Olahan Bakso MBG yang Dikonsumsi Puluhan Siswa SMAN 20 Konawe Positif Mengandung Bakteri E-Coli

Konawe – Olahan bakso dalam program makan bergizi gratis (MBG) yang dikonsumsi puluhan siswa SMAN 20 Konawe ditemukan positif mengandung bakteri Escherichia coli (E-coli). Bakteri tersebut ditemukan dalam sampel kuah dan pentol bakso yang telah berada di sekolah.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala Dinkes Konawe, Yones. Ia mengatakan bakteri itu muncul saat makanan sudah tiba di sekolah.
“Dua sampel makanan yang diuji, satu dari dapur SPPG Tongauna-Asao dan satu dari sekolah. Hasilnya, sampel makanan dari dapur SPPG Tongauna-Asao nol bakteri. Sedangkan sampel makanan dari sekolah ditemukan 3.500 bakteri coliform dan 150 E-coli pada kuah bakso,” kata Yones pada Jumat (25/9/2026).
Pemeriksaan dilakukan terhadap dua sampel makanan yang disajikan pada Kamis (24/9). Satu sampel diambil dari dapur SPPG Tongauna-Asao, sedangkan sampel lainnya berasal dari makanan yang telah berada di SMAN 20 Konawe.
Selain kuah bakso, pemeriksaan terhadap pentol bakso juga menemukan 3.000 bakteri coliform dan 140 bakteri E-coli. Menurut Yones, temuan bakteri tersebut menunjukkan adanya kontaminasi pada makanan yang dikonsumsi siswa.
“Penyebabnya dari kuah dan pentol bakso yang sudah terkontaminasi bakteri,” ujar Yones.
Dinkes Konawe masih menyoroti proses distribusi dan penyimpanan makanan sebelum dikonsumsi siswa. Sebab, sampel makanan yang diambil langsung dari dapur SPPG Tongauna-Asao dinyatakan tidak mengandung bakteri.
“Mungkin makanan ini terpapar saat diantar. Karena di sekolah ada ruangan tempat makanan ini disimpan, mungkin saja terpapar sinar matahari, kelembaban ruangan atau sudah lewat waktu konsumsinya,” jelasnya.
Yones juga menyebut wadah makanan yang diantar ke sekolah tidak dilengkapi label yang mencantumkan batas waktu konsumsi. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian dalam proses penyimpanan dan distribusi makanan.
“Karena siswa kita di SMP, SD bahkan balita tidak mengalami gejala yang terjadi di SMA,” katanya.
Dinkes Konawe meminta seluruh SPPG di wilayah tersebut memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP), mulai dari pengolahan, pengemasan, pengantaran hingga penyimpanan makanan sebelum dikonsumsi.
“Kita tidak inginkan hal seperti ini terulang. Oleh karena itu saya meminta agar pihak SPPG maupun BGN agar SOP benar-benar dilaksanakan. Apa pun hasilnya, pihak SPPG harus bertanggung jawab dan ini menjadi evaluasi bagi pihak SPPG beserta seluruh jajaran di dalamnya,” ungkap Yones.
Simpang Siur Jumlah Korban Dugaan Keracunan MBG SMAN 20 Konawe





