Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Wakatobi Sultra Punya Tradisi Unik Mencari Jodoh Loh, Namanya Kabuenga

Wakatobi Sultra Punya Tradisi Unik Mencari Jodoh Loh, Namanya Kabuenga
Bupati Wakatobi, Haliana bersama Eliati Haliana, Forkopimda, Sekretaris Daerah dan Kepala Perangkat Daerah menghadiri Pagelaran Budaya Kabuenga oleh Garda Pemuda Rajawali Indonesia (GPRI) di Wangiwangi Selatan. Foto: Facebook Bupati Wakatobi. (11/7/2022).

Wakatobi – Zaman modern saat ini, kita dapat mencari jodoh atau pasangan hidup menggunakan aplikasi media sosial dengan mudah dan cepat. Tetapi, pernahkah kita terpikir bagaimana dengan masyarakat kita terdahulu melakukan itu? Bagaimana cara mereka bertemu, berkenalan hingga menjalani hubungan ke arah yang lebih serius ke jenjang pernikahan.

Nah, ada beberapa daerah di Indonesia yang memiliki sebuah tradisi perjodohan yang cukup unik. Tradisi mempertemukan antara pria dan wanita itu mengikuti budaya dan adat istiadat setempat. Tradisi itu diyakini sebagai proses ikhtiar dalam mencari pasangan hidup dengan menyandarkan keyakinan sepenuhnya bahwa urusan jodoh, rezeki dan maut akan kembali kepada Sang Maha Pencipta.

Seperti masyarakat Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) khususnya Kecamatan Wangiwangi yang memiliki cara unik untuk mencari jodoh atau kenalan dengan dilaksanakan oleh masyarakat adat setempat.

Bupati Wakatobi, Haliana bersama Eliati Haliana, Forkopimda, Sekretaris Daerah dan Kepala Perangkat Daerah menghadiri Pagelaran Budaya Kabuenga oleh RGPI di Wangiwangi Selatan.
Bupati Wakatobi, Haliana bersama Eliati Haliana, Forkopimda, Sekretaris Daerah dan Kepala Perangkat Daerah menghadiri Pagelaran Budaya Kabuenga oleh RGPI di Wangiwangi Selatan. Foto: Facebook Bupati Wakatobi. (11/7/2022).

Tradisi mempertemukan antara pria dan wanita itu dinamakan Kabuenga. Kabuenga sendiri dalam bahasa masyarakat adat setempat bermakna ayunan. Para tokoh adat akan membuatkan sebuah ayunan dengan ukuran yang cukup besar dan tinggi, setidaknya dalam ayunan itu bisa duduk dua anak manusia yang hendak berjodoh.

Namun tradisi ini memiliki rangkaian yang cukup panjang dan sakral bagi masyarakat Wangiwangi.

Awal melaksanakan prosesi tradisi ini, para tokoh adat yang dituakan akan mendendangkan syair Kadandio lebih dulu. Syair itu akan diiringi dengan tabuhan gendang yang berirama tenang dan damai. Syair Kadandio memiliki makna tentang petuah dan nasihat bagi para kaum muda-mudi yang sudah menginjak akil balig dalam merangkai bahtera rumah tangga nantinya.

Sebelum melaksanakan tradisi ini, para gadis akan merias diri sesuai keinginan masing-masing dan menggunakan pakaian adat Wakatobi. Mereka akan tampil cantik dan natural sebagai daya tarik pada kaum Adam yang hadir. Kemudian, para gadis akan membawa nampan yang berisi makanan-makan tradisional dengan berbagai jenis. 

Para gadis yang ikut dalam prosesi ini, mendendangkan syair dengan dipimpin oleh tokoh adat setempat sambil memutari altar atau ayunan Kabuenga yang sudah dirias sedemikian rupa. Mereka akan memutari Kabuenga sebanyak tujuh kali dengan prosesi sakral dan bimbingan para tokoh adat yang ditunjuk dalam memimpin tradisi Kabuenga. 

Baca Juga:  Bangga! Pemudi asal Kendari Kenalkan Budaya Tolaki di Turki

Sambil memutari ayunan dan berdendang syair merdu, para gadis akan menawarkan dan memperlihatkan makanan yang tadi dibawa kepada para pria yang sudah berkumpul di sekitar prosesi tradisi itu. Para pria yang datang menyaksikan diharuskan membawa pecahan uang dengan berbagai nominal diperuntukkan membeli makanan yang dibawa para gadis.

Ketika seorang pria tertarik dengan salah satu gadis yang membawa nampan, maka uang yang dibawa para pria tadi akan digunakan untuk membeli makanan tersebut. Ketika ada proses jual beli, maka komunikasi akan terbangun.

Setelah keduanya merasa cocok dan mengikrarkan menempuh bahtera rumah tangga untuk masa depan, maka keduanya akan diantar menuju ayunan Kabuenga tersebut oleh tokoh adat dan diberikan petuah dan nasihat untuk menghadapi biduk rumah ke depan.

Bupati Wakatobi, Haliana bersama Eliati Haliana, Forkopimda, Sekretaris Daerah dan Kepala Perangkat Daerah menghadiri Pagelaran Budaya Kabuenga oleh RGPI di Wangiwangi Selatan.
Bupati Wakatobi, Haliana bersama Eliati Haliana, Forkopimda, Sekretaris Daerah dan Kepala Perangkat Daerah menghadiri Pagelaran Budaya Kabuenga oleh RGPI di Wangiwangi Selatan. Foto: Facebook Bupati Wakatobi. (11/7/2022).

Oh ya, dalam tradisi ini selain para muda-mudi yang belum saling kenal, juga bisa digunakan sebagai sarana bagi mereka yang sudah saling kenal lebih dulu dan serius ke arah jenjang pernikahan. Mereka hanya perlu mengikuti prosesi ini dan mencari pasangannya masing-masing.

Prosesi ini sebagai sebuah simbol penghayatan nilai-nilai sakral ritual yang melambangkan kekuatan jiwa dan kebersamaan masyarakat Wakatobi.

“Tradisi ini sebagai ajang pencarian jodoh para muda-mudi. Kalau sekarang untuk bertemu bisa menggunakan alat komunikasi, tapi dulu untuk saling bertemu itu sangat susah. Jadi para ketua adat menggunakan tradisi Kabuenga sebagai wadah untuk mempertemukan kamu muda-mudi,” kata Andra warga setempat, kepada Kendariinfo, Sabtu (22/10/2022).

Tradisi Kabuenga ini merupakan ritual adat kebanggaan masyarakat Kecamatan Wangiwangi secara turun-temurun yang masih dipertahankan hingga saat ini. Sehingga, tradisi ini sebenarnya hanya berada di Wangiwangi. Kalaupun ada di tempat lain, tradisi itu dilakukan oleh masyarakat Wangiwangi.

“Tradisi Kabuenga ini cuman ada di Wangiwangi dan tidak ada di tempat lain. Kalaupun ada, berarti itu adalah masyarakat Wangiwangi,” ungkapnya.

Tradisi Kabuenga ini seyogianya hanya dilakukan usai perayaan hari-hari besar Islam saja. Para tetua adat memilih perayaan hari Raya Idulfitri sebagai momentum paling tepat menggelar tradisi Kabuenga karena pada hari besar umat Islam itu, masyarakat Wakatobi yang merantau di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri, pulang kampung atau mudik lebaran.

Baca Juga:  Konasara Festival 2022 di Pantai Tanjung Taipa Resmi Dibuka oleh Bupati Ruksamin

Namun saat ini, waktu hanya sebagai simbolis. Pemerintah setempat sudah memasukkan tradisi itu sebagai tradisi yang digelar tahunan sebagai ajang promosi pariwisata di Kabupaten Wakatobi.

“Dulu memang kegiatan ini dilaksanakan usai perayaan hari-hari besar Islam saja seperti Idulfitri. Karena waktu itu merupakan waktu uang pas karena menyambut saudara-saudara kami masyarakat Wangiwangi yang pulang merantau. Tapi, sekarang sudah dilakukan bebas sebagai pendukung penyelenggaraan pariwisata saja,” ungkapnya.

Sementara, Tokoh Adat Wangiwangi Sariono mengungkapkan sampai saat ini tradisi itu masih tetap digunakan oleh masyarakat setempat, baik sebagai ajang mencari jodoh ataupun sebagai upaya melestarikan budaya. Ia mengungkapkan seluruh desa yang ada di Pulau Wangiwangi melaksanakan tradisi itu setiap tahunnya.

Sariono menuturkan semua lapisan masyarakat boleh mengikuti tradisi ini. Mereka yang sudah memiliki pasangan hidup dan ingin melangsungkan pernikahan menggunakan adat Kabuenga dipersilakan. Bahkan, tokoh adat sebagai penyelenggara akan membuatkan tempat khusus bagi mereka.

“Siapa yang mau menikah bisa menggunakan tradisi ini, bahkan dalam tradisi ini ada lokasi khusus untuk mereka yang sudah tunangan. Tradisi untuk mereka yang sudah memiliki pasangan akan berbeda. Alasannya agar tidak dipilih oleh orang lain,” tuturnya.

Dalam proses rangkaiannya akan berbeda karena saat itu si pria dan keluarganya akan membawa sekaligus persyaratan untuk melangsungkan pernikahan yang berbeda dengan para muda-mudi lainnya. Keluarga akan membawa seserahan seperti makanan tradisional, mahar hingga uang tunai sebagai syarat pernikahan. 

Tradisi ini boleh diikuti oleh para gadis hingga janda-janda yang ingin mencari pasangan hidup dalam biduk rumah tangga.

Sariono berharap agar tradisi ini bisa terus dilestarikan dan tidak hilang dimakan waktu. Ia juga meminta agar para penyelenggara untuk selalu meminta petunjuk dengan berkoordinasi bersama tokoh ada setempat jika ingin menggelar kegiatan itu.

“Harapannya agar tetap dilestarikan dan kepada para panitia jika ingin menggelar kegiatan agar tetap meminta petunjuk kepada tokoh adat setempat agar tidak menyimpang tradisinya,” harapnya.

Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten