diri setiap individu. Dari individu itu, pencegahan lalu dilanjutkan pada keluarga hingga lingkungan yang lebih besar yaitu di masyarakat.

“Paling utama dalam pencegahan kriminal adalah pendekatan keluarga. Paling tidak memulai dari diri sendiri, yaitu pengendalian diri. Jadi, bagaimana diri sendiri menjadi suri teladan. Lalu melangkah ke lingkungan yang lebih kecil dulu, yaitu keluarga. Setelah itu melangkah lagi ke lingkungan yang lebih luas, yaitu lingkungan masyarakat,” jelasnya.

Sementara Dosen Pendamping Lapangan yang lain, La Ode M. Sulihin, mengatakan pertumbuhan ekonomi merupakan tujuan mendasar dalam setiap pengambilan kebijakan. Pertumbuhan ekonomi suatu daerah untuk jangka waktu yang panjang merupakan prasyarat proses pengentasan kemiskinan. Hal itu memungkinkan terciptanya peluang kerja.

“Pekerjaan dapat meningkatkan sumber pendapatan negara yang lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi memungkinkan dunia modern untuk mencapai kemakmuran bagi masyarakat secara umum,” katanya.

Namun, jika kejahatan terjadi di tengah masyarakat, tentu akan sangat berpengaruh pada kegiatan ekonomi, karena menghalangi pembangunan negara. Selain itu, kejahatan juga merusak infrastruktur sosial masyarakat. Ketakutan yang ditimbulkan oleh penjahat dapat memengaruhi aktivitas bisnis atau perusahaan di suatu daerah.

“Kejadian kejahatan dapat mengakibatkan kondisi ekonomi yang buruk secara terus-menerus. Selain itu, kejahatan dapat pula menyebabkan terjadinya jebakan kemiskinan (poverty trap) yang mengakibatkan perekonomian berada dalam dua ekuilibrium. Maksudnya adalah kejahatan yang tinggi dengan produktivitas rendah atau pendapatan tinggi dengan tingkat kejahatan rendah,” pungkasnya.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten