3 Mahasiswa Asing UM Kendari Raih Juara Utama Lomba Pidato Bahasa Indonesia
Kendari – Tiga mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari meraih juara 1, 2, dan 3 dalam Lomba Pidato Bahasa Indonesia yang digelar Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2026.
Ketiga mahasiswa itu Barako Galgallo asal Kenya yang meraih juara 1, Jamatia Bancon Interino asal Filipina meraih juara 2, dan Foterany Emmanuel Benefice asal Madagaskar meraih juara 3.
Pengumuman juara diumumkan pada puncak kegiatan Bulan Bahasa Sultra, Senin (26/10/2026). Sebelumnya, Lomba Pidato Bahasa Indonesia berlangsung di Hall Kandai, Balai Bahasa Sultra, pada 22 Oktober 2026 dengan melibatkan 15 mahasiswa asing dari dua perguruan tinggi.
Sebanyak 11 peserta berasal dari UM Kendari, sedangkan empat lainnya merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari. Mereka berpidato dengan mengangkat tema “Indonesia Bermartabat, Indonesia Berdaulat”.
Selain tiga mahasiswa UM Kendari yang meraih juara utama, mahasiswa UIN Kendari Muhammad Uzair asal Pakistan meraih juara harapan pertama.
Kepala Balai Bahasa Sultra, Dewi Pridayanti, mengatakan lomba pidato bagi mahasiswa asing menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kecintaan terhadap bahasa Indonesia sekaligus memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat internasional.
Menurut Dewi, penguatan bahasa Indonesia perlu berjalan beriringan dengan pelestarian bahasa daerah dan penguasaan bahasa asing.
“Bahasa Indonesia menyatukan kita, bahasa daerah menjaga akal dan identitas kita, sedangkan bahasa asing membuka jalan untuk menjangkau dunia yang lebih luas,” kata Dewi, Senin (26/10).
Ia menjelaskan, rangkaian peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2026 di Sultra telah dimulai sejak 1 Oktober 2026. Selain lomba pidato bagi mahasiswa asing, kegiatan tersebut mencakup lomba pembacaan puisi untuk guru dan Festival Tunas Bahasa Ibu.
Balai Bahasa Sultra juga meluncurkan sejumlah produk, termasuk hasil kolaborasi dengan mitra, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan bahasa dan sastra di daerah. Dewi berharap program tersebut tidak sebatas kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
