Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Konawe

Peringatan Harhubnas 2026 dengan Tanam 800 Bibit Mangrove di Ranooha Raya, Konsel

0
0
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Lapuko, Nurbaya, menanam bibit mangrove di pesisir Desa Ranooha Raya, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: La Ode Risman Hermawan/Kendariinfo. (17/9/2026).

Konawe Selatan – Peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) ke-55 tahun 2026 diselenggarakan dengan penanaman 800 bibit mangrove di pesisir Desa Ranooha Raya, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis (17/9/2026).

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Lapuko, Nurbaya, mengatakan penanaman mangrove juga dirangkaikan dengan aksi bersih-bersih pantai. Nurbaya menyebut pemilihan Ranooha Raya sebagai lokasi kegiatan karena mangrove di wilayah itu sudah banyak tergerus pasang surut air laut.

“Setelah kami melakukan survei ke beberapa tempat, ini kami anggap yang butuh perhatian khusus karena sudah banyak mangrove yang tergerus pasang surut air laut,” kata Nurbaya.

Penanaman 800 bibit mangrove di pesisir Desa Ranooha Raya, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: La Ode Risman Hermawan/Kendariinfo. (17/9/2026).

Penanaman mangrove melibatkan unsur pemerintah kecamatan dan desa, TNI maupun Polri, lembaga swadaya masyarakat (LSM), mahasiswa, hingga masyarakat setempat.

Jenis mangrove yang ditanam merupakan Rhizophora sp. (bakau), karena sesuai dengan varietas paling dominan di pesisir Ranooha Raya. Rhizophora sp. dianggap lebih efektif melindungi pesisir berkat akar tunjang yang dapat meredam energi gelombang, memperlambat arus air, dan menjebak partikel sedimen halus (lumpur) tidak hanyut ke laut lepas.

Ranooha Raya yang terletak di daerah muara juga menerima limpasan sedimentasi terus-menerus, membuat ekosistem mangrove sangat penting. Dampak dari laju sedimentasi di wilayah itu juga tertuang dalam penelitian berjudul Analisis Laju Sedimentasi di Perairan Desa Ranooha Raya (2023). Penelitian itu menunjukkan laju sedimentasi di pesisir Ranooha Raya rata-rata 636,98 gr/m2 sampai 1561,62 gr/m2 per hari.

Pemilihan pesisir Ranooha Raya sebagai lokasi penanaman mangrove juga berkaitan dengan Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Teluk Moramo. Wilayah pesisir Ranooha Raya merupakan bagian KKD Teluk Moramo. Meski KKD Teluk Moramo terus mengalami degradasi, Nurbaya membantah penurunan kualitas pesisir Ranooha Raya akibat aktivitas lalu-lalang kapal.

“Kalau aktivitas pelayaran di sini saya rasa tidak ada. Di sini hanya nelayan yang turun. Tongkang tidak boleh sandar sembarangan,” ujarnya.

Nurbaya pun berharap bibit mangrove yang telah ditanam dapat dijaga dan dirawat masyarakat setempat. Ia juga meminta bibit yang rusak segera diperbaiki agar mangrove memberikan manfaat jangka panjang.

“Kami menitip mangrove yang habis ditanam kiranya dapat dibantu jaga, karena kami tidak ada di sini sepanjang waktu. Jika ada yang rusak, tolong diperbaiki supaya agenda hari ini tidak menjadi sia-sia,” tambahnya.

Kepala Desa Ranooha Raya, Burhan, mengaku penanaman mangrove di wilayahnya telah dilakukan secara rutin. Walaupun tak selalu hidup, kata Burhan, masyarakat setempat tetap berupaya menjaga bibit yang telah ditanam. Menurut Burhan, keberhasilan pertumbuhan bibit mangrove tidak selalu sama tergantung kualitas bibit, cara tanam, hingga pemeliharaan.

“Kalau dibilang usaha untuk menjaga, sudah cukup. Cuma namanya alam, tidak bisa juga kita jamin. Kalau air pasang atau gelombang, itu bisa merusak bibit yang sudah ditanam,” katanya.

Editor Kata
Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: