Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Fokus Pemerataan Layanan Gizi, Dapur SPPG Tetap Dibangun di Daerah Sultra dengan Murid Terbatas

Fokus Pemerataan Layanan Gizi, Dapur SPPG Tetap Dibangun di Daerah Sultra dengan Murid Terbatas
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MT. Haryono, Maharanny Puspaningrum. Foto: Istimewa. (20/3/2025).

Sulawesi Tenggara – Pemerintah menempatkan pemerataan layanan pemenuhan gizi sebagai prioritas utama di Sulawesi Tenggara (Sultra), termasuk pada wilayah dengan jumlah penerima manfaat yang relatif kecil. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menyiapkan ratusan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan terpencil, terluar, dan terdepan.

Di Sultra, sebanyak 140 unit SPPG tengah disiapkan khusus untuk wilayah 3T yang tersebar di 15 kabupaten, yakni Kolaka Timur, Kolaka, Kolaka Utara, Muna, Muna Barat, Buton, Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, Wakatobi, Konawe, Konawe Kepulauan, Konawe Utara, Konawe Selatan, dan Bombana.

Wakil Kepala SPPG Regional Sultra, Maharanny Puspaningrum, menjelaskan bahwa seluruh unit tersebut masih berada dalam tahap pembangunan. Proses pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan target sebagian unit mulai beroperasi pada Desember 2025, sementara unit lainnya menyusul pada Januari 2026.

“Total ada 140 SPPG untuk wilayah 3T di Sultra dan saat ini semuanya masih dalam proses pembangunan,” ujar Maharanny, Senin (15/12/2025).

Menurutnya, penetapan wilayah 3T tidak semata-mata didasarkan pada jumlah penerima manfaat, tetapi juga mempertimbangkan tantangan geografis, keterbatasan akses transportasi, serta jarak tempuh distribusi layanan. Di sejumlah lokasi, jumlah siswa penerima manfaat bahkan berada di bawah 1.000 orang.

Meski demikian, keberadaan dapur SPPG tetap menjadi kewajiban. Maharanny menegaskan bahwa standar pelayanan tetap diberlakukan, sekali pun jumlah siswa di suatu wilayah hanya sekitar 100 orang.

Baca Juga:  Kepala BKSDA Sultra Jelaskan soal Rehabilitasi DAS Suaka Margasatwa Butur

“Walaupun siswanya sedikit, dapur SPPG tetap dibangun. Penyesuaian dilakukan pada skala layanan dan jarak distribusi, dengan ketentuan maksimal 30 menit dari dapur ke penerima manfaat,” jelasnya.

Selain wilayah 3T, terdapat pula kategori SPPG aglomerasi yang umumnya berada di kawasan perkotaan atau daerah dengan akses lebih mudah. Wilayah ini memiliki jumlah penerima manfaat di atas 1.000 orang dan cakupan distribusi yang lebih luas.

Kendati berbeda kategori wilayah, Maharanny menekankan bahwa sistem pelayanan SPPG tetap seragam. Setiap unit memiliki struktur organisasi yang sama, mulai dari kepala SPPG, tenaga ahli gizi, akuntan, hingga petugas operasional.

Pembangunan SPPG di wilayah 3T telah dimulai sejak November 2025. Namun hingga kini belum ada unit yang beroperasi penuh, terutama akibat tantangan medan dan keterbatasan akses distribusi bahan baku.

“Seluruhnya masih dalam tahap pengerjaan. Tantangan utamanya memang kondisi geografis, tetapi progres pembangunan tetap berjalan,” pungkas Maharanny.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten