Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
5 th Anniversary Kendariinfo dengan tema "Passionate For Us".
5 th Anniversary Kendariinfo dengan tema "Passionate For Us".
Konten Pilihan

Antara Hidup dan Mati di Laut Banda

Antara Hidup dan Mati di Laut Banda
Jamaluddin, 54 tahun, menjalani perawatan medis di atas KN SAR Pacitan milik Basarnas Kendari. Foto: Basarnas Kendari. (14/9/2021).

Buton Selatan – Andai Jamaluddin dan tiga rekannya adalah peramal, mungkin mereka tidak akan menumpang kapal kayu itu. Tapi semua sudah terlambat. Pilihannya hanya dua, hidup dan mati.

Dua rekan Jamaluddin meninggal. Namanya, Hasanuddin, 34 tahun dan Ihsanuddin, 43 tahun. Keduanya diduga meninggal karena hipotermia atau penurunan suhu badan secara drastis di bawah 30 derajat celcius.

Sedangkan satunya lagi, Wahyu, 30 tahun, hingga kini belum ditemukan. Basarnas terpaksa menghentikan pencarian terhadap Wahyu pada hari ketujuh.

Jenazah Ihsanuddin dievakuasi Tim SAR.
Jenazah Ihsanuddin dievakuasi Tim SAR. Foto: Basarnas Kendari. (14/9/2021).

Dalam pencarian, Basarnas telah menurunkan KN SAR Pacitan. Dengan teknologi yang dimiliki, mereka mencoba mengukur tinggi gelombang, kecepatan angin, dan memperkirakan keberadaan Wahyu. Sayangnya, dia tidak muncul dan terlihat di atas permukaan air.

Ini berat. Meninggalkan anak manusia yang ditelan lautan. Bukan dibiarkan namun sudah diusahakan. Tapi begitulah aturannya. Tenaga, waktu, dan logistik telah diberikan sepenuhnya oleh tim pencari selama seminggu. Tapi hasilnya nihil. Tim SAR hanya berpesan kepada nelayan-nelayan yang melintas di sekitar Laut Banda, jika melihat sosok manusia, segera menghubungi mereka. 

“Sebenarnya kami punya alat. Alat itu menghitung kecepatan angin, tinggi gelombang, macam-macam. Jadi kami mencari berdasarkan alat itu. Siapa pun kami tolong. Ini soal kemanusiaan. Tapi memang ini yang berat, menghentikan pencarian,” ujar Humas Basarnas Kendari, Wahyudi.

Jenazah Hasanuddin dievakuasi Tim SAR.
Jenazah Hasanuddin dievakuasi Tim SAR. Foto: Basarnas Kendari. (14/9/2021).

Awal mulanya

Pagi-pagi di hari Minggu, 5 September 2021, empat nelayan memutuskan mengarungi Laut Banda dari Batu Atas menuju Sorong, Papua Barat. Batu Atas merupakan sebuah pulau terluar di sekitar wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Jika dilihat dari peta, lokasinya berada di selatan Pulau Buton. Bagian utara, Batu Atas berbatasan langsung dengan Laut Banda. Sebelah selatan, barat, dan timur, berbatasan dengan Laut Flores. Jaraknya 103 kilometer dari Pulau Buton. Secara administratif, Batu Atas merupakan sebuah kecamatan Buton Selatan (Busel).

Empat orang ini berangkat dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) menuju Pelabuhan Kendari. Mereka lalu ke Kota Baubau dan lanjut ke Batu Atas.

Di sana, rekan Jamaluddin, Wahyu membeli sebuah kapal kayu bekas. Wahyu calon tuan kapal yang baru. Kapal itu panjangnya 20 meter dan lebarnya enam meter. Warnanya abu-abu. Jamaluddin dan dua lainnya hanya menemani Wahyu mengantar kapal ke Sorong. Kapal itu bakal dimodifikasi menjadi sebuah kapal bagan. 

Bagan adalah jenis kapal penangkap ikan di laut dengan menggunakan cadik atau bambu dan kayu untuk peletak jaring yang dibenamkan. Bagan dilengkapi lampu agar menarik perhatian ikan untuk mendekat. 

Soal transaksi dan administrasi lainnya telah selesai. Mesin kapal segera dibunyikan. Jamaluddin yang sudah melaut sejak berhenti kelas dua sekolah dasar berperan sebagai nakhoda utama. Dia merasa tak ada masalah dengan kapal. Pertarungan melawan gelombang setinggi dua meter di Laut Banda segera dimulai. 

Ini berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada 5 hingga 6 September 2021, Gelombang setinggi 1,25 sampai 2,50 meter terjadi di Laut Banda dengan kecepatan angin berkisar 5 hingga 25 knot.

Selama dua hari mengarungi Laut Banda, Jamaluddin merasa baik-baik saja. Setiap ombak yang datang menerjang kapal, Jamaluddin selalu meluruskan kemudi menghadap gelombang. Tak ada masalah. 

Namun keadaan berubah ketika kemudi diambil alih Ihsanuddin. Pagi-pagi, hari Selasa, 7 September 2021, nakhoda bertukar untuk terus melanjutkan perjalanan ke Sorong, tujuan awal mereka. Waktu itu, Jamaluddin hendak beristirahat sejenak dan makan untuk mengisi perut yang mulai lapar. 

Jamaluddin mengingatkan Ihsanuddin agar selalu meluruskan kemudi saat gelombang menghantam kapal. Tujuannya agar kapal tetap lurus meski diterjang ombak. Supaya gelombang tidak menerjang kapal dari arah samping.

Baca Juga:  Gadis Remaja di Kolut Tewas Tenggelam di Bekas Galian Ekskavator

“Saya berteriak, baku lawan saja dengan ombak! Tapi dia (Ihsanuddin) ambil samping. Saya bilang haluan ke depan, tapi dia agak ke samping sedikit. Dihantam satu kali, kapal langsung oleng,” kata Jamaluddin.

Kondisi berubah. Air laut mulai masuk ke dalam kapal. Kapal miring lalu terbalik. Wahyu, Ihsanuddin, dan Hasanuddin segera melompat dari kapal, mencoba menyelamatkan diri. Tapi Jamaluddin terjebak di dalam kamar dan terendam air hingga setengah jam.

Antara hidup dan mati

Kapal yang ditumpangi Jamaluddin dan tiga rekannya terbalik di Laut Banda.
Kapal yang ditumpangi Jamaluddin dan tiga rekannya terbalik di Laut Banda. Foto: Basarnas Kendari. (14/9/2021).

Jamaluddin ingat betul, kapal yang mereka tumpangi dihantam gelombang sekitar pukul 11.00 WITA. Jamaluddin berpikir akan mati saat itu. Kapal sudah terbalik. Air memasuki seluruh ruangan. Dia pasrah. 

Namun tiba-tiba ada cahaya dari arah jendela kapal. Dia berusaha meraih jendela yang berdiameter lebih besar dari badannya. Dia lalu keluar. Jamaluddin berhasil. 

Tapi Jamaluddin tahu, dia dan tiga lainnya belum selamat. Kondisi kapal setengah tenggelam dalam keadaan terbalik. Mereka berusaha kembali meluruskan kapal, namun upaya gagal. 

Semuanya kini bertahan di atas kapal yang terbalik tanpa air bersih dan makanan. Tak ada kapal-kapal nelayan yang melintas di sekitar mereka.

Ihsanuddin sempat menyalahkan Jamaluddin. Dia bertanya, mengapa orang Bugis membeli kapal macam ini? Padahal Bugis dikenal dengan bangsa pelaut. Kemampuan melaut dan membuat kapal tersohor sejak zaman dahulu. 

Namun, seingat Jamaluddin, itulah pertanyaan terakhir Ihsanuddin. Dia meninggal pada Rabu, 8 September 2021, sehari setelah kapal mereka diterjang gelombang. Di hari berikutnya, giliran Hasanuddin. Sebelum meninggal, Hasanuddin hanya mengeluh sakit perut. Namun tak ada yang bisa mereka lakukan. Hasanuddin meninggal pada Kamis, 9 September 2021. Kini tersisa Jamaluddin dan Wahyu.

Jamaluddin lalu menggapai tali mengikat jenazah dua rekannya agar tak hanyut terbawa gelombang. Tali itu diikatkan di pinggang Ihsanuddin dan Hasanuddin lalu dikaitkan di tiang kapal. Jamaluddin berjanji tak akan meninggalkan jenazah mereka. Tiga hari terbalik, kondisi kapal kini dalam keadaan miring walaupun tak seperti sediakala. Minimal tidak, Jamaluddin, Wahyu, dan dua jenazah ini punya tempat lebih luas untuk bersandar. 

Sudah tiga hari pula mereka hanya minum air laut. Sebagian orang akan memilih minum air garam daripada air laut. Rasanya asin sekali. Ini jalan satu-satunya agar bertahan hidup, menurut Jamaluddin. Hari demi hari berlalu. Tak ada yang bisa diperbuat. Hanya berharap-harap ada seseorang yang lewat di sekitar mereka. 

Kini sudah enam hari mereka terombang-ambing di Laut Banda tanpa arah, tepat 12 September 2021. Melihat kondisi yang semakin tak keruan, Wahyu berinisiatif berenang untuk mencari bantuan kepada siapa pun dan di mana saja. 

Tapi Jamaluddin melarangnya. “Nak, jangan pergi! Besok sudah ada bantuan,” kata Jamaluddin menguatkan Wahyu yang terpaut 24 tahun di bawahnya. Jamaluddin merasa, kalau sampai hari ketujuh tidak ada bantuan, dia juga pasti akan mati menyusul dua rekannya, Ihsanuddin dan Hasanuddin. Itulah perasaan Jamaluddin saat itu, antara hidup dan mati di tengah Laut Banda.

Namun Wahyu, orang yang paling muda dari ketiganya tak menghiraukan Jamaluddin. Wahyu mulai berenang. Jamaluddin yang kini lemas hendak meraih Wahyu, tapi tangannya tak sampai. Dia hanya meratapi Wahyu menggerakan tangan dan kakinya yang mulai menjauh.

Jamaluddin selamat

Tim SAR dan Jamaluddin tiba di Dermaga Utama Basarnas Kendari.
Tim SAR dan Jamaluddin tiba di Dermaga Utama Basarnas Kendari. Foto: Basarnas Kendari. (14/9/2021).

Pagi-pagi, hari Senin, 13 September 2021, Jamaluddin tertidur seperti biasa. Matanya tertutup. Tidurnya di atas miang. Ada suara samar-samar dari kejauhan mendekat. Jamaluddin membuka matanya. Ada secercah harapan. Orang-orang itu mulai menatap Jamaluddin dan jenazah di sampingnya. Kapal semakin dekat menghampiri mereka.

Baca Juga:  Factory Visit: Melihat Produksi Air Mineral LT yang Aman dan Sehat dari Kendari

Salah seorang dari kapal itu meminta Jamaluddin untuk beranjak dari tempatnya. Tapi Jamaluddin benar-benar lemas, kakinya tak bisa bergerak. Betis dan pahanya terluka akibat terendam seminggu di laut. Paku pada bagian samping kapal juga menggores badannya.

Tahu hal itu, seseorang dari kapal turun untuk memberi Jamaluddin makan, minum, dan beberapa biskuit. Harapan Jamaluddin untuk hidup sudah mulai ada. Air bersih dan makanan kembali mengisi lambungnya. 

Tapi orang di atas KMN Fajar Mulia 09 itu belum bisa membawa Jamaluddin dan dua jenazah rekannya. Mereka harus izin terlebih dulu kepada bos, pemilik kapal. Kapal itu kembali menjauh entah ke mana, meninggalkan Jamaluddin. Tapi Jamaluddin sudah mulai tenang. Setidaknya sudah ada orang yang mengetahui keberadaannya. 

Sekitar pukul 10 siang, kapal itu telah kembali. Jamaluddin diangkat ke atas kapal. Orang-orang itu ternyata dari Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel). Jamaluddin dan orang-orang itu berbicara dalam bahasa Bugis. Mereka memberi kabar kepada Jamaluddin bahwa Tim Basarnas akan segera menyusul. 

Pukul 4 pagi, hari Selasa, 14 September 2021, Tim Basarnas tiba di lokasi menggunakan KN SAR Pacitan. Tim langsung mengevakuasi Jamaluddin dan dua jenazah rekannya ke atas kapal. Jamaluddin yang tak bisa berjalan normal ditopang para petugas. Mayat Ihsanuddin dan Hasanuddin langsung dibungkus kantong jenazah. 

Di atas KN SAR Pacitan, Jamaluddin langsung ditangani Tim Medis dari Basarnas Kendari karena kondisi fisik yang melemah. Setelah menempuh delapan jam perjalanan, pukul 2.30 siang, KN SAR Pacitan berlabuh di Dermaga Utama Basarnas Kendari. Jenazah Ihsanuddin dan Hasanuddin langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kendari. Sedangkan Jamaluddin dilarikan ke Rumah Sakit Santa Anna Kendari.

Dua hari menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Santa Anna Kendari, kondisi Jamaluddin sudah membaik. Dia dijemput keluarganya hari Kamis, 16 September 2021. Di hari berikutnya, keluarga mengurus administrasi kepulangan Jamaluddin menuju Maros. Sempat terkendala di Bandara Haluoleo Kendari, Jamaluddin akhirnya memutuskan melalui jalur darat ke Kabupaten Kolaka hari Jumat, 17 September 2021. 

Dia melanjutkan perjalanan dari Pelabuhan Kolaka dengan kapal laut menuju Bajoe. Setelah itu, Jamaluddin melalui perjalanan darat ke Maros. Hari Sabtu, 18 September 2021, Jamaluddin akhirnya tiba di kampung halamannya di Desa Borikamase, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Sementara jenazah Ihsanuddin dan Jamaluddin telah dibawa terlebih dulu di kampung halaman mereka masing-masing.

Di hari berikutnya, saya menghubungi Jamaluddin melalui nomor telepon milik keluarganya. Namanya Ajie Awal. Dia yang mendampingi Jamaluddin dari Kendari hingga tiba di Desa Borikamase. Saya mendapatkan nomor telepon itu dari Humas Basarnas Kendari, Wahyudi.

Kami berbicang via telepon kurang lebih 11 menit. Saya bertanya tentang kondisinya. Dia masih trauma, tapi sudah membaik. Hanya saja Jamaluddin masih perlu diinfus.

Di tengah percakapan, saya memberi tahu kabar terakhir Wahyu. Basarnas telah menghentikan pencarian karena sudah memasuki hari ketujuh terhitung sejak dia meninggalkan Jamaluddin dan dua mayat rekannya untuk mencari pertolongan.

Nada suara Jamaluddin terdengar kaget. Tapi dia ikhlas. Mungkin ini jalan hidup Wahyu. Sedangkan Jamaluddin masih ditakdirkan bertemu sanak keluarga. Kalau saja Jamaluddin tahu akan berakhir seperti ini, mungkin sejak awal dia melarang Wahyu membeli kapal kayu bekas itu. Tapi semua sudah berlalu.

Ini pengalaman Jamaluddin, 54 tahun, nelayan asal Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang bertahan hidup selama tujuh hari di tengah lautan tanpa makan dan minum air bersih. Jiwanya kuat, meski tak sekuat fisiknya yang kian senja.

Tetap terhubung dengan kami:
5th Anniversary Kendariinfo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten