Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Konawe

Dari Pekerja Harian ke Operator PLTU, Jalan Baru Warga Tanjung Tiram, Konsel

0
0
Gardu induk milik PT DSSP Power Kendari untuk menghubungkan aliran listrik ke jaringan PLN. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (15/10/2026).

Konawe Selatan – Suara mesin terdengar nyaring di area pengolahan limbah batu bara Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) di PLTU DSSP Power Kendari. Di antara tumpukan material sisa pembakaran batu bara itu, Risal (20) bergerak dengan cekatan. Alat pelindung diri lengkap melekat di tubuhnya.

Tangannya cekatan mengoperasikan mesin hidrolik, seolah setiap gerakan sudah berada di luar kepalanya. Ia tidak tampak seperti orang yang sedang mencari tahu apa yang harus dikerjakan. Sebaliknya, ia tahu persis ke mana harus melangkah dan apa yang perlu dilakukan.

“Alhamdulillah saya dipercaya jadi Junior Operator (JOP). Saya sudah bekerja beberapa tahun di sini,” katanya kepada Kendariinfo, Rabu (21/10/2026).

Risal, junior operator di divisi pengolahan FABA DSSP Power Kendari sedang memberikan instruksi kepada pekerja baru untuk mengetahui kegunaan mesin. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (15/10/2026).

Sesekali, Risal mengalihkan perhatian dari mesin untuk memantau pekerja lain. Seorang pekerja baru yang belum lama bergabung di divisi itu berada dalam pengawasannya.

Di tengah aktivitas yang terus berjalan, Risal menjalankan dua peran sekaligus. Menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan memastikan orang yang baru bergabung dapat mengikuti ritme kerjanya.

Anak pertama dari dua bersaudara itu menarik ingatannya beberapa tahun lalu, dia mengaku tidak menyangka bisa dipercaya menjadi JOP di DSSP Power Kendari. Pasalnya, dia hanya lulusan SMA. Ia tidak punya pengalaman sama sekali soal mesin perusahaan saat masuk pertama kali pada tahun 2024 silam.

Warga Desa Tanjung Tiram, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) itu tidak langsung menempati posisi operator ketika pertama kali masuk ke lingkungan perusahaan pembangkit listrik yang berlokasi di desa tempatnya lahir.

Dia memulai perjalanan kariernya sebagai pekerja harian lepas. Selama sekira 8 bulan, ia menjalani pekerjaan tersebut sebelum mendapat tawaran untuk bergabung sebagai JOP.

“Setelah lulus SMA, saya mulai bekerja sebagai pekerja harian lepas di PLTU DSSP Power. Setelah bekerja selama sekitar tujuh sampai delapan bulan, saya ditawari untuk bergabung sebagai JOP,” imbuhnya.

Tanggung jawabnya tidak ringan, dirinya harus memastikan alat cetak FABA termasuk mesin hidrolik sampai mesin pres dalam kondisi prima. Dia juga harus membantu mengoperasikan dan memantau sistem penanganan abu hasil pembakaran batu bara.

“Rutinitas saya meliputi pengecekan kondisi peralatan, pemantauan conveyor, hopper, rotary feeder, dan sistem transportasi abu, membantu proses pemuatan fly ash, memastikan area kerja tetap bersih dan aman,” jelasnya.

Setelah dua tahun bekerja, Risal mengaku banyak mendapatkan ilmu baru seperti mulai memahami sistem ash handling, mempelajari penerapan Standar Operasional Perusahaan (SOP), keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga pengenalan dan pengoperasian peralatan di divisi tempatnya bekerja.

“Saya juga belajar langsung dari operator senior untuk meningkatkan keterampilan teknis dan memahami prosedur penanganan gangguan,” lanjutnya.

Selain peningkatan kemampuan, ekonomi Risal juga membaik. Dulu, keluarganya hanya bergantung pada penghasilan ayahnya. Sebagai nelayan, ayah Risal memiliki penghasilan yang tidak menentu. Kini, dirinya bahkan bisa membantu biaya sekolah adiknya.

“Pekerjaan saya di PLTU memberikan dampak positif terhadap kondisi ekonomi saya dan keluarga. Dengan penghasilan yang saya peroleh, saya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga, mengatur keuangan dengan lebih baik, dan mulai mempersiapkan masa depan,” ucapnya.

Perubahan serupa juga dirasakan oleh Haswin (25), dia merupakan warga lokal yang merasakan dampak dari hadirnya PLTU DSSP Power. Buah dari kerja kerasnya, Haswin berhasil membiayai kuliahnya sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya. Tidak tanggung-tanggung dirinya menyelesaikan Sarjana Teknik Mesin di Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) belum lama ini.

“Salah satu pencapaian yang paling saya syukuri adalah dapat membiayai kuliah S1 secara mandiri menggunakan penghasilan dari bekerja di PLTU DSSP Power Kendari. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kerja keras dan kedisiplinan dapat membantu kita mencapai cita-cita,” kata Haswin, Kamis (22/10).

Sebelumnya, anak ketiga dari enam bersaudara ini bercerita bahwa dia hanyalah remaja lulusan SMA yang jauh dari dunia PLTU yang kini perlahan mengubah nasibnya. Setelah lulus SMA, dia hanya bekerja sebagai kuli bangunan untuk membantu ayahnya.

Rutinitas Haswin, JOP Boiler yang sedang mengecek kondisi turbin pembangkit di PLTU DSSP Power Kendari. Foto: Istimewa (26/10/2026).

“Sebelum bekerja di PLTU DSSP Power Kendari, saya membantu orang tua bekerja di bidang bangunan,” terangnya.

Kini, Haswin mengemban tugas sebagai JOP Boiler di PT DSSP Power Kendari. Posisinya itu sekaligus menjadi batu loncatan bagi peningkatan keahliannya. Beberapa pelatihan telah dia ikuti mulai dari K3 hingga kualifikasi khusus untuk seorang JOP Boiler.

“Saya telah mengikuti pelatihan K3 Boiler dan pelatihan keandalan listrik. Pelatihan tersebut membantu meningkatkan pemahaman saya tentang keselamatan kerja, pengoperasian peralatan, dan pentingnya menjaga keandalan sistem pembangkit,” ujarnya.

Tugasnya juga cukup vital, ia harus memantau parameter operasi boiler dan memastikan peralatan yang menjadi tanggung jawabnya beroperasi dalam kondisi normal. Rutinitas itu meliputi pemeriksaan peralatan secara berkala, pemantauan parameter, pencatatan hasil inspeksi, serta pelaporan apabila ditemukan kondisi abnormal.

Bagi Haswin, bekerja di sektor energi merupakan kebanggaan sekaligus kesempatan untuk bisa mengembangkan diri dan berkontribusi kepada daerah. Dia juga ingin membuktikan bahwa anak muda lokal memiliki potensi untuk bekerja di industri yang membutuhkan keterampilan teknis dan tanggung jawab tinggi.

“Saya berharap makin banyak generasi muda di sekitar Desa Tanjung Tiram yang mendapatkan motivasi untuk meningkatkan pendidikan dan kompetensinya,” harapnya.

Di sisi lain, Subhan (19) datang dengan kisah yang cukup pilu. Bekerja di perusahaan tersebut seperti menjadi penyambung napasnya. Bagaimana tidak, remaja yang tidak menyelesaikan pendidikan SMK itu kini bisa membiayai dirinya sendiri.

“Saya sekarang tinggal sendiri di rumah peninggalan ibu di Desa Tanjung Tiram. Ibu saya meninggal pada 2024. Sejak saya masih kecil, ayah dan ibu sudah berpisah. Saya anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertama sudah ikut suaminya, sedangkan kakak kedua sedang bekerja di luar kota. Sekarang saya menjalani kehidupan sehari-hari sendiri di rumah peninggalan ibu,” beber Subhan, Jumat (23/10).

Sebelum bekerja di divisi yang sama dengan Risal, Subhan hanyalah seorang buruh muat batu gamping di Kecamatan Moramo. Dia bercerita bahwa penghasilannya tidak menentu. Karena itu, dia berusaha mencari pekerjaan lain yang bisa memberikan penghasilan lebih teratur.

Subhan, pekerja baru di lingkungan PT DSSP Power Kendari yang sedang mempraktikkan keahlian barunya yakni pengelasan sebagai bagian dari tugasnya di divisi pengolahan FABA. Foto: Istimewa. (23/10/2026).

“Saya mulai bekerja di sini sejak 8 Desember 2025. Awalnya, saya mendapat informasi dari tetangga dan teman-teman tentang kegiatan pemanfaatan limbah FABA, jadi saya tertarik daftar,” ungkapnya.

Dalam pekerjaan sehari-hari, Subhan berperan sebagai pembantu Risal pada divisi pengolahan FABA. Tugasnya adalah menyiapkan bahan baku FABA, mencampur dan mengaduknya sesuai takaran, memasukkan adonan ke cetakan, kemudian membantu proses pengeringan dan pemeriksaan kualitas.

“Kami harus teliti saat bekerja karena kalau adonan tidak sesuai atau proses pengeringannya kurang tepat, hasil cetakan bisa retak atau rusak,” tambahnya.

Subhan mengaku, pekerjaan itu memberikan perubahan signifikan bagi kehidupannya. Penghasilan yang dia dapat lebih teratur dibandingkan pekerjaan sebelumnya. Dia kini bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan lebih tenang dan mulai menyisihkan sedikit uang untuk ditabung.

“Saya juga merasa bangga karena pekerjaan ini bukan hanya tentang mendapatkan uang, tetapi juga tentang memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang berguna,” tegasnya.

Government Manager PT DSSP Power Kendari, Risal Akbar, mengatakan perusahaan memiliki kebijakan rekrutmen tenaga kerja lokal hingga 60 persen. Saat ini perusahaan tersebut memiliki 111 orang pekerja lokal yang tersebar dari beberapa desa di sekitar perusahaan.

“Rata-rata usia pekerja lokal kami adalah 25 – 52 tahun dengan spesifikasi pendidikan mulai dari SMA hingga S2. Perusahaan kami juga menjalankan Engineering Development Program (EDP) dan Pendidikan Tenaga Pembangkit Listrik (PTPL) untuk meningkatkan kompetensi serta kesiapan kerja masyarakat setempat,” kata Risal, Rabu (21/10).

Landmark PT DSSP Power Kendari. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (15/10/2026).

Risal menjelaskan, PT DSSP Power Kendari merupakan perusahaan pembangkit listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) yang didirikan pada 21 Januari 2015. Pembangunan perusahaan yang juga dikenal dengan nama PLTU Kendari-3 dimulai pada September 2016 dan pembangkit tersebut mulai beroperasi secara komersial pada 28 Oktober 2019.

PLTU Kendari-3 memiliki kapasitas terpasang 100 megawatt (MW), yang berasal dari dua unit pembangkit berkapasitas masing-masing 50 MW. Listrik yang dihasilkan disalurkan ke jaringan PLN dan terhubung dengan sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel).

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: