Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
5 th Anniversary Kendariinfo dengan tema "Passionate For Us".
5 th Anniversary Kendariinfo dengan tema "Passionate For Us".
Crime

Korban Penganiayaan Kadis Bapenda Cabut Laporan, Ini Alasannya

Korban Penganiayaan Kadis Bapenda Cabut Laporan, Ini Alasannya
Dewan Pembina GPMI, Alfin Pola yang merupakan korban penganiayaan Kadis Bapenda Sultra, Yusuf Mundu. Foto: Ferito Julyad/Kendariinfo. (13/11/2021).

Kendari – Alfin Pola, korban penganiayaan Kepala Dinas (Kadis) Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulawesi Tenggara (Sultra), Yusuf Mundu, secara resmi mencabut laporannya di Polsek Poasia, Sabtu (13/11/2021). 

ADVERTISEMENT

Alfin mencabut laporan tersebut karena menganggap Yusuf sudah seperti orang tuanya. Dia menyebut, saling memaafkan merupakan hal yang baik. 

“Saya pikir Yusuf Mundu merupakan seorang tokoh, dan sudah saya anggap sebagai orang tua. Saya rasa itu saja, tidak ada yang lain. Memaafkan itu jauh lebih baik” katanya.

Kapolsek Poasia, AKP Muhammad Salam.
Kapolsek Poasia, AKP Muhammad Salam. Foto: Ferito Julyadi/Kendariinfo. (13/11/2021).

Kapolsek Poasia, AKP Muhammad Salam mengungkapkan, kasus penganiayaan Yusuf terhadap Alfin berakhir damai. Kesepakatan itu diambil setelah pelaku dan korban dipertemukan di Polsek Poasia. 

Menurut Salam, penyelesaian kasus tersebut melalui proses Alternative Dispute Resolution (ADR). ADR merupakan konsep penyelesaian konflik di luar pengadilan secara kooperatif yang diarahkan pada suatu kesepakatan yang bersifat menang-menang (win-win).

“Pelapor dan tersangka sepakat menyelesaikan masalah ini dengan kekeluargaan. Kita akan selesaikan kasus ini melalui proses ADR,” ungkapnya.

Salam menegaskan, pertemuan keduanya untuk memastikan bahwa keinginan berdamai mereka bukan karena adanya intervensi dari pihak lain. Dia menyebut, Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3) juga akan dikeluarkan dalam waktu dekat.

“Jelasnya, pihak terlapor datang ke sini menyampaikan kepada kami bahwa kasus yang pernah dilaporkan itu sepakat untuk diselesaikan secara kekeluargaan dan kami memastikan bahwa tidak ada intervensi. Semata-mata kedua pihak sepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaan,” tegasnya.

Baca Juga:  Vaksinasi Serentak di 17 Kabupaten/Kota se-Sultra, BIN Sultra Target 5.500 Orang

Sementara itu, Yusuf saat ditanya kesepakatan dengan pihak korban, dirinya tidak berkomentar banyak. Yusuf hanya menyampaikan, dia siap mengikuti prosedur yang ada.

Kadis Bapenda Sultra, Yusuf Mundu usai menjalani pemeriksaan.
Kadis Bapenda Sultra, Yusuf Mundu usai menjalani pemeriksaan. Foto: Ferito Julyadi/Kendariinfo. (13/11/2021).

“Nanti tanya penyidik, saya tidak bisa memberikan informasi. Saya akan ikuti prosedurnya,” singkatnya.

Kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan Yusuf terjadi pada Rabu (6/10/2021) lalu. Penganiayaan itu bermula saat GPMI Sultra melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Bapenda Sultra. Mereka mempertanyakan hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas penggunaan anggaran Bapenda Sultra tahun 2020.

Tidak lama kemudian, korban bersama tiga rekannya dipersilakan masuk untuk bertemu Yusuf. Di dalam ruangan, keduanya adu argumen. Saat itu, Alfin ditunjuk-tunjuk dan rahangnya diremas oleh Yusuf hingga mengenai bagian wajahnya. Akibatnya bibir bagian dalam korban luka. Atas kejadian itu, Alfin melapor ke Polsek Poasia dengan tuntutan tindak penganiayaan.

Dalam kasus dugaan penganiayaan itu, tujuh orang saksi diperiksa, yaitu tiga dari pihak korban, terlapor dan dua orang stafnya, serta satu keterangan saksi ahli seorang dokter.

Tetap terhubung dengan kami:
5th Anniversary Kendariinfo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten