Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Travel

Menelusuri Meriam Peninggalan Portugis di Konawe, Bisa Jadi Wisata Mistis Pilihan

Menelusuri Meriam Peninggalan Portugis di Konawe, Bisa Jadi Wisata Mistis Pilihan
Warga Nii Tanasa saat menggelar upacara bendera 17 Agustus 2021. Foto: Istimewa.

Konawe – Jejak bangsa Portugis di Bumi Anoa masih bisa terlihat dengan adanya bukti peninggalan sebuah meriam tua yang terletak di puncak gunung Desa Nii Tanasa, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Meriam dengan ukuran panjang tidak kurang dari 3 meter itu berada di ketinggian meter di atas permukaan laut (MDPL) 319. Meriam ini berbentuk lonjong dan memanjang. Mempunyai lubang di moncongnya yang mengarah ke laut. Kondisi meriam tersebut sudah berkarat, berlumut, dan di bawah meriam terdapat batu sebagai landasan meriam.

Konon, meriam ini masih menyimpan banyak kisah mistis yang dipercaya oleh masyarakat sekitar. Seperti sosok perempuan penjaga yang kerap muncul secara tiba-tiba dan sosok kakek bergaya Portugis.

“Kalau di atas itu memang masih angker, beberapa orang-orang baru yang kalau naik mungkin masih bisa rasakan ada mistis-mistisnya,” kata Ketua Karang Taruna Nii Tanasa, Muhammad Arif kepada Kendariinfo, Sabtu (6/8/2022).

Sudah banyak kejadian-kejadian janggal yang selama ini dirasakan oleh warga setempat yang hendak melihat langsung meriam peninggalan Portugis tersebut. Salah satu pantangan yang tidak boleh dilakukan saat berada di kawasan meriam Portugis yakni membuat riuh dan gaduh.

Menurut Arif, masyarakat setempat masih memercayai jika kawasan tersebut memiliki penunggu dari kaum dunia lain yang apabila membuat gaduh berarti mengganggu aktivitas mereka.

Entah itu takhayul atau kepercayaan akan keberadaan kaum selain manusia, masyarakat setempat masih meyakini kawasan tersebut menyimpan banyak misteri.

“Kalau ribut-ribut itu biasa tiba-tiba hujan, tidak ada angin tidak ada tanda-tanda, hujan saja tiba-tiba,” ungkap dia.

Bahkan pengakuan orang-orang baru yang pernah mengunjungi lokasi tersebut kerap diperdengarkan dengan adanya gangguan-gangguan yang kurang dinalar.

Baca Juga:  Sebabkan Orang Meninggal, Polres Muna Terus Selidiki Pelaku yang Pasang Balok di Tengah Jalan

Arif tak menampik jika tempat itu sering digunakan pengunjung atau masyarakat pecinta alam untuk berkemah sekaligus uji nyali.

“Kalau orang baru dan tidak terlalu tahu aturannya biasa dengar orang menangis dan tertawa,” ungkap Arif.

Menurut Arif, seyogianya tidak hanya di tempat tersebut harus mendapati hal-hal mistis. Di mana pun itu, terlebih jika kawasan yang masih jarang dijamah orang dan membuat riuh pasti punya pantangan.

Beberapa kejadian warga setempat mencoba mengambil sebuah tanah kawasan meriam dari berbagai penjuru mata angin guna penelitian dari pihak swasta. Namun warga tersebut mengalami hal-hal yang cukup aneh.

ADVERTISEMENT

“Dia ambil untuk sampel, setiap tanah di arah barat, timur, selatan dan utara. Kemudian dibawa pulang. Malamnya dia sakit dan bermimpi didatangi kakek-kakek Portugis. Dia diminta kembalikan tanah yang sudah diambil,” ungkap dia.

Ardy salah satu warga Kendari yang pernah berkunjung ke tempat tersebut. Ia mengaku pernah mengalami hal yang aneh saat memilih berkemah semalaman. Ardy mengaku pernah mengalami hal mistis di luar nalar manusia.

“Memang saya sudah alami bermalam di sana, cukup angker memang tempatnya, merinding kalau saya cerita,” ujar Arif.

Pengibaran bendera di puncak gunung Desa Nii Tanasa, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Pengibaran bendera 17 Agustus 2021 di puncak gunung Desa Nii Tanasa, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Dok. Irdayanti. (2021).

Ada dua cerita rakyat yang santer terdengar hingga saat ini. Dulu, lingkungan tempat meriam tertancap kokoh itu kerap terlihat bersih setiap saat. Padahal siapa orang yang dengan sengaja untuk datang membersihkan. Kedua, jangan pernah memasukkan jari di lubang mortir meriam jika harus bersusah payah mengeluarkan kembali.

“Mungkin ini bisa menjadi salah satu alternatif objek wisata pilihan yang berbau mistis,” ungkap dia.

Jalur Pendakian

Sebenarnya bukan hal yang mudah untuk naik melihat meriam Portugis tersebut. Biasanya, masyarakat setempat jika sekadar mengunjunginya atau ingin mengantar tamu yang penasaran dengan keberadaannya benda bersejarah tersebut harus melewati jalur yang sudah dipetakan.

Baca Juga:  BI Sultra Lirik Desa Malaha untuk Dikembangkan Jadi Desa Wisata

Warga setempat sudah memetakan dua jalur pendakian menuju meriam Portugis. Pertama melewati hutan yang dengan landai hingga ke puncak, tetapi perjalanan ini bisa memakan waktu hingga 2 jam lamanya.

Sedangkan jalur kedua merupakan alternatif. Biasanya masyarakat setempat memilih jalur ini karena hanya memakan waktu kurang lebih 1 jam saja. Namun jalur pendakian ini terbilang cukup ekstrem dengan kemiringan mencapai 40 – 70 derajat.

“Ada dua jalur bisa kita lewat gunung tapi memang jauh karena memutar ya kurang lebih 2 jam. Satu lagi jalan alternatif lewat kali tapi pas di pinggir gunung langsung menanjak,” ungkap warga lain, Firman.

Selain hanya memakan waktu singkat dalam perjalanan, jalur alternatif ini kerap dipilih oleh warga setempat untuk menuju lokasi meriam Portugis karena bisa menikmati air yang cukup bersih. Pengunjung tidak perlu membawa air yang cukup jika melewati jalur ini.

Firman mengungkapkan untuk mencapai puncak meriam Portugis melalui jalur alternatif ada beberapa tanda yang akan ditemui mulai dari kuburan tua para leluhur kampung, pohon beringin tua hingga pos peristirahatan.

Pengibaran bendera di puncak gunung Desa Nii Tanasa, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Pengibaran bendera 17 Agustus 2021 di puncak gunung Desa Nii Tanasa, Kecamatan Lalonggasumeeto, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Dok. Marsyad Icha. (2021).

“Di pos ini pemandangan laut sudah bisa kita nikmati. Biasanya digunakan untuk beristirahat sebelum berjalan naik ke atas,” ungkapnya.

Selain berkemah dan menyimpan cerita mistis, tempat itu juga kerap digunakan untuk memaknai hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan menggelar kegiatan upacara dan pengibaran bendera merah putih setiap peringatan 17 Agustus.

Penulis: ADN

Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten