Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Konawe

Perempuan di Balik Layanan Keuangan Digital Desa Pesisir Tanjung Tiram, Konsel

Perempuan di Balik Layanan Keuangan Digital Desa Pesisir Tanjung Tiram, Konsel
Hayati, pemilik gerai BRILink di Desa Tanjung Tiram, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan saat menunjukkan mesin EDC sebagai salah satu alat yang membantunya melayani transaksi pelanggannya. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (10/10/2026).

Konawe Selatan – Di pesisir Desa Tanjung Tiram, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), Hayati, seorang wanita menjalankan layanan keuangan bagi masyarakat yang membutuhkan akses perbankan tanpa harus menempuh perjalanan ke kota.

Setiap hari, sejak pukul 06.00 – 22.00 Wita, Hayati bersama suaminya, Sainal (38), melayani warga yang datang silih berganti ke kios kecil mereka, Hayati Cell. Ada anak muda yang membeli pulsa, warga yang hendak menarik uang tunai, hingga ibu-ibu yang menerima kiriman uang dari suami mereka yang merantau.

Bagi warga di desanya, keberadaan Hayati Cell bukan sekadar pilihan tempat bertransaksi. Sebelum layanan itu hadir, mereka harus pergi ke Kota Kendari untuk mengakses layanan perbankan. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 40 menit itu membutuhkan biaya bahan bakar dan tenaga, bahkan lebih merepotkan bagi warga yang hanya ingin menarik uang dalam jumlah tertentu.

Gerai BRILink milik Hayati yang menjadi penghubung warga Desa Tanjung Tiram dengan akses perbankan.
Gerai BRILink milik Hayati yang menjadi penghubung warga Desa Tanjung Tiram dengan akses perbankan. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (10/10/2026).

Hayati mulai membuka layanan BRILink pada 2021. Saat itu, belum ada agen BRILink yang aktif di desanya. Melihat kebutuhan warga yang kesulitan menjangkau bank, ia memutuskan membuka layanan tersebut setelah mendapat ide dari suaminya.

“Karena warga di sini jauh dari bank, saya buka BRILink supaya mereka lebih dekat dengan akses perbankan,” kata Hayati, Sabtu (10/10/2026).

Keputusan itu diambil ketika kondisi ekonomi keluarganya belum stabil. Sebelum mengelola kios, Hayati bekerja sebagai pengajar honorer di sebuah sekolah Islam swasta. Penghasilannya Rp300 ribu per bulan yang dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia kemudian mencoba mencari sumber pendapatan lain yang sekaligus bisa menjawab kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Hayati Cell menjadi tempat warga melakukan berbagai transaksi keuangan. Melalui layanan BRILink, ia melayani setor dan tarik tunai, pengisian saldo dompet digital, pulsa, paket data internet, pembayaran BPJS, cicilan kredit, tagihan listrik, hingga pembayaran pinjaman bank.

Membekas di ingatannya, nasabah pertama yang datang adalah tetangganya sendiri. Saat itu, tetangganya tersebut hanya ingin menarik uang. Transaksi sederhana itu menjadi awal dari rutinitas yang kemudian mempertemukan Hayati dengan banyak warga setiap hari.

Sejak pertama kali beroperasi, warga menyambut layanan tersebut dengan baik. Mereka merasa terbantu karena tidak perlu lagi menghabiskan waktu dan biaya perjalanan ke Kota Kendari hanya untuk menyelesaikan urusan keuangan.

Salah seorang pelanggan yang memanfaatkan layanan tersebut adalah Salma. Sebagai ibu rumah tangga, ia datang ke Hayati Cell untuk mengakses layanan keuangan, termasuk ketika hendak mencairkan bantuan sosial.

Sebelum layanan itu tersedia di dekat tempat tinggalnya, warga yang ingin mengakses layanan perbankan harus memperhitungkan biaya dan waktu perjalanan. Bagi keluarga yang mengatur pengeluaran rumah tangga dengan cermat, ongkos perjalanan menjadi tambahan pengeluaran yang tidak bisa diabaikan.

Kini, Salma dapat mendatangi kios Hayati ketika membutuhkan layanan transaksi.

“Kalau mau tarik uang, saya bisa langsung datang ke tempat Bu Hayati. Tidak perlu lagi jauh-jauh ke Kendari. Lebih dekat dan menghemat ongkos biasanya harus keluar Rp10 ribu sampai Rp20 ribu sekarang bisa ditekan sampai Rp0,” ujar Salma.

Di antara para pelanggan, anak muda menjadi kelompok yang paling sering datang, terutama untuk menarik uang dan membeli pulsa. Salah satunya Inal, yang memanfaatkan layanan Hayati Cell untuk memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari.

Bagi anak muda yang membutuhkan pulsa atau uang tunai, keberadaan agen BRILink di desa memudahkan mereka menyelesaikan urusan tanpa harus bepergian jauh. Transaksi yang sebelumnya mengharuskan mereka mencari layanan perbankan di kota kini dapat dilakukan di kios kecil dekat tempat tinggal.

“Agak repot ini kalau Hayati tidak ada, apalagi kalau jaringan lagi bermasalah, pasti harus cari tempat lain,” kata Inal.

Selain ibu rumah tangga dan anak muda, pekerja yang beraktivitas di sekitar desa juga memanfaatkan layanan Hayati. Yahya, salah seorang pekerja proyek pembangunan kantor Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI, menjadi pelanggan yang datang untuk memenuhi kebutuhan transaksi keuangannya.

Kesibukan pekerjaan membuat akses terhadap layanan keuangan yang dekat menjadi penting. Dengan adanya Hayati Cell, pekerja seperti Yahya memiliki pilihan untuk melakukan transaksi tanpa harus mengalokasikan waktu khusus untuk pergi ke kota.

“Kalau ada keperluan transaksi, saya bisa datang ke Hayati Cell. Saya biasanya kirim uang untuk keluarga dari sini,” ucap Yahya.

Ada pula warga penerima bantuan sosial yang datang untuk mencairkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). Mereka umumnya merupakan ibu-ibu dan warga lanjut usia yang membutuhkan akses penarikan uang lebih dekat dari tempat tinggal mereka.

Hayati masih mengingat satu kesempatan ketika sejumlah ibu datang beramai-ramai untuk mengakses pencairan bantuan sosial melalui layanan yang tersedia di kiosnya.

Bagi warga yang harus mengatur pengeluaran rumah tangga dengan cermat, jarak menuju layanan keuangan menjadi pertimbangan penting. Kehadiran agen BRILink di desa membantu mereka mengurangi kebutuhan perjalanan, terutama ketika uang dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari.

Namun, kedekatan Hayati dengan warga tidak membuat semua transaksi berlangsung tanpa masalah.

Selain upaya penipuan dengan bukti transfer palsu, Hayati pernah menghadapi kesalahan transfer akibat kekeliruan pelanggan. Beruntung, kesalahan tersebut dapat diketahui sehingga uangnya dikembalikan. Jika transaksi gagal akibat gangguan jaringan, Hayati biasanya memantau prosesnya.

“Kalau dana belum kembali dalam beberapa hari, saya hubungi pihak bank untuk melaporkan kendala itu,” jelas Hayati.

Ketersediaan uang tunai juga menjadi tantangan. Pernah seorang pelanggan datang untuk menarik uang, tetapi dana yang tersedia di kiosnya tidak mencukupi. Hayati terpaksa meminta pelanggan itu kembali keesokan harinya.

Meski begitu, ia berusaha menjaga layanan tetap berjalan. Jam operasional yang panjang membuatnya terkadang harus menunda kebutuhan pribadi demi melayani warga yang datang.

“Pernah sampai lupa makan, lupa salat, bahkan meninggalkan pekerjaan rumah untuk melayani warga yang datang bertransaksi,” tuturnya.

Di tengah aktivitas tersebut, Hayati juga memberikan pemahaman kepada pelanggan tentang keamanan transaksi digital. Ia mengingatkan mereka agar tidak membagikan PIN dan kode OTP kepada orang lain. Pengalaman menghadapi bukti transfer palsu membuatnya makin memperhatikan hal-hal yang berpotensi merugikan pelanggan.

Hayati bercerita bahwa dirinya pernah nyaris ditipu. Seorang pelanggan datang ke gerainya untuk melakukan transfer senilai Rp2 juta. Pelanggan tersebut menunjukkan bukti transfer, namun untungnya Hayati menyadari adanya pemalsuan setelah mengetahui bahwa uang yang seharusnya masuk ke rekening tujuan tak kunjung diterima.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa kemudahan transaksi harus disertai kehati-hatian. Warga yang belum terbiasa dengan layanan digital perlu memahami cara menjaga informasi pribadi dan mengenali tanda-tanda penipuan.

Hayati mengaku belum pernah mengikuti pelatihan secara langsung terkait pengelolaan layanan BRILink. Suaminya yang pernah mengikuti pelatihan, sedangkan ia belajar melalui pengalaman sehari-hari dalam melayani pelanggan.

Sejauh ini, jaringan internet di desanya cukup mendukung kegiatan transaksi. Pelanggan juga telah memahami biaya administrasi yang dikenakan. Bahkan, beberapa pelanggan terkadang memberikan uang tambahan di luar biaya tersebut.

Empat tahun menjalankan usaha ini membawa perubahan bagi kehidupan keluarga Hayati. Pendapatan dari Hayati Cell membantunya memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan lebih leluasa. Ia juga mulai berinvestasi pada properti dan membuka cabang di desa tetangga.

Dari usaha tersebut, Hayati dapat membeli telepon genggam yang sejak lama diinginkannya. Ia kini juga memiliki mobil dan rumah sendiri.

“Alhamdulillah, sekarang kebutuhan lebih tercukupi. Rata-rata penghasilan itu di Rp2 – 5 juta. Saya juga sudah bisa investasi dan membuka cabang di desa tetangga,” ungkapnya.

Di luar urusan transaksi, kios kecil itu menjadi tempat warga bertukar cerita. Sebagian warga yang awalnya datang untuk menarik uang atau membayar tagihan kemudian berbincang dengan Hayati tentang kehidupan sehari-hari. Ada pula yang menjadikan tempat tersebut sebagai ruang untuk mencurahkan persoalan pribadi.

Hubungan itu tumbuh dari pertemuan yang berulang. Hayati mengenal pelanggan yang datang, sementara warga mengetahui jam operasional dan layanan yang tersedia di kiosnya.

Ia berencana menambah modal agar usahanya dapat berkembang. Hayati juga meyakini layanan BRILink masih dibutuhkan di desanya karena akses perbankan formal belum mudah dijangkau. Ia menyebut wilayah tempat tinggalnya masih termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Meski telah memiliki pelanggan tetap, Hayati menyadari kemungkinan munculnya agen lain di desanya. Jika itu terjadi, sebagian nasabah mungkin akan berpindah ke tempat lain.

“Kalau ada yang buka lagi, pasti saya merasa tersaingi karena sebagian nasabah mungkin akan bergeser. Bisa jadi nanti hanya keluarga yang datang ke tempat saya,” tutup Hayati.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten