Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Ramai Isu Serangan Fajar, MUI Sultra: Haram dan Merusak Tatanan Demokrasi

Ramai Isu Serangan Fajar, MUI Sultra: Haram dan Merusak Tatanan Demokrasi
Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI Sultra, Muslim. Foto: Istimewa.

Kendari – Isu serangan fajar menjadi bahan perbincangan warga, khususnya di Sulawesi Tenggara (Sultra), menjelang H-1 Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Terkait itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sultra mengajak seluruh masyarakat agar bersama-sama menolak serangan fajar untuk mencegah terjadinya praktik money politic (politik uang).

“Dalam ajaran agama Islam, serangan fajar hukumnya haram,” kata Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI Sultra, Muslim saat dihubungi Kendariinfo, Selasa (13/2/2024).

Ada sejumlah alasan sehingga serangan fajar atau praktek politik uang ini dilarang. Pertama, memberi atau menerima uang dengan tujuan untuk mempengaruhi suara dalam pemilu termasuk dalam kategori risywah (suap), yang hukumnya haram secara mutlak. Dalam Islam, suap dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak-hak orang lain dan merupakan dosa besar.

Kedua, praktik politik uang termasuk serangan fajar, merupakan perkara yang dilarang oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Umum. Pasal 187A melarang dengan tegas pemberian dan penerimaan uang atau imbalan lain untuk memengaruhi suara dalam pemilihan umum. Pelanggaran terhadap pasal ini dapat dikenakan sanksi pidana.

Ketiga, politik uang mengakibatkan kerusakan dalam sistem bernegara. Melarang money politic juga merupakan upaya untuk menutup semua peluang terjadinya kerusakan tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan dan bernegara.

Dia menegaskan, untuk mewujudkan pemilu yang bersih ia mengajak masyarakat agar menentukan pilihan politik berdasarkan hati nurani tanpa intervensi dalam bentuk apa pun.

Baca Juga:  Warga di Kendari Barat Keluhkan Jalan yang Terendam Air Got, Baunya Tak Sedap

“Pilih berdasarkan hati nurani dan utamakan asas pemilu yang langsung, bersih, jujur dan adil,” tegasnya.

Jika terdoktrin dengan adanya serangan fajar, ia khawatir masyarakat akan memilih pemimpin hanya berdasarkan kekuatan materiel saja, bukan kapasitas atau kelayakan.

“Jangan sampai ada yang memang baik niatnya ingin memimpin, tapi karena ada yang calon lain memberikan uang, justru yang baik itu diabaikan dan memilih pemberi uang,” bebernya.

Terkait dengan penyelenggaraan pemilu yang jatuh pada Rabu (14/2), Muslim mengajak masyarakat bersama-sama mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih figur yang diyakini bisa memimpin.

“Mari sama-sama kita sukseskan Pemilu 2024,” pungkasnya.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten