Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Pemerintah

Bersama Warga Desa Wisata Limbo Wolio, Sandiaga Jajal Permainan Tradisional Lojo

Bersama Warga Desa Wisata Limbo Wolio, Sandiaga Jajal Permainan Tradisional Lojo
Menparekraf, Sandiaga Salahuddin Uno, menjajal permainan tradisional lojo di sela-sela kunjungannya ke Desa Wisata Limbo Wolio. Foto: Istimewa. (8/6/2022).

Baubau – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, ikut menjajal permainan tradisional lojo di sela-sela kunjungannya ke Desa Wisata Limbo Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (8/6/2022). Menteri Sandi yang awalnya hanya menyaksikan anak-anak desa setempat penasaran untuk mencoba permainan beregu itu.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Limbo Wolio, Maman Melai, mengatakan Menteri Sandi tertarik terhadap lojo setelah mendengar permainan itu telah ditekuni masyarakat Buton sejak lama. Dia menyebut, Menteri Sandi dua kali menembak lojo. Usai mencobanya, Menteri Sandi mengaku bahwa permainan itu tidak mudah.

“Pak Menteri ikut mencoba tadi. Beliau penasaran juga, sampai memukul dua kali. Beliau sangat antusias dan mengakui bahwa permainan begini tidak mudah dilakukan oleh orang yang baru,” kata Maman kepada Kendariinfo.

Menparekraf, Sandiaga Salahuddin Uno, menjajal permainan tradisional lojo di sela-sela kunjungannya ke Desa Wisata Limbo Wolio.
Menparekraf, Sandiaga Salahuddin Uno, menjajal permainan tradisional lojo di sela-sela kunjungannya ke Desa Wisata Limbo Wolio. Foto: Istimewa. (8/6/2022).

Maman menjelaskan, permainan itu dilakukan dua tim yang saling berhadapan. Masing-masing tim diperkuat dua orang atau lebih. Permainan itu hanya menggunakan bahan-bahan sederhana dari tempurung kelapa kering dan bambu. Tempurung kelapa yang diukir hingga berdiameter lima sampai tujuh sentimeter disebut lojo. Sedangkan bambu yang berfungsi menekan dan mengarahkan lojo dinamakan kasuka. Tujuan permainan ini adalah menjatuhkan lojo yang telah disusun sebelum menembak. Tim yang paling banyak menjatuhkan lojo berhak menjadi pemenang.

“Dari tim, ada yang bertugas sebagai pemain awal. Sedangkan pemain lainnya bertugas untuk menjaga. Mekanisme menjaganya itu, salah satu pemain memasang lojo-nya sedangkan pemain lawan menembaknya. Permainannya menembak lojo lawan dari jarak jauh,” jelasnya.

Baca Juga:  Sandiaga Uno Tiba di Kendari, Sulkarnain Kenalkan Olu Penutup Kepala Khas Tolaki

Maman mengungkapkan, permainan lojo yang ditampilkan pada acara-acara kebudayaan bertujuan untuk terus melestarikan kebiasaan masyarakat Buton sejak dulu. Menurutnya, lojo memiliki nilai-nilai sosial yang kini mulai tergantikan dengan dengan permainan berbasis digital.

Lojo ini sempat juga saya mainkan waktu kecil dulu. Permainan ini melatih kerja sama tim. Menurut kami, permainan ini bagus karena butuh strategi dan kerja sama untuk beradu dengan yang lain. Alasan kami menampilkannya karena permainan seperti ini sudah mulai tergantikan di era modern. Ini juga untuk mengimbangi kegiatan adik-adik yang cenderung ke permainan yang berbau digital,” pungkasnya.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten