7 Kecamatan di Baubau Berstatus Awas Kekeringan, Pemkot Tetapkan Langkah Penanganan

Baubau – Ancaman kebakaran meningkat di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), seiring ditetapkannya tujuh kecamatan yang berstatus awas kekeringan. Tujuh kecamatan tersebut terdiri dari Batupoaro, Betoambari, Bungi, Kokalukuna, Lealea, Murhum, dan Wolio.
Penetapan itu berdasarkan Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Dasarian III September 2026 yang diterbitkan Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari Baubau melalui surat Nomor e.B/KL.00.02/017/KBUW/IX/2026 tertanggal 22 September 2026.
Sebelumnya, pemutakhiran Dasarian III Agustus 2026 menunjukkan hanya Kecamatan Bungi yang berstatus awas. Kondisi ini dinilai mengalami peningkatan pesat setelah 7 dari 8 kecamatan masuk kategori tersebut. Sementara itu, Kecamatan Sorawolio berstatus siaga.
Sekretaris Daerah (Sekda) Baubau, La Ode Darus Salam, mengatakan status awas berlaku pada 21 – 30 September 2026. Atas peringatan itu, ia meminta masyarakat untuk tidak sembarangan menyalakan api yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
“Status awas di tujuh kecamatan berarti periode paling berisiko belum terlewati. Kami meminta seluruh perangkat daerah bekerja dengan satu data dan satu jadwal, dan meminta masyarakat menahan diri untuk tidak membakar apa pun, sekecil apa pun. Api kecil pada kondisi kekeringan seperti sekarang dapat meluas dalam hitungan menit,” ujarnya melalui keterangan resmi.
Terhitung sejak 1 Januari hingga 22 September 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Baubau mencatat terjadi kebakaran sebanyak 116 kali. Penanganan terbanyak dilakukan pada kebakaran lahan yang diperkirakan seluas 27 hektare.
Dari kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Dampak El Nino merancang sejumlah langkah penanganan.
Langkah-langkah tersebut di antaranya menetapkan periode siaga kemarau dan kebakaran hingga musim hujan stabil, mengaktifkan saluran kedaruratan kebakaran, memperkuat jaringan relawan di kelurahan, serta memperkuat titik pengambilan air tambahan bagi armada pemadam.
Strategi lain meliputi penyaluran air secara terjadwal ke sejumlah wilayah yang terkendala aliran, menyediakan pompa dan mengatur gilir air bagi sawah terdampak, serta mengusulkan bantuan bagi petani setelah menghitung nilai kerugian akibat terdampak kondisi tersebut.
Dengan kondisi kekeringan yang dihadapi, masyarakat diminta untuk menghemat penggunaan air dan secepatnya melapor apabila mengetahui terdapat titik api kepada pihak-pihak terkait. Koordinasi yang baik dari masyarakat dan seluruh perangkat daerah dinilai berperan penting dalam mempercepat penanganan bencana selama musim kemarau.





