Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Panggung Pengadilan Publik bagi Kejahatan Lingkungan Bakal Digelar di Kendari

Panggung Pengadilan Publik bagi Kejahatan Lingkungan Bakal Digelar di Kendari
Poster diskusi publik bertajuk “Api dari Tenggara untuk Bumi Nusantara” yang bakal digelar Celebes Conservation Center (Triple C) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Istimewa.

Kendari – Di Sulawesi Tenggara (Sultra), hutan perlahan hilang, bukit-bukit dipotong untuk perumahan, tanah dibuka untuk tambang, sementara sungai dan ruang hidup warga menyusut sedikit demi sedikit.

Di tengah situasi itu, Celebes Conservation Center (Triple C), bakal menggelar diskusi publik bertajuk “Api dari Tenggara untuk Bumi Nusantara” di Kota Kendari, Sultra, Senin (1/6/2026).

Bukan sekadar diskusi, ruang tersebut bakal menjadi panggung pengadilan publik untuk membongkar dugaan pelanggaran lingkungan yang selama ini dianggap luput dari perhatian.

Berbagai persoalan disoroti, mulai dari pembangunan perumahan subsidi yang diduga bermasalah, aktivitas pertambangan, pengelolaan limbah, hingga dugaan perampasan ruang hidup masyarakat.

Ketua Umum Triple C, Fingki, mengatakan forum tersebut akan memuat hasil riset dan investigasi yang selama ini mereka kumpulkan di lapangan.

“Kami akan buka semuanya secara terang-terangan. Ini bukan sekadar diskusi, tapi pengungkapan fakta pelanggaran yang selama ini ditutup-tutupi,” tegas Fingki.

Triple C juga menaruh perhatian pada konflik agraria dan menyempitnya ruang hidup warga, khususnya petani. Mereka menilai situasi di Sultra menunjukkan gejala yang semakin mengkhawatirkan.

Melalui pemutaran film dokumenter Pesta Babi, mereka ingin menunjukkan bahwa persoalan ketidakadilan lingkungan bukan hanya terjadi di daerah lain, tetapi juga hadir dekat dengan kehidupan masyarakat Sultra.

“Ini alarm keras. Apa yang terjadi di Papua, itu juga sedang terjadi di sini,” lanjut Fingki.

Forum tersebut rencananya menghadirkan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Delpedro Marhaen, peneliti Imparsial Ryadh Putuhena, serta Koordinator Jaringan Aktivis Sulawesi Akbar Busthami.

Triple C juga menyebut akan membuka data serta nama perusahaan yang diduga terlibat dalam pelanggaran lingkungan di Sultra.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten