Momen Haru Pernikahan Tahanan Curanmor di Masjid Polresta Kendari

Kendari – Suasana haru menyelimuti pelaksanaan pernikahan seorang tahanan kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Masjid Baitul Karim Polresta Kendari, Kamis (23/4/2026) pagi. Prosesi sakral yang berlangsung sekitar pukul 09.30 Wita itu difasilitasi langsung oleh jajaran Satreskrim Polresta Kendari.
Tahanan berinisial DE (22), warga Kelurahan Mangga Dua, Kecamatan Kendari, resmi menikahi perempuan pilihannya, MM, di tengah keterbatasan statusnya sebagai tersangka. Momen tersebut berlangsung khidmat dan sederhana, namun penuh emosional, disaksikan kedua keluarga mempelai serta aparat kepolisian.
DE merupakan tersangka dalam kasus curanmor dengan total 31 tempat kejadian perkara (TKP) di wilayah hukum Polresta Kendari. Ia ditahan berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/B/77/II/2026/SPKT/Polres Kendari/Polda Sulawesi Tenggara, terkait peristiwa yang terjadi di Jalan BTN Andounohu Regency, Kelurahan Mokoau, Kecamatan Poasia.
Meski tengah menjalani proses hukum, pihak kepolisian memberikan ruang kemanusiaan bagi DE untuk melangsungkan pernikahan setelah adanya permohonan resmi dari keluarga. Prosesi akad nikah dipimpin oleh penghulu Hamdin, dengan dihadiri keluarga dari kedua belah pihak, personel Satreskrim, Tim Buser 77, serta anggota Sat Samapta.
Tangis haru tampak pecah saat ijab kabul dinyatakan sah. Beberapa anggota keluarga tak kuasa menahan air mata, menyaksikan momen bahagia yang berlangsung di tengah situasi yang tidak biasa.
Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, mengatakan bahwa fasilitas yang disediakan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap hak asasi setiap warga, termasuk tahanan.
“Kami tetap mengedepankan sisi kemanusiaan. Tersangka juga memiliki hak untuk melangsungkan pernikahan selama memenuhi ketentuan yang berlaku. Ini bentuk kepedulian kami agar hak-hak dasar mereka tetap terpenuhi,” ujar AKP Welliwanto Malau, Kamis (23/4).
Ia menegaskan, meski diberikan kesempatan menikah, proses hukum terhadap DE tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku. Prosesi pernikahan tersebut menjadi potret kontras antara penegakan hukum dan nilai-nilai kemanusiaan, yang berpadu dalam satu momen penuh haru di lingkungan Mapolresta Kendari.





