Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Pemkot Kendari Target Zero Stunting Tahun 2029, Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci

Pemkot Kendari Target Zero Stunting Tahun 2029, Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci
Gedung Balai Kota Kendari. Foto: Hasmin Ladiga/Kendaiinfo. (9/2/2023).

Kendari – Pemerintah Kota Kendari terus menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi masa depan yang sehat dan berkualitas dengan menargetkan angka stunting nol persen atau zero stunting pada tahun 2029. Target ambisius ini digerakkan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Kendari, yang kini menjadi ujung tombak dalam upaya percepatan penurunan stunting di daerah.

Kepala DP2KB Kota Kendari, Jahudding, mengatakan berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Kota Kendari saat ini masih berada di kisaran 20 persen. Meski demikian, pihaknya optimistis kondisi itu dapat ditekan secara bertahap lewat kerja sama seluruh elemen masyarakat dan instansi terkait.

“Target kita jelas, 2029 harus zero stunting. Ini bukan pekerjaan mudah, tapi bisa dicapai kalau semua pihak bekerja bersama,” ujar Jahudding di Kendari, Selasa (5/8/2025).

Kepala Dinas P2KB Kota Kendari, Jahudding.
Kepala Dinas P2KB Kota Kendari, Jahudding. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (1/11/2022).

Menurutnya, DP2KB saat ini fokus pada keluarga yang masuk kategori berisiko stunting. Berdasarkan pendataan tahunan, terdapat 1.018 keluarga di Kota Kendari yang dinilai berpotensi tinggi melahirkan anak dengan kondisi stunting. Data ini menjadi dasar pemerintah untuk melakukan intervensi secara terarah, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun ekonomi.

“Angka itu bukan sekadar data di atas kertas. Setiap keluarga memiliki tantangan berbeda, sehingga penanganannya juga tidak bisa disamaratakan. Kita harus melihat kondisi di lapangan secara utuh,” jelasnya.

Baca Juga:  Pria Diduga Maling di Masjid Raudhatul Jannah Kendari Nyaris Diamuk Massa

Pendampingan kepada keluarga berisiko dilakukan bersama lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dan mitra strategis. Program ini mencakup edukasi tentang pola asuh dan kesehatan reproduksi, pemberian tambahan gizi bagi ibu hamil dan balita, perbaikan sanitasi, hingga peningkatan akses air bersih. Dengan pendekatan menyeluruh seperti ini, DP2KB berharap setiap intervensi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di tingkat paling dasar.

Jahudding menuturkan, ada enam faktor yang menyebabkan sebuah keluarga masuk kategori berisiko stunting. Dua di antaranya adalah sanitasi yang tidak layak dan keterbatasan akses air bersih. Sementara empat faktor lainnya dikenal sebagai “4 Terlalu”, yaitu terlalu muda sudah hamil, terlalu tua masih hamil, terlalu banyak anak, dan jarak kelahiran yang terlalu rapat.

Ilustrasi anak sekolah.
Ilustrasi anak sekolah. Foto: Pixabay.

“Kalau enam faktor ini tidak diintervensi dengan edukasi dan pendampingan yang tepat, maka potensi lahirnya anak stunting akan terus berulang dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Untuk memperkuat gerakan ini, Pemkot Kendari melalui DP2KB juga meluncurkan program inovatif bernama GENTING atau Gerakan Orang Tua Asuh Intervensi Stunting. Melalui program ini, masyarakat yang memiliki kemampuan lebih diharapkan ikut berpartisipasi menjadi pendamping bagi keluarga yang berisiko maupun yang sudah memiliki anak stunting.

“Kalau dulu kita kenal istilah Persaudaraan Madani, sekarang kita sebut Orang Tua Asuh. Konsepnya sederhana, masyarakat yang mampu ikut membantu keluarga yang memerlukan pendampingan. Tidak hanya memberi bantuan, tapi juga menjadi sahabat dan penggerak di lapangan,” jelas Jahudding.

Salah satu barisan sekolah yang mengikuti gerak jalan indah pada peringatan HUT ke-78 RI di Kendari.
Salah satu barisan sekolah yang mengikuti gerak jalan indah pada peringatan HUT ke-78 RI di Kendari. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (14/8/2023).

Ia menambahkan, kerja sama lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan program penurunan stunting di Kota Kendari. DP2KB menggandeng berbagai pihak, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, hingga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memastikan intervensi dilakukan dari berbagai sisi, seperti pembangunan sanitasi layak, pemenuhan gizi, hingga edukasi keluarga.

Baca Juga:  Manajemen dan Serikat Karyawan Bank Sultra Tandatangani PKB, Perkuat Sinergi Internal

Selain kolaborasi, akurasi data juga menjadi perhatian utama. Jahudding menilai, pemanfaatan data keluarga berisiko stunting harus presisi agar kebijakan yang diterapkan benar-benar menyasar sasaran. “Evaluasi terhadap program di setiap OPD harus terus dilakukan. Kita tidak boleh bekerja dengan asumsi, tapi dengan data yang valid,” tegasnya.

Pemkot Kendari optimistis bahwa target zero stunting bukan sekadar slogan. Melalui kerja keras pemerintah, dukungan masyarakat, dan partisipasi aktif semua pemangku kepentingan, upaya ini diyakini mampu menciptakan generasi Kendari yang sehat, cerdas, dan produktif.

“Menurunkan stunting bukan hanya tentang memperbaiki gizi, tapi tentang membangun masa depan daerah ini. Setiap anak yang tumbuh sehat adalah aset berharga bagi Kota Kendari,” tutup Jahudding.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten