Ratusan Masyarakat Hakatutobu Kolaka Gelar Aksi di PT AMI, Tuntut Pemberdayaan Tenaga Kerja Lokal

Kolaka – Ratusan massa yang tergabung dari masyarakat Desa Hakatutobu, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor PT Akar Mas Internasional (AMI), Rabu (26/7/2023) sekira pukul 10.00 Wita.
Asep Solihin selaku koordinator lapangan (korlap) aksi demonstrasi tersebut mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk protes pihaknya terhadap perusahaan yang dinilai tidak mengutamakan tenaga kerja lokal khususnya di Desa Hakatutobu.
“Terkait tenaga kerja di PT AMI, kalau untuk yang kasarnya melibatkan masyarakat Hakatutobu, tapi itu hanya sebagian kecil saja. Tidak representatif lah, tidak mewakili, kan ada beberapa orang yang dipekerjakan, justru terkesan itu-itu saja,” ungkapnya.

Selain itu, Asep mengungkapkan kekhawatirannya terhadap lingkungan di Desa Hakatutobu yang dinilai rusak akibat aktivitas pertambangan tanpa melakukan upaya-upaya pencegahan kerusakan lingkungan dari pihak perusahaan.
“Kita menyuarakan tentang isu lingkungan, karena tidak ada pengendalian dari perusahaan sendiri terkait limbah. Terus reklamasi juga di atas pasca-tambangnya. Saya pikir karena sudah sekian lama,” kata Asep.
Selanjutnya, ia juga berharap pelaku usaha bongkar muat yang domisili perusahaannya berasal dari Desa Hakatutobu dapat dilibatkan dalam proses bongkar muat di PT AMI.
“Sejauh ini, perusahaan bongkar muat yang pelaku usahanya berasal dari Hakatutobu sendiri tidak dilibatkan dalam proses pertambangan di PT AMI. Sehingga ke depannya para pelaku usaha bongkar muat dari desa kami juga dapat diberdayakan,” jelasnya.
Namun, ia menyayangkan pada aksi demonstrasi yang digelar siang tadi, pihaknya tidak bertemu langsung dengan pimpinan PT AMI tersebut.
“Kami tidak bertemu dengan pimpinan PT AMI, tetapi kami beri waktu 3 hari kepada pimpinan perusahaan tersebut untuk bertemu masyarakat,” ungkapnya.
Menanggapi beberapa tuntutan warga tersebut, Pjs. Kepala Teknik dan Tambang (KTT) PT AMI, Zulfahmi mengatakan bahwa terkait perekrutan tenaga kerja, pihaknya siap menerima tenaga kerja lokal yang sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.
“Terkait tenaga kerja, kalau engineer-engineer kita tidak bisa sembarang merekrut. Kalaupun ada di desa yang punya skill, tentu bisa saja, yang penting selama itu mereka melamar. Karena kami kan tidak tahu apakah di desa ada yang memiliki skill yang kita butuhkan,” jelas Zulfahmi.
Selain itu, terkait dengan masalah lingkungan, karena cukup banyaknya lumpur yang mengalir ke laut, ia menyebut, sebelumnya pihak perusahaan telah melakukan antisipasi salah satunya dengan penanaman mangrove di desa yang berada di dekat perusahaan.
“Sebenarnya kita telah melakukan beberapa antisipasi, salah satunya dengan penanaman mangrove di area tersebut. Tetapi ini menjadi masukan bagi kami untuk melakukan pembenahan secepat-cepatnya,” lanjutnya.
Kemudian, terkait dengan tuntutan warga soal Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM), pihaknya juga mengakui telah melaksanakannya dengan baik. Namun, pihaknya akan kembali berdiskusi terkait hal tersebut.
“Terkait CSR dan PPM ini, kita juga melakukannya. Namun, mungkin menurut sebagian masyarakat belum cukup untuk mereka. Sehingga perlu kami duduk bersama lagi untuk membicarakan hal itu, apakah akan ada penambahan nilai bantuan ke masyarakat dalam bentuk program atau seperti apa,” terangnya.
Karena tidak adanya pihak direksi perusahaan saat aksi demonstrasi yang digelar hari ini, Zulfahmi berjanji akan kembali bertemu dengan masyarakat dan manajemen perusahaan pada hari Jumat (28/7) mendatang.
“Hari Jumat itu kesepakatan kita akan ada pertemuan lagi untuk membahas ini,” pungkasnya.





