Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Crime

Pelaku Kekerasan Perempuan dan Anak di Sultra Dilakukan Orang Terdekat

Pelaku Kekerasan Perempuan dan Anak di Sultra Dilakukan Orang Terdekat
Kepala Bidang (Kabid) Data Informasi dan Partisipasi Masyarakat, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sultra, Murdiana Hasan. Foto: Yusrin Ramadhan/Kendariinfo. (19/11/2021).

Kendari – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat ada 174 kasus kekerasan sejak bulan Januari hingga September 2021. Dari seluruh angka itu, pelaku kekerasan perempuan dan anak rata-rata merupakan orang terdekat korban.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Data Informasi dan Partisipasi Masyarakat, Dinas PPPA Sultra, Murdiana Hasan. Dia mengatakan, perempuan dan anak merupakan orang yang dianggap lemah. Karena itu, mereka tak jarang menjadi target kekerasan.

“Rata-rata orang terdekat, ada yang bahkan keluarga sendiri, memang anak dan perempuan itu menjadi orang yang dianggap lemah, jadi rentan untuk mengalami kekerasan,” katanya, Jumat (19/11/2021).

Ilustasi seorang pria memegang pisau untuk melakukan kekerasan.
Ilustasi seorang pria memegang pisau untuk melakukan kekerasan. Foto: Tumisu/Pixabay.

Dari 174 kasus, kekerasan terhadap perempuan sebanyak 58 kasus dan anak 116. Kota Baubau menjadi daerah yang paling banyak terjadi kekerasan perempuan dan anak dengan 29 kasus. Lalu disusul Kolaka 27, Kendari 25, Konawe 16, Buton Selatan (Busel) 14, Bombana 11, Buton 10, Konawe Selatan (Konsel) 9, Kolaka Utara (Kolut) 8, Wakatobi 6, Konawe Utara (Konut) 3, Buton Tengah (Buteng) 2, dan Muna 1 kasus. Sedangkan Kabupaten Buton Utara (Butur), Kolaka Timur (Koltim), dan Konawe Kepulauan (Konkep) tidak ada.

Menurut Murdiana, kekerasan terhadap perempuan anak di masyarakat diibaratkan gunung es di laut. Artinya, masih banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat namun tidak dilaporkan.

Baca Juga:  Pulang Bermain Futsal, Seorang Anggota Polda Sultra Dikeroyok OTK

“Kasus kekerasan ini sama seperti gunung es, yang terlihat sekian, tapi kita tidak tahu di bawahnya seperti apa. Masih banyak sebenarnya yang belum terlapor, mungkin karena malu, atau apa, data yang terlapor saja yang bisa kita bagikan,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

Untuk menekan jumlah kekerasan tersebut, Dinas PPPA Sultra membentuk lembaga perlindungan perempuan dan anak di masyarakat. Selain itu, Dinas PPPA Sultra juga mengedukasi korban kekerasan fisik, non-fisik, maupun verbal untuk tidak malu untuk melapor.

“Kita harap agar hal ini bisa diminimalisir dengan berbagai kegiatan penyuluhan dan edukasi,” pungkasnya.

Dinas PPPA Sultra Bentuk Puspa di Kolut untuk Kurangi Kekerasan Perempuan dan Anak

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten