Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Ngusaba, Upacara Adat Masyarakat Bali di Baubau saat Padi Mulai Menguning

Ngusaba, Upacara Adat Masyarakat Bali di Baubau saat Padi Mulai Menguning
Petani masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah menjemur padi usai dipanen yang lebih dulu dimulai dengan tradisi Ngusaba atau Ngusabe. Foto: Kendariinfo. (29/10/2022)

Baubau – Masyarakat Bali di Desa Karingkaring, Kecamatan Bungi, Kota Baubau memiliki tradisi atau upacara adat yang masih dipertahankan sejak dulu hingga kini. Tradisi itu diberi nama Ngusaba atau Ngusabe. Ngusaba sendiri merupakan upacara selamatan desa atau Subak saat padi para petani mulai menguning. 

Menurut Ketua Subak Bali Sari, Nyoman Sukadana tradisi ini sebuah bentuk kesyukuran bagi masyarakat Bali di Desa Karingkaring dalam menyambut musim panen padi. Tradisi Ngusaba ternyata sudah ada sejak nenek moyang masyarakat Bali. Para tokoh adat akan melakukan Ngusaba saat padi-padi para petani mulai menguning.

Seyogyanya masyarakat Bali akan membuat syukuran desa atas keberhasilan padi yang ditanam memasuki masa panen.

Tokoh adat dan masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah memanjatkan doa dan sembahyang bersama dalam tradisi Ngusaba atau Ngusabe.
Tokoh adat dan masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah memanjatkan doa dan sembahyang bersama dalam tradisi Ngusaba atau Ngusabe. Foto: Kendariinfo. (27/10/2022).

“Ngusaba ini adalah pesta adat menjelang panen disertai dengan syukuran bersama masyarakat petani. Tradisi ini kami lakukan sejak turun-temurun apabila padi-padi para petani sudah mulai menguning,” kata Nyoman ditemui Kendariinfo, pada Kamis (27/10/2022).

Nyoman menuturkan untuk wilayah Desa Karingkaring ini dominan merupakan masyarakat Bali yang melakukan transmigrasi dari Pulau Bali. Mereka menempati wilayah tersebut dan mulai mengolah tanah untuk dijadikan sawah pertanian. Sehingga masyarakat di Karingkaring ini dominan para petani sawah.

“Masyarakat di Desa Karingkaring ini sebagian besar merupakan petani terutama petani padi persawahan. Beberapa orang juga ada yang bergelut di bidang usaha, tapi kalau dihitung lebih banyak petani salah satu yang terbanyak petani padi,” bebernya.

Tradisi ini akan dimulai dengan mempersiapkan tempat sembahyang masyarakat Bali di Pura Subak Bali Sari yang terletak di Jalan Anoa, Desa Karingkaring di sore hari. Kemudian, masyarakat akan datang membawa sesajen berupa makan-makanan tradisional yang terbuat dari olahan jadi beras.

Selain itu, pengurus Pura Subak Bali Sari juga turut menyediakan makanan-makanan tradisional tersebut. Sesajen yang telah disediakan itu akan didoakan oleh masyarakat dan tokoh adat atau pemangku agama Bali. Setelah didoakan, makanan akan diambil kembali keesokan harinya dan disantap di rumah masing-masing.

Tokoh adat dan masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah memanjatkan doa dan sembahyang bersama dalam tradisi Ngusaba atau Ngusabe.
Tokoh adat dan masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah memanjatkan doa dan sembahyang bersama dalam tradisi Ngusaba atau Ngusabe. Foto: Kendariinfo. (27/10/2022).

“Rangkaian kegiatannya itu para petani datang membawa makanan kue-kue yang terbuat dari padi untuk didoakan bersama di sini. Kami juga menyediakan makanan tersebut. Setelah didoakan, makanan-makanan tadi ini akan diambil besok pagi oleh pemiliknya dan di makan di rumah,” ungkap dia.

Baca Juga:  Gorana Oputa, Ritual Maulid Kesultanan Buton yang Bertahan hingga Kini

Saat menunggu puncak dari tradisi ini, saat beranjak malam, alunan alat musik tradisional khas Bali mulai dari penting hingga gamelan akan dimainkan sambil menunggu seluruh masyarakat Bali yang memiliki hajat untuk berkumpul di Pura dalam rangka memanjatkan doa bersama.

Nyoman menjelaskan puncak dari tradisi ini adalah doa bersama saat tengah malam. Pemuka agama akan memimpin doa bersama masyarakat Bali. Kemudian akan melakukan sembahyang di dalam pura tersebut. Tradisi dilaksanakan selain untuk selamatan atas hasil tanaman padi yang siap panen dengan baik, juga sebagai upaya meminta doa agar panen ke depan bisa lebih baik lagi dari hasil saat ini.

“Puncaknya itu jam 11 malam, nanti pemuka agama akan memimpin memanjatkan doa lalu sembahyang bersama di dalam pura ini. Yang intinya kami memanjatkan doa agar ke depan panen padi petani di sini bisa lebih baik lagi,” tuturnya.

Nyoman memastikan seluruh masyarakat Bali yang menetap di Karingkaring merupakan warga transmigrasi dari Pulau Bali puluhan tahun yang lalu. Namun karena Tradisi Ngusaba ini sudah mendarah daging, maka di mana pun masyarakat Bali berada akan dilaksanakan tradisi ini.

“Tradisi ini sudah dari nenek moyang kami di Bali sana dan kami bawa ke sini. Jadi walaupun kami transmigrasi ke sini, kami tetap mempertahankan tradisi turun temurun ini agar terus dikenal kelak,” bebernya.

Tidak ada waktu pasti kapan Tradisi Ngusaba ini akan diselenggarakan. Nyoman mengungkapkan tanda tradisi ini akan dilakukan saat para tokoh adat yang juga merupakan petani di tempat itu mendapati padi mulai menguning. Ia menuturkan masa panen padi biasa dilakukan sekali dalam tempo enam bulan. Saat itulah tradisi tersebut akan dilakukan.

Petani masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah menjemur padi usai dipanen yang lebih dulu dimulai dengan tradisi Ngusaba atau Ngusabe.
Petani masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah menjemur padi usai dipanen yang lebih dulu dimulai dengan tradisi Ngusaba atau Ngusabe. Foto: Kendariinfo. (29/10/2022)

Namun, terkadang dalam setahun masa panen bisa mencapai tiga kali. Ketika hal itu terjadi, maka Tradisi Ngusaba akan dilakukan sebanyak tiga kali dalam setahun.

“Tradisi ini bisa kita lakukan kapan saja, asalkan padi sudah mulai menguning rata-rata 6 bulan sekali. Tapi kalau masa panennya 3 kali dalam setahun ya bisa 3 kali kami melaksanakan upacara adat ini,” ujarnya.

Nyoman menuturkan dalam melangsungkan tradisi tersebut, masyarakat Bali Karingkaring akan memberlakukan iuran wajib para petani. Iuran yang dikenakan akan mengikuti jumlah tanah area persawahan. Setiap hektarenya, para pemangku adat akan memberlakukan Rp100 ribu per hektarenya. Jika para petani memiliki tanah persawahan yang luas hingga berhektare-hektare, maka akan dihitung jumlahnya dengan dikalikan Rp100 ribu.

Baca Juga:  5.066 Tenaga Non ASN di Sultra Bakal Didaftarkan Jamsostek

Ketika satu petani memiliki tiga hektar sawa, maka para pemangku adat masyarakat Bali akan menarifkan iuran berjumlah Rp300 ribu, begitu pula seterusnya.

“Kalau sumber dananya kegiatan ini berasal dari iuran-iuran para petani. Setiap satu hektare iurannya Rp100 ribu. Jadi iurannya hitungan jumlah hektare sawah milik para petani, kalau dia punya dua hektare ya bayarnya Rp200 ribu, kalau tiga hektare ya bayarnya Rp300 ribu,” ujar dia.

Salah seorang masyarakat Bali, Tetawe mengungkapkan seluruh masyarakat Bali di Karingkaring akan turut serta dalam upacara adat tersebut. Di masyarakat Bali sendiri, kata Tetawe, banyak ritual adat yang harus dilakukan seperti Ngusaba tersebut. Hal itu dilakukan mengikuti tradisi turun-temurun warga adat Bali.

Tokoh adat dan masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah memanjatkan doa dan sembahyang bersama dalam tradisi Ngusaba atau Ngusabe.
Tokoh adat dan masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah memanjatkan doa dan sembahyang bersama dalam tradisi Ngusaba atau Ngusabe. Foto: Kendariinfo. (27/10/2022).

Tetawe sendiri merupakan seorang petani padi di Desa Karingkaring. Biasanya tradisi itu akan dilakukan saat hari ke-120 masa tanam padi. Saat itu, padi sudah mulai menguning dan siap untuk dipanen. Sedangkan tradisi yang baru saja dilaksanakan sebagai wujud meminta izin kepada pemilik semesta alam.

“Tradisi itu memang dilakukan sebelum panen. Sudah begitu, kalau sudah 120 hari akan dilaksanakan. Jadi diupacarakan dulu baru dimulai panen. Itu semacam izin kalau mau panen. Memang kalau masyarakat Bali itu tradisinya banyak salah satunya upacara adat tadi malam. Izin panen, minta air dan segala macam,” bebernya.

Seperti diketahui, Karingkaring menjadi salah satu lahan pertanian padi dalam menunjang produksi beras di Kota Baubau dan sekitarnya. Di tahun 2021 lalu, Pemerintah Kota Baubau meluncurkan penggunaan beras lokal Karingkaring bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). 

Saat itu, A.S. Thamrin (Alm) menjabat Wali Kota, instruksi penggunaan beras Karingkaring sebagai bentuk pemasaran hasil panen yang merupakan salah satu indikator peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Maka dari itu, dengan adanya peluncuran tersebut, dapat memberikan peningkatan kesejahteraan petani lokal.

Wilayah persawahan masyarakat Bali Karingkaring sendiri membentang luas di sisi jalan poros. Tempat itu pula kerap menjadi salah satu tempat favorit para pengendara jalan raya untuk beristirahat saat kelelahan karena memiliki pemandangan yang cantik dan ada beberapa rumah-rumah persawahan para petani untuk dijadikan tempat berteduh.

Petani masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah menjemur padi usai dipanen yang lebih dulu dimulai dengan tradisi Ngusaba atau Ngusabe.
Petani masyarakat Subak Bali Sari Karingkaring tengah menjemur padi usai dipanen yang lebih dulu dimulai dengan tradisi Ngusaba atau Ngusabe. Foto: Kendariinfo. (29/10/2022)
Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten