Sidak Blok Hunian, Lapas Kendari Pastikan Tidak Ada Kamar Istimewa bagi Warga Binaan

Kendari – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), memastikan tidak ada kamar atau fasilitas istimewa bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Hal itu disampaikan Kepala Lapas Kelas IIA Kendari, Mukhtar, setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan blok hunian untuk mengecek kondisi kamar dan memastikan seluruh warga binaan mendapat perlakuan yang sama.
“Kami telah melakukan pengecekan langsung bersama jajaran pejabat dan staf ke satu per satu kamar. Saya pastikan tidak ada kamar-kamar istimewa di dalam, semuanya sama,” kata Mukhtar saat ditemui di Lapas Kendari, Kamis (1/10/2026).
Mukhtar mengatakan pengecekan tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada diskriminasi dalam pemberian fasilitas maupun pelayanan kepada WBP. Menurutnya, seluruh penghuni Lapas Kendari harus mengikuti aturan yang sama.
“Baik itu narapidana kasus tindak pidana korupsi, narkoba, maupun pidana umum, semuanya diperlakukan sama dan tidak ada yang diistimewakan. Kami terapkan aturan yang tegas untuk seluruh warga binaan,” ujarnya.
Di sisi lain, Mukhtar mengungkapkan kondisi hunian di Lapas Kelas IIA Kendari saat ini mengalami kelebihan kapasitas atau overcrowding. Lapas tersebut memiliki kapasitas ideal 378 orang, namun kini dihuni sebanyak 918 WBP.
“Satu kamar itu berhimpitan karena jumlah penghuni cukup banyak. Tentu ini menjadi PR buat kami bagaimana mengatur supaya warga binaan di setiap kamar bisa terbagi seimbang dan tetap nyaman,” sebutnya.
Selain kondisi blok hunian, Mukhtar turut menyoroti kondisi rumah dinas pegawai. Sebanyak 15 unit rumah dinas yang dibangun sejak 1999 itu kini membutuhkan renovasi secara menyeluruh.
Namun, keterbatasan anggaran pemeliharaan membuat pegawai yang menempati rumah dinas tersebut harus melakukan perbaikan secara mandiri terhadap bagian bangunan yang mengalami kerusakan.
“Untuk sementara hari ini belum ada anggaran rehabilitasi rumah dinas dari pusat. Pegawai yang menempati biasanya secara mandiri memperbaiki bagian bangunan yang rusak agar tetap bisa ditempati bersama keluarga,” pungkasnya.





